Industri Logistik Bidik E-Commerce dan Rantai Dingin demi Efisiensi

Industri Logistik Bidik E-Commerce dan Rantai Dingin demi Efisiensi
ILUSTRASI. Ki-ka: Direktur PT Bingshan Makmur Indonesia Jonathan Halim [FOTO: NET].

JAKARTA - Industri logistik Indonesia mulai memperluas jangkauan bisnis ke sejumlah sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan, mulai dari perdagangan elektronik, makanan dan minuman, manufaktur, agribisnis, farmasi sampai rantai dingin.

CEO dan Founder Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menilai, pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan mesti dibaca beriringan dengan perubahan pola permintaan, perkembangan perdagangan, teknologi, serta kebijakan pemerintah. 

Pihaknya menyatakan, perusahaan logistik tidak cukup hanya mengejar peningkatan volume pengiriman. Pelaku usaha perlu memilih sektor pelanggan yang mempunyai prospek pertumbuhan, membutuhkan layanan logistik secara berkelanjutan, dan memiliki ketahanan bisnis.

“Diversifikasi dapat diarahkan ke sektor makanan dan minuman, ritel dan perdagangan elektronik, manufaktur, agribisnis, farmasi, serta rantai dingin,” ujar Setijadi dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).

Pihaknya menerangkan, sektor-sektor tersebut memiliki karakteristik kebutuhan distribusi yang berbeda. Karena itu, perusahaan perlu memperhitungkan ukuran dan pertumbuhan pasar, arus barang, tingkat persaingan, kebutuhan investasi serta kesesuaian dengan jaringan logistik yang telah dimiliki.

“Diversifikasi juga perlu dilakukan secara bertahap. Perusahaan dapat memulai dengan memetakan peluang, menilai kapabilitas, memilih sektor prioritas, mengembangkan solusi, kemudian melakukan uji pasar sebelum memperluas bisnis,” ujar dia.

Pihaknya menilai, strategi tersebut penting supaya ekspansi tidak justru membebani arus kas atau mengganggu layanan utama perusahaan.

Di sisi lain, langkah diversifikasi itu dinilai sanggup memperkuat efisiensi distribusi sekaligus membuka peluang untuk menekan biaya logistik.

“Pada akhirnya, efisiensi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap harga barang yang diterima konsumen,” ungkap dia.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 5,65 persen dan berkontribusi 6,16 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Perdagangan luar negeri juga menunjukkan aktivitas yang cukup kuat.

Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 115,36 miliar dollar AS atau naik 3,02 persen secara tahunan. Adapun impor mencapai 111,33 miliar dollar AS, tumbuh 15,24 persen. Neraca perdagangan Indonesia pada periode tersebut mencatat surplus 4,03 miliar dollar AS.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan pelaku industri logistik mulai mencari sumber pertumbuhan baru dengan memperluas sektor pelanggan.

Chief Sales Officer CJ Logistics Indonesia, Yan Hendry Jauwena, menambahkan diversifikasi mesti diterjemahkan ke dalam model bisnis yang jelas. Perusahaan perlu menentukan proposisi nilai, segmen pelanggan, cakupan layanan, sumber pendapatan, struktur biaya sampai mitra yang dibutuhkan.

“Keberhasilan diversifikasi tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya pasar. Kesiapan operasi juga menjadi penentu,” katanya.

Kesiapan tersebut mencakup sumber daya manusia, proses kerja, teknologi, aset, jaringan distribusi, tata kelola serta standar pelayanan. Seluruh aspek itu mesti disesuaikan dengan karakteristik sektor yang menjadi sasaran ekspansi.

Dari sisi harga barang, efisiensi logistik berpotensi memberikan dampak positif bilamana perusahaan mampu menurunkan biaya transportasi, penyimpanan, penanganan dan distribusi.

Namun, penurunan biaya logistik tidak otomatis langsung membuat harga barang melandai. Besarnya dampak tetap bergantung pada struktur biaya produk, margin pelaku usaha, kondisi permintaan, harga bahan baku serta biaya distribusi pada tiap-tiap wilayah.

Dalam sektor rantai dingin, misalnya, peningkatan efisiensi distribusi dapat membantu menjaga mutu produk sekaligus menekan kerusakan dan pemborosan komoditas yang gampang rusak.

Efeknya dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok dari produsen sampai konsumen. Sementara pada e-commerce, jaringan logistik yang semakin efisien dapat membantu mempercepat pengiriman dan menekan ongkos distribusi, terutama jika volume pengiriman meningkat dan jaringan gudang kian dekat dengan konsumen.

Sekretaris Jenderal DPP ALFI, Trismawan Sanjaya, mengingatkan bahwa ekspansi bisnis turut membawa risiko baru. Risiko tersebut meliputi risiko pasar, kredit pelanggan, investasi, operasional, teknologi, regulasi, keselamatan sampai reputasi.

“Setiap pilihan sektor perlu dilengkapi batas toleransi risiko, skenario, mitigasi, penanggung jawab, dan mekanisme pemantauan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut diperlukan supaya perusahaan dapat mengejar pertumbuhan tanpa mengabaikan kemampuan dalam menyerap potensi kerugian.

Pada akhirnya, faedah terbesar bagi masyarakat bakal terlihat sewaktu efisiensi di sepanjang rantai pasok benar-benar diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih terjangkau, layanan yang lebih cepat, dan ketersediaan barang yang lebih merata.

“Diversifikasi sektor logistik bukan sekadar memperluas pasar bagi perusahaan. Jika dilakukan dengan efisiensi, teknologi, jaringan distribusi dan manajemen risiko yang tepat, strategi tersebut dapat memperkuat rantai pasok dan membuka ruang bagi biaya distribusi yang lebih kompetitif,” tegas dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index