JAKARTA - Kabar duka menyelimuti panggung olahraga global setelah mantan atlet tinju bertalenta, Prichard Colon, mengembuskan napas terakhirnya pada usia 33 tahun.
Prichard Colon yang sempat mengalami trauma cedera otak parah akibat pertarungan di atas ring lebih dari satu dekade lalu tersebut dikonfirmasi telah berpulang oleh sang ayah, Richard Colon, melalui unggahan media sosial pada hari Kamis tanpa merinci penyebab kematiannya.
Dunia tinju internasional langsung merasakan duka mendalam atas kepergian sosok yang lahir di Florida dan membesarkan kariernya di Puerto Rico tersebut.
- Baca Juga Ramalan Zodiak Cancer, 20 September 2026
Kepulangan Prichard Colon memicu simpati luas dari insan olahraga, termasuk ucapan belasungkawa resmi yang disampaikan oleh Presiden Organisasi Tinju Dunia (WBO), Gustavo Olivieri.
"Hari ini, WBO dengan khidmat bergabung dengan keluarganya dan semua orang yang memiliki hak istimewa untuk mengenal, mendukung, dan mencintainya dalam berduka atas kepergiannya," kata Olivieri dikutip dari ABC.
Prichard Colon pun mengakhiri perjuangan panjangnya pascainsiden tragis yang mengubah total arah hidupnya.
Kronologi Pertarungan Tragis di Ring
Petaka yang menimpa sang atlet terjadi pada Oktober 2015 dalam sebuah duel ketat melawan Terrel Williams di Virginia, Amerika Serikat. Laporan media menyebutkan bahwa dalam laga tersebut, Terrel Williams sempat melayangkan pukulan terlarang ke arah belakang kepala yang membuatnya dijatuhi sanksi hukuman oleh wasit.
Hingga akhirnya, terjadi momen diskualifikasi akibat kesalahpahaman sudut tim dalam melepas sarung tangan. Prichard Colon sudah melepas sarung tangan pada ronde kesembilan, berpikir duel telah selesai.
Sesaat setelah pertarungan usai, kondisi fisik Prichard Colon memburuk secara drastis dengan keluhan pusing hebat hingga menderita muntah-muntah sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
Tindakan medis darurat langsung diambil dengan membawa sang atlet ke rumah sakit untuk menjalani pembedahan guna meredakan pendarahan otak, yang berlanjut pada kondisi koma selama tujuh bulan di usianya yang baru menginjak 23 tahun.
Meskipun investigasi dari otoritas Regulasi Profesi dan Pekerjaan Virginia pada 2016 menyimpulkan tidak ada pelanggaran hukum yang dilakukan penyelenggara, tragedi tersebut tetap menjadi catatan kelam dalam sejarah medis olahraga baku hantam.
Perjuangan Panjang dan Mukjizat Pemulihan
Meski sempat dinyatakan berada dalam kondisi vegetatif permanen yang memerlukan pengawasan penuh selama 24 jam, pihak keluarga tidak pernah berhenti memelihara harapan.
Melalui proses rehabilitasi ketat dan ketekunan terapi bertahun-tahun, ia berhasil menunjukkan perkembangan interaksi yang luar biasa melalui ekspresi wajah, respons suara, hingga bantuan perangkat pelacak mata.
"Kehidupan Prichard ditandai dengan keberanian, ketekunan, dan semangat juang yang luar biasa," kata Olivieri.
"Kisah hidupnya melampaui ring tinju dan sangat menyentuh komunitas tinju, yang selalu mendukungnya selama bertahun-tahun dengan rasa hormat, kekaguman, dan harapan."
Kepergian sang mantan petinju kini dikenang oleh WBO dan komunitas olahraga dunia sebagai simbol ketahanan mental yang luar biasa serta wujud nyata ketulusan kasih sayang keluarga yang tak pernah padam.