JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melorot pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Mata uang garuda terdepresiasi 106 poin atau 0,60 persen ke level Rp 17.861 per dollar Amerika Serikat (AS).
Kurs rupiah saat pembukaan tercatat berada di posisi Rp 17.797 per dollar AS, melemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 17.755 per dollar.
Adapun, indeks dollar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB Rabu ini terpantau menguat 0,07 persen ke posisi 99,883. DXY berbalik menguat setelah pada pagi hari sempat melemah 0,06 persen.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pasar saat ini bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026. Adapun penyesuaian ulang bakal mulai berlaku setelah 31 Agustus 2026.
Kendati demikian, tekanan penurunan pasar sedikit tertahan langkah Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo. Penunjukan tersebut dinilai menenangkan kecemasan pasar terkait kepemimpinan bank sentral.
Namun, pasar juga merespons negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. IKK Juli 2026 yang berada di level 116,8 tersebut merupakan level terendah sejak September 2025 yang tercatat sebesar 115.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan posisi awal tahun atau Januari 2026 yang berada di level 127, IKK telah mengalami penurunan sebesar 10,2 poin.
Sebagai informasi, survei yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia menunjukkan tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, serta ekspektasi mereka terhadap kondisi ekonomi pada masa mendatang.
Di sisi lain, data penjualan eceran yang dirilis Bank Indonesia meningkat sebesar 0,7 persen secara bulanan (month-to-month/MtM) pada Juni 2026.
Kenaikan tersebut sekaligus mengakhiri tren penurunan yang terjadi dalam dua bulan sebelumnya, yakni April 2026 sebesar minus 11,6 persen dan Mei 2026 sebesar minus 1,5 persen.
Perbaikan penjualan eceran dipengaruhi siklus musiman yang terjadi setiap Juni. Perkembangan tersebut sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
Sementara, dari eksternal, pasar juga mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer yang terjadi baru-baru ini. Kondisi tersebut memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Ibrahim kepada wartawan Selasa sore.
Kedua negara juga melontarkan klaim yang berlawanan mengenai status Selat Hormuz. Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur tersebut menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone).
Presiden AS Donald Trump pada Senin menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban jiwa dalam konflik baru-baru ini. Tuntutan tersebut merupakan tanggapan atas tuntutan kompensasi yang sebelumnya diajukan oleh Teheran.
Situasi ini terjadi meskipun sebelumnya pihak berwenang AS sempat menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan vital tersebut sudah dekat. Pernyataan tersebut muncul setelah harga minyak mengalami penurunan tajam pada pekan lalu.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu.
Kelompok Houthi mengancam akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah.
Langkah tersebut meningkatkan kecemasan terhadap potensi gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah. Kelompok Houthi sebelumnya juga telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi di wilayah Laut Merah pada bulan lalu.
Selanjutnya, perhatian pasar beralih ke data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Rabu dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis. Para pedagang mencermati kedua data tersebut untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli diperkirakan turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Sedangkan, Indeks Harga Konsumen Inti (Core CPI), yang tidak memasukkan komponen barang-barang yang harganya mudah berubah, diproyeksikan turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan.
Sehari setelahnya, pada Kamis, Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) juga diproyeksikan mengalami perlambatan.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 44 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan September. Angka tersebut turun dibandingkan dengan perkiraan 67 persen pada sepekan sebelumnya.