Stok Beras Jatim 1,3 Juta Ton, Bulog Sewa 269 Gudang Tambahan

Stok Beras Jatim 1,3 Juta Ton, Bulog Sewa 269 Gudang Tambahan
Stok Beras Bulog [FOTO: NET].

JAKARTA - Cadangan beras yang dikuasai Perusahaan Umum (Perum) Bulog di Jawa Timur, menyentuh angka sekitar 1,3 juta ton atau menyumbang 25 persen dari total cadangan beras nasional. 

Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu pilar vital guna menjaga ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi saat memasuki musim kemarau, Selasa (11/08/2026).

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan, besarnya cadangan beras tersebut wajib diselaraskan dengan kesiapan sarana serta prasarana logistik supaya arus distribusi pangan tetap bergulir, termasuk ke kawasan selatan Jawa Timur seperti Kabupaten Trenggalek.

"Jadi total 269 unit gudang yang disewa oleh Bulog untuk bisa menjaga cadangan pangan kami," terang Emil usai meresmikan gudang Bulog baru di Kecamatan Gandusari Trenggalek, Senin (10/08/2026) sore.

Dipaparkan, ketersediaan gudang menjadi krusial lantaran Jawa Timur merupakan salah satu wilayah lumbung produksi beras nasional.

Bermodalkan cadangan yang melimpah, pemerintah mempunyai ruang guna mengamankan pasokan kala produksi melandai maupun saat timbul gejolak harga. Terlebih, saat ini Jawa Timur mulai memasuki musim kemarau.

Pemerintah terus berupaya menjaga produksi padi dan kesejahteraan petani, namun di saat yang sama wajib memastikan ketersediaan beras bagi publik.

Emil menyebutkan nominal harga gabah di tingkat petani belakangan ini bahkan telah berada di atas Rp8.000 per kilogram.

"Kami tentu bagus petani sejahtera. Yang tinggal kami harus lakukan adalah pantau harga di level konsumen, karena jangan sampai terjadi inflasi yang memberatkan rumah tangga," terang Emil.

Ia menegaskan, tingkat kesejahteraan petani dan keterjangkauan masyarakat dalam membeli beras harus berjalan seiring. Pemerintah tidak menghendaki lonjakan harga gabah yang menguntungkan petani justru memicu harga beras di tingkat konsumen melambung dan membebani rumah tangga.

"Harus sejahtera dua-duanya, petaninya sejahtera. Monggo silakan kalau lebih, tapi nanti kami akan cek dari sisi harga konsumennya juga. Jangan sampai rumah tangga mengalami kesulitan membeli beras," terang Emil.

Sementara itu, Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur Langgeng Wisnu Adinugroho mengutarakan, realisasi penyerapan gabah dan beras Bulog Jawa Timur hingga kini telah menyentuh 927.000 ton. Angka tersebut melampaui target semester pertama yang ditetapkan sebesar 883.000 ton.

"Per hari kemarin kami sudah 927.000 ton dari target 883.000 ton. Alhamdulillah ini berkat dukungan Pak Wagub dan TNI-Polri luar biasa. Kami bisa mencapai target di semester satu," terang Langgeng.

Walau target semester pertama telah terlampaui, Bulog memastikan penyerapan hasil panen bakal terus dilancarkan guna memperkokoh cadangan pangan.

Turut dijelaskan, proses penyerapan berlangsung lancar lantaran ekosistem antara Bulog, petani, dan masyarakat telah terbangun sejak tahun sebelumnya.

"Ini di tahun kedua, jadi ekosistem yang sudah terjalin itu bagus. Masyarakat, petani khususnya juga semakin tahu, sosialisasi kami semakin masif, dan alhamdulillah lancar secara keseluruhan," ujar Langgeng.

Guna menopang penyimpanan cadangan pangan, Bulog Jawa Timur kini mengoperasikan 352 gudang milik sendiri dan menyewa 269 gudang tambahan. Lewat daya dukung tersebut, kapasitas penguasaan stok Bulog di Jawa Timur mendekati 2 juta ton.

Langgeng menambahkan, cadangan Jawa Timur tak sekadar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga di kawasan setempat. Sebagian beras turut didistribusikan ke daerah lain yang mengalami defisit pasokan pangan.

"Jawa Timur sangat-sangat aman. Justru kami terus mengirim beras dari produksi Jatim ke wilayah lain Indonesia yang defisit," kata Langgeng.

Beberapa kawasan yang menerima kiriman beras dari Jawa Timur meliputi Papua, Riau, Kalimantan Selatan, serta Nusa Tenggara Timur.

Dipastikan, gudang Bulog di wilayah Trenggalek masih sanggup menampung hasil serapan gabah saat ini. Bulog turut membuka opsi menyewa gudang tambahan seandainya kebutuhan penyimpanan meningkat, utamanya usai memasuki masa panen kedua.

"Masih menampung. Saat ini masih menampung dan kami selalu bekerja sama baik swasta maupun pemerintah daerah. Apabila gudang yang bisa disewa pasti akan kami sewa apabila memang sudah diperlukan," terang Langgeng.

Ia mengutarakan, penambahan gudang tidak dipatok berdasarkan target jumlah tertentu. Kebijakan tersebut bakal disesuaikan dengan kebutuhan serta volume produksi hasil panen.

"Kalau penambahan gudang kami enggak bisa target. Kami sesuai kebutuhan," kata Langgeng.

Adapun gabah yang diserap Bulog mesti memenuhi tolok ukur kualitas atau in quality. Gabah tersebut selanjutnya bakal digiling menjadi beras sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) pemerintah.

Emil menilai pengadaan beras melalui Bulog turut menyumbang dampak ekonomi bagi daerah lantaran proses pengisian stok ikut melibatkan fasilitas penggilingan padi lokal.

"Saya juga tadi cek, ternyata bahkan untuk pengisian stok di sini, ini memberdayakan juga mitra-mitra penggilingan yang berada di Trenggalek. Jadi efisiensi jarak dan juga pemberdayaan pelaku ekonomi setempat ini menjadi sangat-sangat penting," kata Emil.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index