JAKARTA - El Nino diprediksi bertahan sampai awal 2027 dan mengerek risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur, utamanya sepanjang musim kemarau 2026.
Prakirawan BMKG Karangploso Malang, Linda Fitrotul, menyebutkan kondisi El Nino saat ini menunjukkan intensifikasi dibandingkan tahun sebelumnya.
"El Nino diprediksi masih bertahan hingga awal 2027 dan saat ini menunjukkan penguatan," kata Linda, Selasa (11/8/2026).
Kendati diproyeksikan berlanjut hingga awal 2027, dampak El Nino yang kentara bagi Indonesia diperkirakan berlangsung selama musim kemarau 2026.
"Namun dampak yang signifikan terhadap Indonesia terutama diperkirakan terjadi selama periode musim kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober 2026," ujarnya.
El Nino sanggup memicu merosotnya curah hujan di sejumlah kawasan Indonesia. Keadaan tersebut berpeluang menekan ketersediaan air serta membuat wilayah daratan kian mengering.
Berdasarkan catatan BMKG Karangploso, hampir seluruh daerah di Jawa Timur wajib meningkatkan kewaspadaan atas ancaman kekeringan sepanjang periode kemarau.
Sejumlah wilayah yang patut mendapat perhatian antara lain Bangkalan, Kota Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Jember, Lamongan, Madiun, Magetan, Kota Malang, Kabupaten Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Trenggalek, Tuban, hingga Tulungagung.
"Hampir seluruh Jawa Timur diprediksi rawan dan perlu diwaspadai," kata Linda.
Dinamika tersebut utamanya perlu menjadi perhatian warga yang menggantungkan pasokan air untuk konsumsi harian, sektor pertanian, maupun kegiatan lainnya.
BMKG mengimbau publik mulai mengantisipasi potensi berkurangnya pasokan air dengan memanfaatkan air secara bijak serta menghindari pemborosan.
Risiko karhutla meningkat
Bukan sekadar berdampak terhadap ketersediaan air, kondisi kemarau yang gersang turut mendongkrak risiko kebakaran hutan dan lahan.
Material yang gampang terpercik api, seperti rumput, ilalang, dedaunan kering, serta ranting, bakal bertambah kering sehingga api makin mudah menyala dan meluas.
Menilik peta tingkat kemudahan terjadinya kebakaran atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) BMKG per 10 Agustus 2026, sebagian besar kawasan Jawa Timur berada pada tingkatan sangat tinggi.
Tingkatan tersebut menandakan bahan bakar ringan pada permukaan tanah dalam keadaan kering dan rawan terbakar.
Meskipun begitu, tingginya status FFMC tak berarti area tersebut sedang dilanda kebakaran. Sebaliknya, indikator tersebut menjadi peringatan supaya warga lebih berhati-hati lantaran letupan api kecil sanggup memicu kebakaran kala lingkungan dalam keadaan teramat kering.
Guna menekan risiko karhutla, BMKG meminta masyarakat menjauhi tindakan yang berpotensi memicu percikan api, terutama di area hutan, lahan terbuka, perkebunan, serta lokasi bernutrisi vegetasi kering.
Masyarakat juga diminta tidak membuang sisa rokok secara sembarangan serta tidak membakar sampah maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar.
"Kami juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munvulnya api, terutama di kawasan hutan, lahan terbuka, perkebunan, dan area yang dipenuhi vegetasi kering," ujarnya.