JAKARTA - Nilai tukar rupiah mengakhiri sesi perdagangan Jumat (7/8/2026) di zona hijau. Kenaikan ini ditopang oleh menguatnya sentimen atas aset domestik seiring deretan indikator ekonomi Indonesia yang memperlihatkan daya tahan tangguh.
Aliran dana asing (inflow) yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara serta pasar saham sepanjang Juli turut memperkokoh laju mata uang Garuda.
Merujuk data analisis Doo Financial Futures, rupiah mengakhiri perdagangan dengan menguat ke posisi Rp17.897 per dolar AS, atau menguat sekitar 0,15%.
Penguatan mata uang Indonesia terjadi beriringan dengan mayoritas mata uang kawasan Asia yang turut menguat atas dolar AS.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan lonjakan terbesar di kawasan setelah menguat 0,32%, diikuti dolar Taiwan 0,17%, rupiah 0,15%, dolar Singapura 0,14%, baht Thailand 0,13%, serta yuan China 0,03%. Sementara itu, pergerakan ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong atas dolar AS cenderung stagnan.
Di sisi lain, hanya sedikit mata uang Asia yang tertekan atas dolar AS. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,23%, disusul rupee India yang terkikis 0,04%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan bahwa apresiasi rupiah terdorong oleh pulihnya sentimen pasar terhadap Indonesia menyusul kuatnya data-data ekonomi domestik belakangan ini.
"Rupiah ditutup sedikit menguat di level Rp17.897 per dolar AS, didukung membaiknya sentimen oleh data-data ekonomi domestik yang solid akhir-akhir ini dan inflow dana asing di pasar Surat Berharga Negara maupun ekuitas selama Juli," ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Menurut Lukman, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang cuma merosot tipis pada Juli juga tidak menimbulkan tekanan berarti terhadap rupiah.
Dari faktor eksternal, indeks dolar AS cenderung bergerak datar, sementara harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tipis sehingga ikut menopang mata uang negara berkembang.
Ia mengimbuhkan, para pelaku pasar selanjutnya bakal mengalihkan fokus pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls/NFP) yang teragenda terbit pada Jumat malam waktu Indonesia. Data tersebut akan menjadi indikator krusial terkait arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sementara itu, pada transaksi Senin (10/8/2026), perhatian investor bakal tertuju pada Survei Kepercayaan Konsumen Indonesia guna memantau kondisi permintaan domestik serta proyeksi konsumsi masyarakat.
Lukman memproyeksikan rupiah pada awal pekan depan bakal bergerak di rentang Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS, di mana arah pergerakan akan ditentukan oleh hasil NFP AS, pergerakan dolar AS, serta respons pasar atas rilis indikator ekonomi nasional.