JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan pekan ini pada zona merah pada Jumat (11/9/2026). Indeks menyusut 0,73 persen menuju level 6.541,38. Secara kumulatif, selama kurun sepekan IHSG mengalami koreksi sebesar 1,43 persen.
Kendati masih dibayangi aksi jual, pengamat menilai pergerakan IHSG masih menyimpan potensi untuk berbalik menguat pada sesi perdagangan pekan depan, walaupun laju penguatannya diproyeksikan cenderung terbatas.
Penurunan yang terjadi di penutupan pekan dinilai masih dalam batas koreksi wajar. Pasalnya, IHSG sanggup menjaga posisinya di atas level psikologis 6.500. Pergerakan IHSG tersebut juga dianggap lebih dominan disetir oleh faktor teknikal.
“Terjadi koreksi sehat di akhir pekan, masih bagus karena IHSG bertahan di atas 6.500,” ujar Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project William Hartanto.
Menurut pandangannya, sentimen paling kuat yang mempengaruhi laju pasar sepanjang pekan ini bersumber dari technical rebound pada sejumlah emiten sektor pertambangan, energi, serta saham yang terhubung dengan ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Mengenai perdagangan pekan depan, William menaksir IHSG masih berpeluang mencatatkan rebound, meski ruang kenaikannya terbilang terbatas.
Ia memproyeksikan IHSG berada pada kisaran support 6.500 dan resistance 6.642. Dari kacamata sektoral, emiten di sektor energi masih menjadi salah satu opsi menarik untuk dicermati oleh investor ritel.
Pengaruh Harga Minyak
Secara terpisah, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyampaikan bahwa pelemahan IHSG sepanjang pekan ini turut dibarengi maraknya tekanan jual.
Salah satu pemicu dominan yang memengaruhi pergerakan pasar yakni lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui 100 dollar AS per barel.
Eskalasi harga minyak tersebut dipicu oleh memanasnya konflik di Timur Tengah serta penyerangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi. Tekanan pada pasar modal kian diperberat oleh data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) yang naik 0,4 persen secara bulanan dan 5,4 persen secara tahunan.
Situasi ini memicu kecemasan pemodal terkait potensi sikap ketat (hawkish) Federal Reserve (The Fed) dalam menetapkan arah suku bunga acuan.
Di lain sisi, rilis data cadangan devisa nasional dianggap masih mampu menjadi penopang bagi arah IHSG. Nilai tukar rupiah pun tercatat menguat menghadapi dollar AS sepanjang pekan ini dan bertahan di kisaran Rp 17.645 per dollar AS.
“Pada sepekan ke depan, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat dengan kecenderungan terbatas,” kata Herditya.
Ia memproyeksikan IHSG bergerak pada titik support 6.440 dan resistance 6.623 pada pekan depan.
Pemodal juga bakal memantau hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, utamanya selepas lonjakan harga energi serta publikasi data PPI AS.
Selain itu, dinamika kurs rupiah terhadap dollar AS dan arus keluar-masuk modal asing di pasar saham domestik turut diperkirakan menjadi variabel penting yang wajib dicermati investor pada pekan depan.
Untuk pilihan emiten, Herditya menyarankan pemodal memantau PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pada area harga Rp 1.710-Rp 1.765, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) pada rentang Rp 366-Rp 400, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) pada kisaran harga Rp 980-Rp 1.060.