JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada sesi perdagangan Jumat (11/9/2026) pagi. Hingga pukul 09.29 WIB, IHSG bertengger pada level 6.484,786. Indeks tercatat merosot 104,552 poin atau 1,59 persen jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Saat pembukaan pasar, IHSG mengawali pergerakan di posisi 6.552,792. Pergerakan indeks selanjutnya terus merosot hingga menyentuh titik terendah pada level 6.462,960, sebelum akhirnya menguat tipis ke level 6.484,786.
Aksi lepas saham tecermin dari dominasi emiten yang mengalami penurunan. Sebanyak 533 saham melemah, sementara 81 saham menguat dan 114 saham lainnya bertahan stagnan.
Nilai transaksi perdagangan terakumulasi sekitar Rp 4,508 triliun dengan melibatkan volume 10,243 miliar saham. Adapun frekuensi transaksi tercatat sebanyak 582.687 kali.
MNC Sekuritas menilai bahwa tekanan terhadap pasar saham dalam negeri bersumber dari eskalasi ketegangan geopolitik yang memicu harga minyak mentah melonjak melampaui 100 dollar AS per barrel. Kenaikan harga komoditas energi tersebut berisiko menambah beban terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Laju tekanan turut dipicu oleh performa nilai tukar rupiah yang melemah menuju kisaran Rp 17.585 per dollar AS. Dari ranah eksternal, para pemodal merespons publikasi data Producer Price Index (PPI) atau indeks harga produsen Amerika Serikat periode Agustus yang naik 0,4 persen secara bulanan (month-to-month/MoM). Realisasi ini sejalan dengan perkiraan konsensus pasar.
“Tekanan utama berasal dari energi, dengan final-demand energy meningkat 4,2 persen MoM,” tulis MNC Sekuritas dalam risetnya, Jumat.
Para pelaku pasar saat ini tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat. Rilis indikator tersebut menjadi acuan krusial bagi kejelasan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
MNC Sekuritas memaparkan bahwa peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed meningkat hingga 72 persen. Prospek ini dipengaruhi oleh laju inflasi headline yang masih pekat serta kondisi pasar tenaga kerja yang dinilai belum memperlihatkan pelonggaran yang memadai.
Di pasar surat utang AS, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun (UST10Y) terangkat ke level 4,95 persen. Kenaikan yield tersebut mencerminkan tingginya kecemasan pasar terhadap lonjakan inflasi imbas kenaikan harga minyak.
Situasi ini sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga The Fed bakal bertahan di level tinggi dalam durasi lebih panjang (higher for longer).
Sementara di bursa domestik, sejumlah sektor tampil menjadi pemberat pergerakan IHSG. Sektor barang baku yang tecermin via IDX Basic tergerus 2,48 persen. IDX Cyclical melorot 2,39 persen, sedangkan IDX Energy terkoreksi sebesar 2 persen.
Dilihat dari analisis teknikal, MNC Sekuritas mengemukakan bahwa IHSG masih terperangkap dalam fase tren menurun (downtrend). Pergerakan indeks saat ini juga telah menyentuh target koreksinya pada level 6.502.