JAKARTA - PT Mirae Asset Sekuritas menilai pasar keuangan dalam negeri masih dibayangi oleh tekanan sentimen global yang belum sepenuhnya mereda.
Kondisi tersebut tecermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 1,33 persen menuju posisi 6.589, yang disertai aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing sebesar Rp748 miliar di pasar reguler.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat, menyampaikan bahwa pada situasi saat ini, para investor disarankan untuk tetap selektif dengan memperhatikan faktor fundamental serta dinamika likuiditas dalam negeri.
Aksi pelepasan saham terlihat melanda sektor perbankan, terutama pada saham BBCA dan BBRI yang sebelumnya berperan sebagai penopang utama indeks. Di sisi lain, pemodal asing terpantau masih mengumpulkan sejumlah saham seperti ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA, yang menandakan terjadinya rotasi parsial ke saham komoditas dan sektor spesifik tertentu.
"Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5 persen, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5 persen, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas," ujar Rully.
Rully memaparkan, nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp17.547 per dolar AS dengan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun sebesar 7,11 persen. Absennya lelang SRBI di sepanjang September turut memicu peralihan likuiditas perbankan ke instrumen SBN.
Penguatan nilai tukar rupiah memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengendurkan sikap defensif serta melonggarkan likuiditas dalam jangka pendek, kendati lonjakan harga minyak dan yield obligasi global masih membatasi ruang penyesuaian melalui BI-Rate.
Di tengah ketidakpastian pasar tersebut, dinamika konsumsi dalam negeri juga turut disorot.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat mulai memperlihatkan tren perbaikan, meskipun proses pemulihannya belum merata di semua lini.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 merangkak naik ke posisi 118,5 dari semula 116,8 pada Juli. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga meningkat menuju 109,4, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen terangkat ke level 127,6.
Meski begitu, terdapat gap sebesar 18,2 poin antara penilaian terhadap kondisi ekonomi terkini dan ekspektasi mendatang, yang mengindikasikan masyarakat masih bersikap penuh kehati-hatian.
"Perbaikan belum terjadi secara menyeluruh. Kelompok pengeluaran Rp4,1-5 juta justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan keyakinan, sementara persepsi pasar tenaga kerja melemah pada responden berpendidikan universitas dan pascasarjana," jelas Novani.
Novani pun menggarisbawahi adanya pergeseran dalam pengelolaan dana rumah tangga. Porsi simpanan mengalami penyusutan paling tajam pada rumah tangga dengan tingkat pengeluaran Rp1-4 juta, sedangkan pengeluaran konsumsi terangkat hampir di seluruh strata.
Tren ini berpotensi menyokong permintaan pasar jangka pendek, tetapi melandainya simpanan mengindikasikan bantalan finansial masyarakat di kelompok tertentu semakin menipis.
Dengan laju inflasi tahunan berada di angka 3,19 persen, tren ini perlu dicermati secara ketat mengingat daya beli masyarakat akan kian tergantung pada kemampuan pendapatan riil dalam mengimbangi kenaikan harga barang.
Kendati demikian, menguatnya keyakinan konsumen tetap memberikan indikasi positif bagi prospek konsumsi nasional. Menurut Novani, keberlanjutan pemulihan konsumsi masih memerlukan topangan berupa peningkatan pendapatan riil, kepastian lapangan kerja, serta kestabilan inflasi.
"Karena itu, kami mempertahankan strategi portofolio yang selektif dengan preferensi pada saham berfundamental kuat dan arus kas solid. RDPU tetap menjadi pilihan likuiditas anchor, sementara RDPT tetap favorable untuk akumulasi bertahap seiring membaiknya peluang di pasar obligasi," sebut Novani.