JAKARTA - Industri perbankan nasional pada semester I-2026 menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan tekanan biaya dana serta kondisi likuiditas yang ketat.
Sebagian besar dari sepuluh bank besar berhasil membukukan pertumbuhan positif pada pos laba dan kredit, dengan BTN memimpin dari sisi persentase pertumbuhan laba, sementara BRI mencatatkan nominal laba terbesar.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, kelompok sepuluh bank besar yang terdiri dari Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, CIMB Niaga, Bank Permata, Bank Danamon, Bank OCBC NISP, Bank Syariah Indonesia (BSI), dan BTN, mayoritas mencatatkan kenaikan laba secara tahunan.
Hanya CIMB Niaga yang mengalami kontraksi laba tipis sebesar 0,55% menjadi Rp 3,44 triliun. Sementara itu, BTN mencatatkan lonjakan laba tertinggi yakni 40,80% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 2,40 triliun, disusul Bank Danamon yang tumbuh 33,05% menjadi Rp 2,39 triliun.
Bank Mandiri dan BRI turut membukukan kinerja laba yang solid masing-masing sebesar Rp 30,41 triliun dan Rp 31,18 triliun.
Capaian tersebut menempatkan BRI sebagai bank dengan perolehan nominal laba terbesar di antara kelompok bank besar lainnya. BSI, BNI, OCBC NISP, Bank Permata, hingga BCA juga mencatatkan pertumbuhan laba yang positif meski dengan variasi pencapaian yang beragam.
Dari aspek intermediasi, penyaluran kredit menjadi penopang utama kinerja perbankan di tengah ketatnya likuiditas.
BRI mencatat pertumbuhan kredit 16,16% menjadi Rp 1.646 triliun, disusul Bank Mandiri yang melonjak 19,90% menjadi Rp 1.592 triliun, serta BSI, Bank Danamon, BTN, dan BCA yang turut mencatatkan pertumbuhan positif pada portofolio pembiayaan mereka.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa pertumbuhan laba perusahaannya ditopang oleh perbaikan struktur pendanaan melalui penguatan dana murah atau CASA, ekspansi kredit, serta peningkatan pendapatan berbasis komisi.
"Revenue bank itu didrive dari yang namanya net interest income dan fee based income. Bank ini sebenarnya lembaga intermediasi, fungsinya memobilisasi dana masyarakat dan menyalurkan dalam bentuk pembiayaan atau kredit," ujar Hery dalam paparan kinerja BRI, Senin (31/8/2026).
Meskipun fundamental keuangan perbankan pada paruh pertama tahun ini tercatat solid, pergerakan harga saham emiten perbankan besar, khususnya bank-bank Himbara, justru mengalami tekanan akibat sentimen eksternal seperti aksi jual investor asing, fluktuasi nilai tukar, dan ketidakpastian suku bunga global.
Kendati demikian, kalangan analis menilai prospek sektor perbankan tetap konstruktif untuk paruh kedua tahun 2026 seiring potensi pelonggaran kebijakan moneter dan stabilisasi biaya dana.