JAKARTA - Pergerakan harga emas dunia (XAUUSD) diproyeksikan masih dibayangi tekanan pada sesi perdagangan Senin (31/8/2026).
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mencermati pergerakan harga emas pada time frame H4 yang dinilai masih berpeluang melanjutkan tren penurunan menuju kisaran support 4.360.
Wilayah ini menjadi fokus perhatian lantaran bertindak sebagai support terdahulu sekaligus berimpitan dengan level Fibonacci 161,8 persen. Di samping itu, kemunculan pola Drop Base Drop menandakan bahwa gelombang tekanan jual masih berpotensi berlanjut.
Berdasarkan grafik H4, XAUUSD menunjukkan arah kecenderungan bearish yang bertahan sebab harga belum memperlihatkan indikasi pembalikan arah yang memadai. Kondisi ini membuka peluang penurunan menuju titik support berikutnya.
Bentukan pola Drop Base Drop turut menjadi acuan teknikal yang memperkuat skenario pelemahan harga emas dalam jangka pendek. Pola tersebut pada umumnya diawali oleh penurunan harga, lalu memasuki fase konsolidasi (base), hingga akhirnya kembali merosot.
Pada kondisi XAUUSD terkini, pola tersebut mencerminkan bahwa pihak seller masih memegang kontrol yang cukup dominan. Selama harga belum memberikan sinyal reversal yang nyata, wilayah support 4.360 berpeluang besar untuk diuji.
Support 4.360 jadi perhatian
Area 4.360 memegang peranan krusial dalam kacamata analisis teknikal karena berimpitan tepat di titik Fibonacci 161,8 persen. Perpaduan antara support historis dan acuan Fibonacci ini menjadikan zona tersebut sebagai titik krusial bagi para pelaku pasar.
Apabila harga menyentuh area tersebut dan berhasil bertahan, peluang terjadinya rebound teknikal masih terbuka lebar. Sebaliknya, jika tekanan jual kian deras hingga XAUUSD menembus batas support 4.360, harga berpotensi melanjutkan koreksi ke level yang lebih rendah.
"Fokus teknikal saat ini berada pada kemampuan XAUUSD untuk mempertahankan area support 4.360," ujar Geraldo dalam analisisnya.
Menurut pandangannya, apabila harga sanggup bertahan serta membentuk indikasi pembalikan arah, peluang rebound dapat terbuka. Namun, selama aksi jual masih mendominasi dan bentuk pola Drop Base Drop belum berubah, skenario koreksi tetap menjadi perhatian utama.
Kenaikan US Treasury Yield
Di luar aspek teknikal, laju harga emas hari ini ikut terseret oleh peningkatan US Treasury Yield. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang merambat naik dapat mendongkrak daya tarik instrumen berbasis bunga dibandingkan emas.
Lantaran tergolong sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung mengalami tekanan saat yield melambung. Hal ini disebabkan opportunity cost dalam menggenggam logam mulia menjadi makin tinggi.
Pergeseran ekspektasi terkait kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi sorotan pasar. Sinyal hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum Jackson Hole mendorong investor mengalkulasi ulang perkiraan mengenai proyeksi suku bunga AS.
Merujuk pada konsensus pasar, probabilitas kenaikan suku bunga pada September 2026 mendatang berada pada level sekitar 57 persen. Di sisi lain, yield Treasury AS tenor dua tahun merangkak naik ke kisaran 4,33 persen.
Penguatan ekspektasi atas suku bunga ini berpotensi memberi angin segar bagi penguatan dolar AS dan Treasury Yield. Penyesuaian ini berisiko menjadi sentimen negatif bagi emas karena para pemodal berpeluang memindahkan dana menuju instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Meski demikian, rincian kebijakan moneter mendatang tetap akan bergantung pada rilis data ekonomi terkini serta pernyataan susulan dari pejabat The Fed.
Ketegangan AS-Iran jadi faktor pendukung
Di tengah himpitan yield dan spekulasi suku bunga, dinamika geopolitik masih menyokong daya tawar emas. Eskalasi konflik antara AS dan Iran berisiko memicu ketidakpastian pasar global sekaligus mendongkrak permintaan terhadap aset safe haven.
Dalam situasi risiko geopolitik yang memanas, emas kerap diandalkan pelaku pasar sebagai sarana perlindungan nilai. Di samping itu, penguatan harga minyak turut menjadi indikator yang patut diwaspadai.
Ketegangan geopolitik berisiko mengganggu rantai pasok energi hingga mendorong kenaikan harga minyak. Lonjakan harga energi tersebut pada gilirannya dapat memicu kekhawatiran inflasi serta memengaruhi ekspektasi pasar atas langkah The Fed.
Kondisi ini menempatkan prospek XAUUSD dalam jepitan sejumlah faktor yang saling berlawanan. Lonjakan Treasury Yield dan menguatnya ekspektasi suku bunga memberikan tekanan bagi harga emas.
Sementara itu, memanasnya hubungan AS-Iran serta risiko kenaikan harga minyak sanggup memicu lonjakan permintaan safe haven sekaligus menjaga volatilitas harga emas.
Mencermati seluruh kondisi tersebut, proyeksi harga emas hari ini masih condong pada potensi koreksi menuju level 4.360. Area ini menjadi titik patokan lantaran berfungsi sebagai support terdahulu dan bertepatan dengan Fibonacci 161,8 persen.
Pelaku pasar juga perlu mengamati pergerakan Treasury Yield, ekspektasi suku bunga The Fed, eskalasi AS-Iran, serta harga minyak karena berbagai faktor tersebut berpotensi memengaruhi volatilitas XAUUSD sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT