IHSG Ditutup Melemah ke 6.394 Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan

IHSG Ditutup Melemah ke 6.394 Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah menuju level 6.394,12 pada sesi perdagangan Rabu (19/8/2026). Penurunan performa indeks dipicu oleh tekanan koreksi dari jajaran saham besar seperti BYAN, AMMN, hingga BREN.

Merujuk pada catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi sebesar 0,86% atau tergerus 55,70 poin ke posisi 6.394,12. Indeks komposit pada hari ini sempat dibuka di level 6.408,17 dan sempat menyentuh posisi puncaknya di rentang 6.490,91. 

Perdagangan mencatat sebanyak 238 saham mengalami kenaikan, 363 saham merosot, serta 188 saham stagnan. Di sisi lain, nilai kapitalisasi pasar berada di angka Rp11.269,99 triliun.

Untuk jajaran saham big caps, tren penguatan masih dialami oleh saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang melesat 6,67% ke posisi Rp1.040 serta saham PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) yang menguat 0,98% menjadi Rp5.150 per lembar saham.

Sebaliknya, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) menjadi salah satu pemberat laju indeks setelah merosot 9,41% ke posisi Rp15.650. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menyusul di zona merah dengan koreksi 2,59% ke Rp4.140. 

Pergerakan saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turut melemah 1,99% menuju Rp3.450 per saham, sedangkan PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan penurunan 1,25% ke level Rp4.730 per saham.

Sebelumnya, laju indeks komposit atau IHSG menghentikan tren relinya dan parkir di area merah pada penutupan sesi pertama hari ini. Berdasarkan analisis harian Mirae Asset Sekuritas, IHSG melemah 0,6% ke level 6.411,00 pada sesi I. 

Langkah indeks tertahan menyusul tekanan dari sejumlah emiten berkapitalisasi jumbo. Saham BYAN menjadi penekan utama usai terkoreksi 6,1%, disusul oleh emiten sektor pertambangan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang tergerus 2,4%.

Selaras dengan penurunan IHSG, mayoritas pasar saham utama di Asia turut mengalami koreksi terpengaruh aksi lepas kepemilikan (sell-off) saham sektor teknologi di Wall Street pada malam sebelumnya.

Dari dalam negeri, dinamika pergerakan pasar diwarnai oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) kurun waktu 18—19 Agustus 2026. 

Bank sentral menetapkan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75%. Pihak BI menekankan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah senantiasa menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian pasar global.

Di luar gejolak eksternal tersebut, BI menilai berbagai indikator ekonomi makro Indonesia sejauh ini berada dalam kondisi solid. 

Untuk menopang perekonomian, BI memproyeksikan laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 berada pada rentang 4,9% hingga 5,7%. Sementara itu, sasaran inflasi nasional dipastikan dapat terjaga pada target 2,5% ± 1%.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index