Tusk: Intelijen Ungkap Rencana Rusia Serang Negara NATO Pendukung Ukraina

Jumat, 18 September 2026 | 10:44:00 WIB

SEBARIS.CO.ID — Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengungkap penilaian intelijen yang menyebut Rusia berencana melancarkan serangan drone dan rudal terhadap negara-negara NATO yang mendukung Ukraina. Dalam pidatonya di hadapan parlemen, Tusk menyatakan Polandia termasuk dalam daftar target karena posisinya yang aktif membantu Kyiv. Kremlin membantah tuduhan keterlibatan dalam aksi sabotase yang dicurigai terjadi di sejumlah negara Eropa.

Penilaian intelijen yang dipaparkan Tusk menyebut serangan potensial itu akan menyasar infrastruktur dan fasilitas pertahanan negara-negara pendukung Ukraina. Polandia menjadi salah satu negara yang disebut secara eksplisit dalam peringatan tersebut.

Menurut Tusk, tujuan operasi itu bukan semata menimbulkan kerusakan fisik. Moskow diduga ingin melemahkan kemampuan NATO mengambil tindakan kolektif jika salah satu negara anggota diserang.

Isi Peringatan Intelijen yang Dipaparkan Tusk

Dalam pidatonya, Tusk menyebut rencana Rusia mencakup penggunaan drone dan rudal dalam serangan yang dikategorikan sebagai operasi hibrida. Ia mengutip penilaian intelijen yang tidak dijelaskan berasal dari badan mana.

"Menurut penilaian intelijen, rencana Rusia mencakup serangan hibrida menggunakan drone dan rudal terhadap negara-negara yang mendukung Ukraina, termasuk Polandia," kata Tusk, dikutip Reuters.

Tusk menggambarkan serangan itu bersifat "tidak disengaja" — istilah yang merujuk pada operasi yang dirancang sulit dilacak asal pelakunya. Sasaran utamanya adalah melumpuhkan atau setidaknya melemahkan tekad negara NATO menggunakan ketentuan pertahanan kolektif.

Kecurigaan Sabotase yang Menumpuk di Eropa

Sejumlah negara Eropa mencurigai Moskow berada di balik serangkaian aksi sabotase dalam beberapa bulan terakhir. Aksi itu dinilai sebagai tekanan terhadap negara-negara yang membantu Kyiv, terutama Jerman.

Kremlin membantah tegas tuduhan tersebut. Hingga kini tidak ada penjelasan resmi dari Moskow terkait peringatan intelijen yang dipaparkan Tusk.

Polandia sendiri merupakan salah satu negara NATO yang paling gencar memberikan bantuan militer dan kemanusiaan kepada Ukraina sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai.

Mengapa Polandia Menjadi Target

Posisi Polandia sebagai negara garis depan NATO di Eropa Timur membuatnya menjadi salah satu pendukung utama Ukraina. Warszawa telah menyalurkan bantuan militer, menerima pengungsi, dan menjadi jalur logistik utama bagi pasokan senjata ke Kyiv.

Peran itu menjadikan Polandia sasaran strategis jika Rusia benar-benar hendak melemahkan solidaritas NATO. Tusk tidak menyebut apakah Polandia akan meningkatkan kesiagaan militer sebagai respons atas peringatan tersebut.

Ketentuan Pasal 5 NATO dan Skenario yang Dikhawatirkan

Inti kekhawatiran yang disampaikan Tusk adalah potensi melemahnya kepercayaan terhadap Pasal 5 Piagam NATO. Pasal itu menyatakan serangan terhadap satu negara anggota dianggap serangan terhadap seluruh aliansi.

Jika serangan hibrida sulit dibuktikan asal pelakunya, negara-negara anggota bisa ragu merespons secara kolektif. Kondisi itu yang diduga ingin diciptakan Moskow melalui operasi semacam ini.

NATO belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi pemaparan Tusk. Sekretariat aliansi biasanya merespons tuduhan semacam ini setelah melalui verifikasi intelijen bersama antarnegara anggota.

Bantahan Kremlin dan Aksi Sabotase yang Belum Terbukti

Moskow berulang kali membantah terlibat dalam aksi sabotase di Eropa. Kremlin menyebut tuduhan itu sebagai bagian dari kampanye anti-Rusia yang dilancarkan negara-negara Barat.

Sejumlah insiden sabotase terhadap infrastruktur kabel bawah laut dan fasilitas energi di Eropa masih dalam penyelidikan. Belum ada putusan resmi yang menetapkan pelaku di balik insiden-insiden tersebut.

Pernyataan Tusk menambah daftar tuduhan yang saling bertentangan antara Moskow dan negara-negara NATO. Perkembangan selanjutnya bergantung pada apakah aliansi akan mengeluarkan respons kolektif atau membiarkan masing-masing negara menangani ancaman secara mandiri.

Terkini