AKRA Masifkan Infrastruktur untuk Bisnis LNG dan Energi Surya

Selasa, 08 September 2026 | 00:14:02 WIB
PT AKR Corporindo Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) memetakan tiga faktor utama yang diproyeksikan menjadi katalis pendorong pertumbuhan bisnis perusahaan ke depan.

Ketiga aspek tersebut mencakup kelanjutan program hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi nasional, serta transisi menuju penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Direktur Utama AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo menyampaikan, perseroan konsisten memperluas kemitraan di sektor kimia, energi, serta utilitas demi meraih peluang dari lonjakan aktivitas industri.

"Kami juga terus memperluas kemitraan kami di bidang kimia, bidang energi, dan di bidang utilitas," ujar Haryanto saat Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).

AKRA juga tengah menyiapkan prasarana pendukung guna mencukupi pasokan energi bagi para tenant, utamanya yang beroperasi di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.

Beberapa langkah strategis yang sudah berjalan antara lain pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) lewat PT Berka Renewable Energy Nusantara, serta pembangunan jaringan infrastruktur Liquefied Natural Gas (LNG) dan gas alam.

Untuk pengembangan sarana LNG, AKRA telah menandatangani kesepakatan kerja sama proyek bersama BP Gas and Power Investment pada 2024.

Perseroan lantas mendirikan perusahaan patungan atau joint venture (JV) bersama anak usaha BW LNG. Pada 2026, AKRA turut menyepakati kontrak pembuatan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) berkapasitas 170.000 meter kubik menggandeng Hyundai Heavy Industries Ltd. Fasilitas ini disiapkan untuk menampung sekaligus mengolah LNG menjadi gas guna didistribusikan ke konsumen industri.

"Untuk fasilitas LNG, perseroan telah menandatangani joint venture development dengan BP dan membentuk perusahaan patungan dengan anak usaha BW LNG, dan menandatangani kontrak untuk pembangunan FSRU berkapasitas 170.000 meter kubik dengan Hyundai Heavy Industries," paparnya.

Haryanto menuturkan, berbagai sarana penunjang energi tersebut dibangun demi menyuplai kebutuhan energi tenant di JIIPE maupun area sekitarnya.

"Setiap langkah tersebut dibangun dari kompetensi yang telah dimiliki oleh AKR, yang didasarkan pada kebutuhan pelanggan kami, dan dijalankan bersama dengan mitra yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing," sebutnya.

Tiga Katalis Pertumbuhan AKRA

Haryanto menerangkan, katalis pertama bersumber dari konsistensi hilirisasi serta laju pertumbuhan sektor industri. Laju industri yang kian aktif akan meningkatkan permintaan bahan baku, lahan kawasan industri, jasa pelabuhan, hingga fasilitas utilitas penunjang.

Katalis kedua berupa komitmen pemerintah dan pelaku usaha dalam memperkokoh ketahanan energi. Situasi ini diyakini bakal mendongkrak kebutuhan sarana penyimpanan dan distribusi energi yang andal untuk menjaga kontinuitas pasokan bagi kegiatan industri.

Katalis ketiga bermula dari pergeseran menuju opsi energi yang lebih ramah lingkungan. Perubahan ini menciptakan kebutuhan pasokan energi yang lebih bervariasi, mulai dari gas alam, LNG, hingga energi surya.

Dalam memanfaatkan peluang dari ketiga faktor pendorong tersebut, AKRA merancang tiga prioritas utama dalam strategi ekspansinya.

Fokus pertama yakni memperkuat bisnis inti di bidang perdagangan dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) serta bahan kimia dasar. Perseroan akan memastikan keandalan pasokan, menyesuaikan layanan dengan kebutuhan sektor industri, serta mengoptimalkan jaringan distribusi dan prasarana yang ada maupun yang sedang dikembangkan.

Fokus kedua ialah mengoptimalkan serta mendongkrak nilai ekonomis JIIPE sebagai kawasan industri dan pelabuhan yang terpadu.

Haryanto menyampaikan, bertambahnya tenant di JIIPE bakal menggairahkan aktivitas pelabuhan sekaligus menciptakan permintaan jangka panjang atas fasilitas kawasan, mencakup energi, air, gas, dan utilitas pendukung lainnya.

Arus kas yang didapat dari penjualan atau monetisasi lahan kawasan industri tersebut nantinya dapat dialokasikan untuk mendanai pembangunan sarana utilitas secara bertahap.

"Arus kas dari monetisasi lahan akan mendukung pengembangan utilitas yang dibutuhkan secara bertahap, sehingga tidak akan meningkatkan leverage secara signifikan," katanya.

Fokus ketiga yaitu mencetak sumber pertumbuhan baru lewat perluasan layanan energi yang diselaraskan dengan kebutuhan konsumen serta dinamika pasar. 

Langkah ini meliputi penyediaan utilitas industri, fasilitas gas dan LNG, energi surya, hingga bisnis penjualan BBM eceran secara selektif bersama mitra strategis.

Haryanto menegaskan, seluruh rencana ekspansi bisnis direalisasikan secara terukur dengan mempertimbangkan kepastian kebutuhan konsumen, kelayakan investasi, dan kapabilitas mitra.

"Dengan demikian, pertumbuhan tetap dijalankan secara disiplin dan diarahkan untuk meningkatkan pengembalian yang optimal," lanjut dia.

Tags

Terkini