Menekraf: Nusantara Rising Dorong Kreativitas Jadi Kekuatan Ekonomi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:11:01 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mengemukakan peluncuran “Nusantara Rising: Indonesia Collective Soft Power Movement” oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pada panggung IdeaFest 2026 memacu kreativitas dalam negeri sebagai daya dorong ekonomi untuk bersaing di tingkat global.

Riefky mengungkapkan Indonesia menyimpan kelimpahan budaya, talenta, narasi, serta kreativitas luar biasa yang dapat difungsikan sebagai soft power untuk memperkenalkan kebudayaan nasional ke pentas dunia.

"Karena kami tidak ingin Indonesia hanya jadi pasar bagi konten global, melainkan tumbuh sebagai content power house yang mampu membawa budaya, karakter, cerita, menjadi karya kreatif anak bangsa termasuk musik, film, animasi, dan gim menuju panggung dunia. Tantangan utamanya adalah mengorkestrasi seluruh potensi agar jadi kekuatan ekonomi dan soft power Indonesia di tingkat global,” ujar Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Riefky menyampaikan bahwasanya semangat “Nusantara Rising: Indonesia Collective Soft Power Movement" bentukan Kadin mampu bertindak sebagai jembatan bagi para pelaku ekraf, khususnya pencipta konten yang telah mengantongi pola bisnis namun masih memerlukan dukungan dana.

Riefky mengutarakan para pelaku ekraf membutuhkan pendampingan guna menaikkan skala bisnis, baik melalui mekanisme co-production maupun co-investment untuk memperlebar jalur permodalan, teknologi, serta pasar dari ranah nasional hingga mancanegara.

"Tantangannya bukan hanya bagaimana karya Indonesia dikenal dunia, tetapi bagaimana eksposur tersebut menghasilkan manfaat ekonomi bagi para kreator Indonesia. Inilah semangat dari Kadin sebagai soft power diplomacy yang berdampak pada eksposur dan ekonomi nasional Indonesia,” tegas Menekraf.

Kementerian Ekraf menganggap pergerakan ini berjalan seirama dengan Peraturan Presiden mengenai Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menginstruksikan sinergi 26 kementerian/lembaga guna merancang ekosistem nasional jangka panjang (2026–2045) maupun jangka menengah (2026–2029) berdampingan dengan target tiga tahun mendatang.

Selain memperluas penggolongan usaha dari 17 menjadi 21 subsektor berkat kehadiran konten digital, teknologi mutakhir, voice over, serta modifikasi otomotif, Rindekraf bersama Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 menetapkan 7 subsektor prioritas, mencakup film, animasi, musik, serta gim, yang diproyeksikan memberi implikasi nyata pada investasi, ekspor, penyerapan tenaga kerja, hingga peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional.

Atensi masif Presiden pada sektor ekonomi kreatif turut dilandasi oleh fakta bahwa bidang ini tak sekadar menjadi penopang, melainkan telah bertransformasi sebagai salah satu penggerak baru pertumbuhan ekonomi nasional yang terkonfirmasi melalui lonjakan tajam Indikator Kinerja Utama (IKU).

Selaras dengan Rindekraf, komitmen tersebut diperkuat lewat program prioritas Creative by Indonesia yang dirancang untuk menyokong karya berbasis kekayaan intelektual agar sanggup menjadi tuan rumah di tanah air sekaligus merambah pasar internasional secara terpadu dan berkelanjutan.

Kehadiran Menekraf pada ajang ini merupakan kelanjutan dari kerja sama bersama Kadin Indonesia yang telah terbangun sewaktu audiensi di Jakarta pada 21 Oktober 2025 dalam membahas strategi scale up bagi para pelaku ekonomi kreatif.

IdeaFest merupakan agenda festival industri kreatif tahunan sejak 2011 yang diinisiasi oleh Samara Group sebagai wadah kolaborasi para visioner, yang mana pada sesi "Dari Budaya Jadi Daya" diluncurkan gerakan "Nusantara Rising: Indonesia Collective Soft Power Movement" oleh Kadin Indonesia.

Ajang ini diselenggarakan guna menghimpun sektor pemerintah, dunia usaha, beserta para pelaku kreatif dalam mengonversi aset kebudayaan menjadi nilai ekonomi yang konkrit.

"Ini bukan sekadar soal nilai ekonomi, melainkan tentang pengaruh, narasi, dan kedaulatan bangsa kami di mata dunia. Dan inilah yang kami mulai hari ini kami “Nusantara Rising: fashion leading Beyond Culture" dari budaya ke daya, dari karya lokal ke panggung global, dari potensi menjadi pengaruh, dari pasar besar menjadi pemain besar," ungkap Wakil Ketua Umum Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani.

Tags

Terkini