Mengenal D100: Green Diesel Sawit Pengganti Bahan Bakar Fosil

Senin, 31 Agustus 2026 | 21:01:02 WIB
Bahan bakar diesel yang diolah secara menyeluruh dari minyak kelapa sawit. (Foto: NET)

JAKARTA — Upaya Indonesia dalam mengoptimalkan bahan bakar nabati berbahan baku sawit terus digalakkan guna menekan ketergantungan terhadap energi fosil. Salah satu wujud nyata dari inisiatif tersebut adalah pengembangan D100 atau green diesel, yakni bahan bakar diesel yang diolah secara menyeluruh dari minyak kelapa sawit.

Tidak seperti jenis biodiesel konvensional yang dicampurkan ke dalam program mandatori seperti B35, B40, hingga B50, D100 merupakan varian diesel nabati murni tanpa campuran bahan bakar berbasis minyak bumi. 

Karakteristik fisik maupun kimianya dirancang sedemikian rupa agar menyerupai solar fosil sehingga kompatibel digunakan pada mesin diesel modern masa kini.

Proyek perintis pengolahan D100 ini dikerjakan secara kolaboratif oleh PT Kilang Pertamina Internasional bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengandalkan Katalis Merah Putih buatan periset lokal. Fasilitas produksinya sendiri telah mulai beroperasi di Kilang Dumai, Riau, semenjak tahun 2020 silam.

Berdasarkan penjelasan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), D100 diproses melalui teknik hydrotreating menggunakan bahan baku utama berupa refined, bleached, and deodorized palm oil (RBDPO). 

Melalui metode ini, minyak nabati direaksikan bersama hidrogen dan katalis untuk menyisihkan kandungan oksigen, sehingga berubah bentuk menjadi senyawa hidrokarbon yang mirip dengan minyak solar konvensional.

Keunggulan lain dari D100 terletak pada angka cetane yang sangat tinggi, yakni menyentuh kisaran 79. Angka tersebut jauh melampaui solar biasa yang berada di rentang 48 hingga 51, maupun produk Pertamina Dex di level sekitar 53. Angka cetane yang tinggi ini membuat proses pembakaran di dalam mesin menjadi jauh lebih optimal.

Uji berkendara yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa kendaraan bermesin diesel yang memakai D100 sanggup menjelajah hingga jarak sekitar 200 kilometer dengan performa mesin yang optimal. 

Uji coba tersebut juga membuktikan bahwa karakteristik suara mesin menjadi lebih halus, proses pembakaran kian efisien, serta berpotensi mereduksi emisi gas buang secara signifikan apabila dikomparasikan dengan bahan bakar fosil.

Meskipun sama-sama memanfaatkan minyak sawit sebagai bahan baku utama, D100 dan biodiesel program B40 maupun B50 memiliki metode pengolahan yang berlainan. 

Biodiesel FAME dihasilkan lewat jalur esterifikasi atau transesterifikasi minyak nabati yang kemudian dicampur bersama solar fosil sesuai persetujuan pemerintah. Sebaliknya, D100 diolah memakai teknologi hydrotreating tanpa pencampuran bahan bakar fosil sama sekali.

Strategi hilirisasi ini memberikan keleluasaan bagi Indonesia untuk mendayagunakan komoditas sawit secara lebih luas, tidak sebatas komoditas pangan atau produk oleokimia semata, melainkan sebagai cadangan energi mandiri. 

Di samping itu, pemanfaatan D100 diyakini mampu meredam volume impor energi sekaligus memperkuat pilar ketahanan nasional.

Kendati menyimpan potensi yang besar, realisasi produksi massal D100 masih dihadapkan pada sejumlah kendala krusial. Aspek investasi guna membangun infrastruktur kilang pengolahan dan penyediaan pasokan hidrogen menjadi tantangan teknis tersendiri. 

Selain itu, aspek keekonomian serta jaminan ketersediaan pasokan bahan baku sawit yang berkesinambungan mutlak diperlukan agar produk hilirisasi ini mampu bersaing secara kompetitif di masa mendatang.

Tags

Terkini