JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) diagendakan mengumumkan data neraca perdagangan Indonesia untuk periode Juli 2026 pada Selasa (1/9/2026) besok. Menyongsong rilis tersebut, pandangan kalangan ekonom terbagi antara kemungkinan neraca perdagangan melanjutkan tren defisit atau berbalik mencetak surplus.
Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) Irman Faiz memperkirakan neraca perdagangan Juli 2026 masih akan membukukan defisit senilai US$380 juta. Walaupun demikian, posisi ini menunjukkan perbaikan tipis jika dikomparasikan dengan defisit bulan sebelumnya yang menyentuh angka US$450,5 juta.
"Kami memperkirakan ekspor sekitar US$25,82 miliar atau tumbuh 4,3% year on year [YoY], sementara impor sekitar US$26,20 miliar atau tumbuh 27,4% YoY" ujar Irman, Senin (31/8/2026).
Irman memaparkan bahwa penyusutan defisit ini terutama terbantu oleh defisit sektor minyak dan gas (migas) yang mulai menyusut. Pergerakan tersebut selaras dengan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang melunak dari US$83,45 menjadi US$81,68 per barel pada bulan Juli lalu.
Kendati demikian, tekanan dari defisit migas dipandang masih cukup berat sehingga belum sanggup ditutup sepenuhnya oleh surplus sektor nonmigas.
Dari ranah nonmigas, performa ekspor sebenarnya masih ditopang oleh produk manufaktur serta hilirisasi mineral. Meskipun begitu, laju tersebut tertahan oleh tren penurunan harga pada sejumlah komoditas unggulan, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Di sisi lain, arus impor terpantau masih mengalir deras.
"Jadi secara keseluruhan, penurunan harga minyak memberikan sedikit perbaikan, tetapi belum cukup untuk membawa neraca perdagangan kembali ke surplus," urainya.
Berbeda sudut pandang, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memproyeksikan neraca perdagangan Juli 2026 sanggup kembali membukukan surplus sebesar US$990 juta.
Merujuk pada kalkulasinya, performa ekspor pada Juli 2026 diestimasi menorehkan pertumbuhan sebesar 4,54% secara tahunan (YoY) dan 1,63% secara bulanan (month to month/MtM). Di samping itu, impor diestimasi tumbuh 20,94% YoY, namun mengalami kontraksi sebesar 3,96% MtM.
"Secara bulanan, ekspor naik lebih tinggi, tercermin dari data impor negara lain dari Indonesia yang lebih persisten dibandingkan dengan ekspor ke Indonesia yang turun lebih dalam," jelas David, Senin (31/8/2026).
Lebih lanjut, David mengamati bahwa secara keseluruhan harga komoditas ekspor sebenarnya mengalami perlambatan, khususnya untuk komoditas batu bara dan logam, sedangkan harga minyak cenderung stagnan sepanjang Juli.
Kendati demikian, penguatan performa ekspor, yang salah satunya digerakkan oleh volume komoditas seperti CPO dan batu bara, dianggap sanggup menjadi penggerak utama untuk menarik kembali neraca perdagangan ke zona hijau.