BRMP Dorong Mekanisasi Ubah Residu Pertanian Jadi Nilai Ekonomi

Selasa, 01 September 2026 | 19:19:31 WIB
Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mendorong penguatan pengelolaan sisa tanaman pertanian (crop residue) di Indonesia lewat penggunaan teknologi mekanisasi sebagai sumber daya yang mendatangkan nilai tambah ekonomi baru untuk petani.

Kepala BRMP Mekanisasi Pertanian Arief Rachman mengutarakan bahwa sisa tanaman atau residu pertanian seperti halnya jerami padi, batang dan daun jagung, hingga tebu sanggup menjadi peluang vital dalam pembangunan pertanian Indonesia serta menyimpan nilai ekonomis maupun ekologis tinggi usai masa panen.

“Kami perlu mendorong perubahan paradigma, yaitu sisa tanaman bukan hanya sekedar limbah, tetapi merupakan sumber daya. Kalau kami mengambil itu sebagai resource, maka kami akan berdaya-upaya untuk mengelola dan memanfaatkannya,” kata Arief dalam acara National Multistakeholder Dialogue bertajuk “Scaling Up Crop Residue Management through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia” di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Arief menjelaskan, sisa tanaman pertanian yang dibiarkan tanpa pengelolaan justru sanggup menimbulkan masalah, salah satunya melalui kebiasaan pembakaran sisa tanaman yang tidak cuma memicu polusi udara tetapi turut menghilangkan potensi biomassa yang sebenarnya sanggup didayagunakan kembali guna mendukung produktivitas.

Residu tanaman pun memiliki potensi untuk dimanfaatkan ulang menjadi pakan ternak, bahan organik, pupuk kompos, media pembudidayaan, maupun produk bernilai tambah serta berkelanjutan lainnya.

Arief memaparkan bahwa pemanfaatan sisa tanaman tersebut memerlukan sokongan mekanisasi. Piranti teknologi layaknya mesin pencacah, baler, sarana pengangkut, pengolah kompos, hingga mesin pemanfaat biomassa dinilai mampu membuat pengelolaan sisa tanaman berlangsung lebih cepat, efisien, serta hemat biaya.

Kendati demikian, Arief menekankan tantangan mekanisasi bukan sebatas membagikan mesin. Teknologi wajib tersedia (availability), terjangkau (affordability), sesuai kebutuhan para petani, serta sanggup dipakai secara berkelanjutan.

Salah satu opsi solusi yang dipacu yaitu skema custom hiring atau jasa sewa alat dan mesin pertanian (alsintan) via unit pelaksana jasa alsintan (UPJA) maupun pelaku usaha jasa alsintan. 

Melalui mekanisme ini, para petani tidak perlu membeli mesin secara perorangan, melainkan bisa memanfaatkan fasilitas layanan mekanisasi sesuai kebutuhan dan membayar berpatokan pada pemakaian.

“Model ini berpotensi meningkatkan akses terhadap teknologi, khususnya bagi petani kecil, sekaligus meningkatkan utilisasi alsintan yang tersedia,” katanya.

Arief menerangkan bahwa pengembangan mekanisasi pengelolaan sisa tanaman perlu dibangun dari hulu hingga hilir, tak sekadar mencakup penyediaan mesin, melainkan pula model bisnis, kelembagaan petani, penyedia jasa alsintan, rantai pasok biomassa, sampai kepastian pasar atas produk yang diproduksi.

Sebab, menurut pemikirannya, tolok ukur keberhasilan pengelolaan sisa tanaman bukan seberapa banyak jumlah mesin yang disebarkan, melainkan seberapa besar teknologi itu menghadirkan kegunaan nyata bagi para petani.

Arief berharap pendayagunaan residu berbasis mekanisasi mampu mendongkrak efisiensi kegiatan usaha tani, mencetuskan nilai tambah ekonomi, sekaligus memicu praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Arief turut menyampaikan bahwa BRMP Mekanisme Pertanian (Mektan) siap memberi dukungan lewat pengembangan serta pengujian teknologi, penyampaian rekomendasi teknologi sesuai kebutuhan lapangan, hingga penguatan sinergi bersama pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan penyedia jasa alsintan.

BRMP Mektan juga menjalin kolaborasi regional bersama UN ESCAP-CSAM dalam formulasi solusi berbasis mekanisasi demi pengelolaan residu tanaman yang kian berkelanjutan. 

Program inisiatif tersebut melibatkan Indonesia berdampingan dengan Kamboja serta Nepal sebagai wadah saling bertukar pengalaman dan pembelajaran antarnegara.

Perwakilan UN ESCAP-CSAM Marco Silvestri menyampaikan bahwa kolaborasi regional ini bukan sekadar memindahkan teknologi dari satu negara ke negara lain, melainkan pula saling memahami kebutuhan sektor pertanian yang lebih cocok dengan daerah dan tantangan tiap negara.

“Tujuan kerja sama ini bukan sekadar mentransfer teknologi dari satu negara ke negara lain. Kami ingin belajar dari Indonesia, berbagi pengalaman dari kawasan, dan mengidentifikasi solusi yang relevan dengan konteks Indonesia,” ujar dia.

Berdasarkan pandangan Marco, agenda ini menjadi momentum bagi pemerintah, petani, peneliti, serta sektor swasta untuk saling berbagi pengalaman dan bergotong-royong merumuskan solusi praktis.

Lewat ditopang teknologi yang tepat, layanan jasa alsintan yang gampang dijangkau, serta kelembagaan dan model usaha yang berkelanjutan, sisa tanaman diharapkan sanggup menjelma menjadi sumber daya yang menyumbang nilai tambah bagi petani sekaligus menopang sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

Tags

Terkini