KKP Temukan Tiga Anakan Buaya Sinyulong Langka di Mempawah

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:02:20 WIB
anakan buaya sinyulong [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendapati tiga anakan buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) yang baru saja menetas pada lingkungan permukiman warga nelayan Dusun Teredu, Desa Anjungan Dalam, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak Syarief Iwan Taruna Alkadrie lewat keterangan tertulis di Jakarta, Senin, menyampaikan penemuan itu mempertegas bahwasanya kondisi lingkungan Sungai Mempawah Hulu masih sangat mendukung ruang hidup serta perkembangbiakan satwa buaya langka tersebut.

Ia menjelaskan pemetaan buaya sinyulong di wilayah Kalimantan Barat pada masa sebelumnya lebih kerap ditemukan di kawasan Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Ketapang.

“Temuan anakan yang baru menetas di wilayah Mempawah mengonfirmasi bahwa ekosistem Sungai Mempawah Hulu masih mendukung keberadaan dan reproduksi spesies ini,” ujar Iwan.

Tiga ekor anakan buaya yang dalam bahasa warga lokal Dayak Kanayatn/Ahe dinamai “Baringayong” itu masing-masing mempunyai panjang sekitar 33 sentimeter.

Upaya penyelamatan diawali atas aduan warga terkait adanya telur buaya yang menetas pada area sekitar tempat tinggal nelayan serta muncul indikasi satwa itu hendak diperjualbelikan.

Merespons laporan tersebut, tim tanggap cepat dari Balai PK Pontianak mendatangi lokasi guna melakukan validasi serta pengumpulan data dan fakta di lapangan.

Mengacu pada pengecekan kondisi fisik awal secara daring bersama dokter hewan ahli, keadaan ketiga bayi buaya tersebut pada umumnya relatif sehat. 

Walau begitu, di area perut bagian bawah masih terdapat sisa kantung kuning telur (yolk sac) yang rawan menimbulkan infeksi jika tak ditangani secara medis dengan tepat.

Ketiga anakan buaya itu kini ditempatkan untuk menjalani perawatan serta inkubasi khusus pada Tempat Penampungan Sementara Balai PK Pontianak hingga kesehatan fisik dan organ luarnya membaik serta dipastikan stabil.

Iwan menegaskan penemuan ini menjadi catatan penting pada data distribusi buaya sinyulong di Kalimantan Barat sekaligus memberi penanda mengenai daya dukung lingkungan satwa tersebut.

Menurut penjelasannya, dinamika perubahan ekosistem seperti penurunan mutu dan penyempitan kawasan rawa gambut, fluktuasi pasang surut sungai, hingga ketersediaan rantai makanan alami perlu terus diperhatikan demi kelangsungan hidup buaya sinyulong.

KKP mengingatkan warga untuk tidak menangkap, merawat, atau memperdagangkan buaya sinyulong mengingat satwa tersebut menyandang status Endangered pada IUCN Red List dan terdaftar pada Appendix I CITES.

Tags

Terkini