Strategi Eagle High (BWPT) Mitigasi El Nino dan Karhutla

Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:29:02 WIB
Pekerja memindahkan buah kelapa sawit [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) merancang sederet langkah pencegahan guna menghadapi ancaman perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), demi menjamin kelangsungan operasional perusahaan.

Direktur dan COO BWPT Andrew Haryono menyampaikan bahwa perseroan telah mengantisipasi berbagai bahaya iklim melalui penerapan sistem pemantauan dini serta tindakan pencegahan. 

Tanda-tanda hadirnya El Nino mulai terdeteksi sejak Mei 2026 dan berpeluang menguat pada Juli, yang kemudian disusul oleh ancaman karhutla pada Agustus.

Menurut keterangannya, BWPT memprioritaskan prinsip pengenalan risiko seawal mungkin dan eksekusi tindakan yang sigap untuk memproteksi operasional perkebunan. 

Perseroan antara lain memanfaatkan teknologi citra satelit, pesawat nirawak (drone), menara pemantau kebakaran, hingga pengawasan lapangan secara berkala di sekitar kawasan kebun.

“Kami deteksi dini melalui menara pemantau api. Kami proaktif untuk menopang operasional ke depan. Prinsip kami adalah mengidentifikasi risiko lebih cepat dan memberikan respons yang lebih tanggap,” ujarnya dalam Paparan Publik, Kamis (27/8/2026).

Selain mengandalkan sistem pengawasan, BWPT turut mengukuhkan kesiapsiagaan melalui penyediaan sarana armada pemadam kebakaran serta tenaga kerja yang mumpuni. 

Tindakan ini dieksekusi sebagai bagian dari langkah preventif dalam mengantisipasi potensi bencana di wilayah operasional perkebunan.

Andrew menerangkan bahwa imbas fenomena El Nino terhadap aktivitas operasional BWPT hingga saat ini belum menunjukkan pengaruh yang signifikan. 

Perseroan masih terus mengamati pergerakan kondisi cuaca beserta dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit.

“Dampak El Nino secara riil belum terlihat. Kami menggunakan teknologi satelit, drone, menara api, dan patroli. Kami juga melengkapi peralatan damkar dan SDM yang cukup. Mungkin dampaknya akan kami monitor hingga tahun depan,” katanya.

Di samping itu, pihak BWPT menilai prospek pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih berada pada tren positif hingga penghujung tahun dan berlanjut menuju tahun mendatang. 

Andrew memproyeksikan harga CPO bakal bertahan di level tinggi lantaran pasokan pasar berpotensi tertekan di tengah lonjakan permintaan.

“Harga CPO akhir tahun hingga tahun depan masih tinggi karena suplai tertekan sementara demand meningkat,” ujarnya.

Sebagai informasi, PT Eagle High Plantations Tbk. merupakan entitas bisnis yang bergerak di industri perkebunan kelapa sawit dengan produk utama berupa tandan buah segar (TBS), sekaligus mengoperasikan pabrik pengolahan kelapa sawit yang menghasilkan CPO dan inti sawit (palm kernel). 

Jangkauan operasional BWPT tersebar di wilayah Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua dengan akumulasi luas lahan perkebunan mencapai sekitar 84.000 hektare. 

Perseroan turut menguasai total kapasitas pemrosesan pabrik kelapa sawit sebesar 2,4 juta ton TBS per tahun.

Dari aspek keberlanjutan lingkungan, BWPT menegaskan komitmennya melalui pemenuhan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk keseluruhan volume produksi CPO yang dihasilkan perseroan.

Tags

Terkini