Jelang Kontrak 2027 Berakhir, Donggi Senoro Cari Pembeli LNG Baru

Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:09:01 WIB
Kapal tanker LNG Maleo milk DSLNG [FOTO: NET].

JAKARTA- Perusahaan kilang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), tengah membidik peluang pasar baru seraya menjalin diskusi terkait keberlanjutan kontrak jangka panjang bersama para pembeli utama asal Jepang dan Korea Selatan.

Saat ini, DSLNG masih terikat kesepakatan pasokan LNG jangka panjang dengan JERA, Kyushu Electric, serta Korea Gas Corporation (Kogas). Masa berlaku kontrak dengan ketiga entitas pembeli eksisting tersebut dijadwalkan bakal berakhir pada Desember 2027.

Plant Deputy General Manager DSLNG Sugianto Darsani menuturkan bahwa pembahasan mengenai perpanjangan kontrak masih bergulir dan diharapkan dapat segera mencapai kepastian dalam waktu dekat.

"Sedang, tapi finalnya belum. Itu PR kami ya mudah-mudahan nanti di Desember sudah ada gambarannya," kata Sugianto saat ditemui di Banggai, Sulawesi Tengah, dikutip Rabu (19/8/2026).

Walau bagaimanapun, DSLNG membuka ruang untuk menjajaki calon pembeli baru yang potensial. "Tim kami sedang bekerja nyari pasar. Ya bisa existing, bisa nambah," imbuhnya.

Di lain sisi, DSLNG memegang komitmen untuk mengutamakan pemenuhan pasokan LNG bagi pasar domestik sesuai dengan regulasi pemerintah. Karena itu, pembagian jatah gas untuk kebutuhan ekspor ke depan bakal disesuaikan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

Berkaitan dengan kebijakan tersebut, pihak DSLNG berharap konsumen dari pasar domestik, seperti PT PGN (Persero) Tbk, dapat bertindak sebagai pembeli jangka panjang (long term buyer).

"Jadi pemerintah menetapkan harus supply kebutuhan dalam negeri diutamakan. Ya nanti kontrak dari luar itu pasti sisanya," kata Sugianto.

Dalam durasi dua tahun terakhir, volume penyaluran LNG dari DSLNG ke pasar domestik memang melonjak drastis. Pada 2026, DSLNG mengalokasikan 15 kargo LNG bagi PGN, melompat dari alokasi delapan kargo pada 2025. Peningkatan permintaan LNG domestik ini terpacu oleh menyusutnya pasokan gas pipa.

Hingga Agustus 2026, DSLNG telah mendistribusikan total enam kargo LNG kepada PGN, sementara sembilan kargo sisanya bakal dikirimkan secara bertahap hingga penghujung tahun.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa defisit pasokan LNG untuk kebutuhan dalam negeri saat ini terjadi lantaran perencanaan masa lalu yang kurang mengantisipasi lonjakan konsumsi domestik.

"Apa yang terjadi? Kami desain agar tidak ada impor, tapi sebagian kami menunda kewajiban ekspor kami, nanti kami lakukan di 2026," jelasnya.

Pemerintah ditegaskan tetap konsisten menjaga neraca perdagangan dengan tidak menerbitkan izin impor. Untuk menambal celah kebutuhan dalam negeri, pemerintah menerapkan skema swap gas atau penataan ulang jadwal pengiriman ekspor LNG.

SKK Migas juga memproyeksikan kebutuhan LNG domestik bakal membengkak hingga 200 kargo dalam kurun 10 tahun mendatang. 

Esensialnya lonjakan kebutuhan dari PLN ini sejalan dengan target pengembangan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang dipatok mencapai 10,3 gigawatt (GW).

Berdasarkan acuan RUPTL 2025–2034, PLN ditargetkan dapat menambah kapasitas daya sebesar 71,2 GW dari sektor energi baru terbarukan (EBT), di mana 10,3 GW di antaranya akan disokong oleh pembangkit berbasis gas.

Tags

Terkini