Ancaman El Nino, Pertanian Jawa Tengah Terancam Kekeringan

Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:57:32 WIB
Ilustrasi musim kemarau [FOTO: NET].

JAKARTA - Ancaman fenomena El Nino yang diproyeksikan mencapai puncaknya pada periode Agustus-September 2026 dikhawatirkan mengganggu sektor pertanian di Jawa Tengah. Pemerintah daerah setempat pun berpacu menyusun berbagai langkah mitigasi demi menjamin kelancaran produksi pangan.

"Kami sudah mengantisipasi karena Jawa Tengah ini lahannya 74% adalah sawah, atau sawah irigasi. Sedangkan 26% itu termasuk yang tadah ada hujan. Sehingga memang kondisi saat ini kami perlu untuk mempersiapkan infrastruktur seperti sumur, kemudian irigasi perpipaan," ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, dikutip Rabu (19/8/2026).

Frans menegaskan bahwa tindakan darurat yang mesti dimaksimalkan di lapangan yaitu menyedot air dari sumber yang masih tersedia sekaligus mengebor titik-titik mata air baru. 

Tindakan tersebut mendesak dilakukan menyusul perkiraan cuaca yang menunjukkan ancaman kemarau panjang serta peningkatan suhu ekstrem yang berpotensi mempercepat tingkat penguapan dan menguras cadangan air pertanian.

"Kalau kami lihat trennya kemarau tahun ini mudah-mudahan periodenya tidak terlalu panjang. Karena dari peramalannya itu kan ada dua ya, bisa periodenya yang lama, atau periodenya singkat dengan suhu panas yang tinggi, artinya kecepatan penguapan dan hilangnya sumber air itu lebih cepat. Tapi mudah-mudahan periodenya tidak lama," tambah Frans.

Keberadaan sektor pertanian Jawa Tengah memegang peranan yang amat krusial dalam menyokong stok pangan nasional, mengingat posisi strategis wilayah ini sebagai salah satu produsen utama padi, jagung, dan kedelai.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari, menerangkan bahwa pihaknya tengah merancang skenario mitigasi dampak kekeringan jangka pendek maupun jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan daerah.

"Ada beberapa daerah yang sudah mulai kekeringan, dan effort yg akan kami lakukan ke depan kami bagi berdasarkan waktu dekat dan panjang. Dalam waktu dekat kami lakukan pengerukan sedimentasi dan pengeboran sumur dangkal. sementara untuk jangka panjang, perlu dilakukan rekonstruksi atau perbaikan irigasi atau perbaikan waduk yang ada," jelas Andi.

Bank Indonesia siap memfasilitasi pembuatan sumur dangkal dalam waktu dekat, serta berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk pengerahan alat berat pengeruk sedimentasi. 

Di sisi lain, BI juga terus mengkaji efektivitas penggunaan teknologi Pompa Air Tenaga Surya (PATS) untuk sumur pompa petani.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong modernisasi irigasi berbasis energi terbarukan melalui pemanfaatan PATS. Teknologi pompa ini juga telah beroperasi di Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, hingga Sayung di Kabupaten Demak.

"Ini akan kami kembangkan, nanti akan kami sosialisasikan, lalu infrastrukturnya kami disiapkan. Pompa tenaga surya ini juga sudah digunakan di Sayung Demak untuk mengatasi banjir," tutur Luthfi ketika mengunjungi Desa Tengengwetan, Kabupaten Pekalongan pada 10 Agustus 2026 silam.

Luthfi juga menggerakkan program Revolusi Lahan (Revola) untuk memulihkan lahan tidak produktif. Proyek percontohan di Banjarnegara berhasil mengubah 10 hektare lahan tidur menjadi pusat pertanian terpadu berbasis teknologi cerdas yang mengintegrasikan kopi, alpukat, hortikultura, perikanan, serta peternakan.

"Saya ingin seluruh kabupaten/kota harus punya Revola, karena saya yakin di seluruh kabupaten/kota masih banyak lahan kami yang tidur nyenyak. Lahan tidur yang tidak pernah digarap," ujar Luthfi.

Tags

Terkini