JAKARTA - Di tengah bayang-bayang kekeringan akibat fenomena El Nino, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat menjamin ketersediaan pangan di wilayahnya berada dalam kondisi aman sampai Ramadhan 2027.
Pernyataan ini disampaikan guna memberikan kepastian dari pemerintah daerah dalam menjaga kestabilan pasokan bahan pangan, kendati sektor pertanian mulai terdampak musim kemarau yang panjang.
Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin, memproyeksikan bahwa pasokan bahan pangan pokok bagi masyarakat bakal tetap mencukupi dalam jangka menengah.
Proyeksi tersebut didasarkan pada pola pemenuhan pangan tahunan milik pemerintah daerah serta tata kelola stok yang terintegrasi dengan Badan Pangan Nasional.
"Kebutuhan pangan pokok menjelang masa mendatang secara umum diproyeksikan sudah mencukupi. Mengacu pada pola pemenuhan pangan tahunan, Pemda Provinsi Jawa Barat dan manajemen stok terintegrasi dari Badan Pangan Nasional," ujar Linda, Rabu (12/8/2026).
Apa saja komoditas pangan yang dipastikan aman?
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwasanya beberapa komoditas utama tetap diutamakan demi menjaga ketersediaan pangan. Komoditas yang dimaksud antara lain:
Beras sebagai kebutuhan pokok utama warga
Cabai yang berpengaruh pada stabilitas harga pangan
Daging ayam sebagai sumber protein hewani
Linda menyampaikan bahwa ketiga bahan pangan tersebut bakal dijaga agar tetap surplus melalui penguatan cadangan pangan daerah dan pengoptimalan masa tanam.
"Komoditas utama seperti beras, cabai, dan daging ayam akan dipersiapkan agar tetap surplus melalui pasokan cadangan pangan daerah dan optimalisasi masa tanam," katanya.
Langkah ini diharapkan mampu mempertahankan stabilitas pasokan sekaligus menekan risiko lonjakan harga di tengah kondisi cuaca yang sukar diprediksi.
Bagaimana dampak kemarau terhadap sektor pertanian?
Kendati persediaan pangan diprediksi aman, pemerintah tak menampik bahwa kemarau panjang mulai memicu tekanan terhadap sektor pertanian.
Sejak Juli 2026, sejumlah daerah di Jawa Barat mulai diterpa kekeringan yang berimbas pada kemerosotan angka produksi.
Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada rentang Agustus hingga Oktober 2026. Situasi ini memperbesar potensi gagal panen, utamanya di areal persawahan yang bergantung pada pasokan air hujan.
"Kekeringan memberikan dampak langsung berupa penurunan proyeksi hasil panen serta risiko gagal panen pada lahan sawah tadah hujan yang kekurangan pasokan air," kata Linda.
Apa komoditas yang paling terdampak?
Di antara komoditas pertanian lainnya, padi menjadi tanaman yang paling terpukul oleh dampak kekeringan. Mengingat varietas ini sangat bergantung pada pasokan air, posisinya menjadi sangat rentan mengalami penurunan produksi kala kemarau melanda berkepanjangan.
Sebagai gambaran, beberapa daerah di Bandung Barat diperkirakan menghadapi penurunan produksi gabah sebesar 10–15 persen apabila tidak segera mendapatkan intervensi pengairan.
"Komoditas terdampak paling signifikan dirasakan pada komoditas padi (beras). Sebagai contoh, sejumlah kawasan seperti Bandung Barat memproyeksikan penurunan produksi gabah sekitar 10–15 persen jika tidak dilakukan intervensi pengairan secara cepat," katanya.
Kemerosotan ini berisiko mengganggu kestabilan pasokan beras jika tak segera diantisipasi lewat penanganan yang tepat.
Dalam menghadapi ancaman penurunan produksi tersebut, Pemprov Jawa Barat terus merealisasikan berbagai langkah mitigasi.
Salah satu penanganan utamanya yaitu memperbesar cadangan pangan daerah guna menjadi penyangga (buffer) tatkala produksi pertanian mengalami penurunan.