PLN Bidik Pengolahan Sampah Plastik Makassar Naik Jadi 20 Ton

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:53:01 WIB
PT PLN (Persero) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT PLN (Persero) membidik lonjakan kapasitas pengolahan sampah plastik melalui program ekonomi sirkular di Makassar, Sulawesi Selatan, hingga dua kali lipat menjadi 20 ton guna memperluas penetrasi pasar produk daur ulang di tingkat nasional.

Upaya ini direalisasikan lewat pendampingan PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) berkolaborasi dengan mitra binaan perseroan, yaitu Rappo Indonesia.

Sejak jalinan kerja sama dimulai pada akhir 2024, program tersebut telah mengolah kurleb 10,5 ton limbah sampah keras menjadi beragam produk furnitur, plakat, hingga aksesori.

Officer TJSL PLN UID Sulselrabar Khairunnisa menuturkan bahwa penambahan target kapasitas ini dirancang demi merespons pertumbuhan roda ekonomi kota dan melimpahnya potensi limbah plastik dari sektor kafe hingga kawasan perkantoran di Makassar.

"Ke depan kami menargetkan penyerapan sampah naik dari 10,5 ton menjadi 20 ton. Kami juga terdorong memperluas kolaborasi dengan instansi perkantoran dan korporasi agar volume sampah yang dikelola meningkat sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja," ujar Khairunnisa di Makassar, Minggu (9/8/2026).

Demi menyokong peningkatan kapasitas produksi tersebut, PLN menyerahkan bantuan sarana berupa mesin pencacah, mesin oven, mesin injeksi, hingga peralatan profil kayu. 

Ke depannya, perseroan juga menyiapkan penambahan mesin press serta penyelenggaraan program sertifikasi kompetensi untuk para pekerja.

General Affairs Rappo Indonesia Riswanda Fatriansyah mengungkapkan bahwa sampah plastik yang diproses didominasi jenis polyethylene terephthalate (PET) dan high density polyethylene (HDPE) seperti botol minuman serta botol oli, dengan volume pengolahan rutin berkisar 50 kg hingga 100 kg tiap bulannya.

Hasil olahan sampah plastik tersebut diproduksi menjadi meja, kursi, plakat, nampan, hingga aksesori yang dipasarkan pada kisaran harga Rp75.000 sampai lebih dari Rp3 juta per unit.

"Produk hasil daur ulang ini tidak hanya dipasarkan di Makassar, tetapi juga telah menjangkau kota-kota besar di Pulau Jawa. Khusus produk plakat, pemasarannya bahkan sudah menembus pasar Jakarta," jelas Riswanda.

Di luar ranah komersial, perluasan kapasitas pengolahan limbah ini turut menggeliatkan perekonomian warga pesisir di wilayah Untia, Makassar.

Aktivitas ini sanggup menyerap 20 hingga 25 tenaga kerja lokal yang meliputi kelompok nelayan serta masyarakat berpenghasilan rendah. Adapun rerata pendapatan bagi para pekerja menyentuh Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulannya.

Ke depannya, Rappo Indonesia bersanding dengan PLN berencana memperluas jangkauan bisnis sirkular dengan mengolah jenis limbah lain seperti limbah organik serta kertas demi menahan laju pembuangan sampah menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Tags

Terkini