Survei BI: Cicilan Konsumen Naik, Porsi Belanja Capai 72,7 Persen

Senin, 10 Agustus 2026 | 20:46:31 WIB
Kondisi finansial konsumen Indonesia pada Juli 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Kondisi finansial konsumen Indonesia pada Juli 2026 terpantau cukup stabil. Di tengah tingkat keyakinan konsumen yang tetap berada di zona optimistis, mayoritas pendapatan rumah tangga masih dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi, sementara porsi pembayaran cicilan atau utang mengalami kenaikan tipis.

Gambaran tersebut tercermin melalui Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) edisi Juli 2026.

Hasil survei memperlihatkan rata-rata porsi pendapatan konsumen yang dialokasikan untuk konsumsi menyentuh 72,7 persen, cenderung stabil jika dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 73,0 persen.

Pada saat yang sama, porsi pendapatan yang dialokasikan guna membayar cicilan atau utang bergeser naik dari 10,0 persen pada Juni 2026 menjadi 10,5 persen pada Juli 2026. 

Sementara itu, proporsi pendapatan yang ditabung konsumen berada di angka 16,8 persen, hanya mengalami penyesuaian kecil dari 17,0 persen pada bulan sebelumnya.

Konsumsi masih menjadi porsi terbesar

Komposisi pendapatan rumah tangga pada Juli 2026 menunjukkan bahwa sektor konsumsi masih mendominasi penggunaan pendapatan.

BI mencatat, dari total pendapatan konsumen, rata-rata 72,7 persen dialokasikan untuk belanja konsumsi. Angka ini memang sedikit terkikis dibanding 73,0 persen pada Juni 2026, tetapi tetap memegang porsi paling dominan dalam komposisi penggunaan finansial rumah tangga.

Sebaliknya, bagian pendapatan yang digunakan untuk melunasi cicilan atau utang naik menuju 10,5 persen. Dengan demikian, dijumpai kenaikan 0,5 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.

Adapun porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan berada pada level 16,8 persen, menyusut tipis 0,2 poin persentase dari 17,0 persen pada Juni 2026.

Bank sentral menilai rasio konsumsi beserta tabungan terhadap pendapatan terbilang relatif stabil, di tengah porsi pembayaran cicilan yang mengalami sedikit peningkatan.

Pergeseran komposisi tersebut juga tampak sewaktu konsumen dipetakan berdasarkan kelompok pengeluaran.

BI mencatat proporsi konsumsi terhadap pendapatan mengalami penurunan pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta, Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, serta di atas Rp 5 juta. Masing-masing berada di angka 73,5 persen, 71,3 persen, dan 69,0 persen.

Sementara itu, untuk kelompok pengeluaran lainnya, proporsi pendapatan yang digunakan untuk pemenuhan konsumsi justru bergerak naik.

Porsi cicilan naik pada sebagian besar kelompok

Lonjakan porsi pembayaran cicilan tidak cuma tecermin pada angka rata-rata secara nasional. BI mencatat, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk melunasi cicilan mengalami kenaikan di mayoritas kelompok pengeluaran.

Kondisi ini menandakan adanya pergeseran dalam komposisi penggunaan pendapatan rumah tangga sepanjang Juli 2026.

Meskipun demikian, rincian laporan BI tidak memberikan pemaparan lebih jauh mengenai kategori cicilan atau utang yang mengalami kenaikan tersebut.

Dalam riset yang sama, BI turut meninjau kondisi ekonomi konsumen lewat persepsi atas penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, hingga rencana pembelian barang tahan lama.

Hasilnya, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) pada Juli 2026 bertengger di zona optimistis, yaitu 107,9, walau melandai dari posisi 109,2 pada Juni 2026.

IKE tersebut disokong oleh tiga indikator utama. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) berada di level 118,5, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) sebesar 101,1, serta Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) sebesar 104,1. Ketiga indeks ini memang tercatat lebih rendah ketimbang bulan sebelumnya yang masing-masing berada di posisi 119,8, 101,8, dan 105,9.

Keyakinan konsumen tetap optimistis

Dinamika keuangan tersebut berlangsung di saat tingkat keyakinan konsumen secara umum masih terjaga dengan baik.

Survei Konsumen BI menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 berada di level 116,8. Posisi ini masih melampaui ambang batas 100 yang menandakan optimisme, walaupun terkoreksi dibanding IKK Juni 2026 yang sebesar 117,8.

Sikap optimistis konsumen juga tampak dari ekspektasi terhadap laju perekonomian dalam kurun waktu enam bulan mendatang. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Juli 2026 tercatat di level 125,7, turun tipis dari 126,4 pada bulan sebelumnya. Meski begitu, indeks tersebut konsisten berada di area optimistis.

BI mengutarakan kokohnya IEK bersumber dari optimisme terhadap ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan perkembangan kegiatan usaha. Ketiga indeks tersebut masing-masing berada di angka 133,6, 123,1, dan 120,4.

Ekspektasi penghasilan untuk enam bulan ke depan juga konsisten berada pada level optimistis di seluruh kelompok pengeluaran.

Akan tetapi, dijumpai tren perkembangan yang bervariasi antar-kelompok. Indeks ekspektasi penghasilan pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta serta Rp 3,1 juta hingga Rp 4 juta mencatatkan penurunan dan masing-masing berada di posisi 126,9 dan 131,5. Sementara kelompok pengeluaran lainnya justru memperlihatkan kenaikan.

Bila ditinjau dari rentang usia, indeks ekspektasi penghasilan tertinggi berada pada kelompok usia 20-30 tahun sebesar 139,0, kemudian disusul kelompok usia 31-40 tahun sebesar 137,7.

Persepsi penghasilan saat ini masih kuat

Dari aspek pendapatan yang diterima saat ini, pandangan konsumen juga masih konsisten di level optimistis.

BI mencatat indeks penghasilan saat ini tetap berada dalam kondisi kuat pada seluruh kelompok pengeluaran, kendati sebagian besar kelompok mencatatkan penurunan indeks. Indeks paling tinggi dijumpai pada kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, yakni sebesar 124,5.

Berdasarkan kategori umur, indeks penghasilan saat ini tertinggi ditempati kelompok usia 20-30 tahun dengan capaian 124,9.

Namun, penilaian terhadap ketersediaan lapangan kerja memperlihatkan gambaran yang lebih beragam.

Responden dengan latar belakang pendidikan SMA mencatatkan penurunan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini dan indeksnya masih berada di area pesimistis.

 Sebaliknya, responden berpendidikan akademi atau diploma, sarjana, serta pascasarjana mencatatkan kenaikan indeks, masing-masing menjadi 106,2, 114,5, dan 101,7.

Berdasarkan kelompok umur, persepsi ketersediaan lapangan pekerjaan masih bertahan di level optimistis bagi kelompok usia 20-40 tahun, sementara kelompok usia di atas 41 tahun berada pada zona pesimistis.

Masih ada ruang untuk belanja barang tahan lama

Mengenai pembelian barang tahan lama, konsumen pada kelompok pengeluaran yang lebih tinggi masih memancarkan optimisme.

BI mencatat indeks pembelian barang tahan lama berada di level optimistis untuk kelompok pengeluaran di atas Rp 4,1 juta. Indeks tertinggi ada pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta, kendati melandai tipis menjadi 108,3.

Berdasarkan usia, indeks belanja barang tahan lama tertinggi berada pada kelompok usia 20-30 tahun sebesar 109,5, disusul kelompok usia 31-40 tahun sebesar 106,0.

Sedangkan untuk enam bulan mendatang, ekspektasi konsumen terhadap aktivitas usaha masih bertengger di zona optimistis. Indeks tertinggi menurut kelompok pengeluaran ada pada kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta, sebesar 127,4, disusul kelompok Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta sebesar 121,5.

Meskipun demikian, ekspektasi kegiatan usaha melandai pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 4 juta. Berdasarkan umur, penurunan indeks terjadi pada kelompok usia 41-50 tahun serta di atas 60 tahun, sedangkan kelompok usia lainnya mencatatkan kenaikan.

Survei melibatkan 4.600 rumah tangga

Survei Konsumen BI merupakan agenda survei bulanan yang rutin diadakan sejak Oktober 1999. Terhitung mulai Januari 2007, survei dilaksanakan dengan melibatkan kurang lebih 4.600 rumah tangga sebagai responden menggunakan metode stratified random sampling.

Pelaksanaan survei Juli 2026 menjangkau 18 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Bodebek, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Bandar Lampung, Palembang, Banjarmasin, Padang, Pontianak, Samarinda, Manado, Denpasar, Mataram, Pangkal Pinang, Ambon, dan Banten.

Mengenai metodologinya, BI menjelaskan bahwa angka indeks di atas 100 menandakan kondisi optimistis, sedangkan indeks di bawah 100 mencerminkan kondisi pesimistis.

Tags

Terkini