SSIA Optimis Raih Pendapatan Rp7,5 Triliun di Tengah 'Wait and See'

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 17:57:31 WIB
PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) tetap memelihara optimisme untuk mengamankan target pendapatan senilai Rp7,5 triliun sepanjang 2026, kendati mengakui bahwa tahapan pengambilan keputusan investasi saat ini memakan waktu lebih lama.

Perseroan menegaskan bahwa tingginya minat pemodal, utamanya pada area kawasan industri Subang Smartpolitan, masih menjadi penopang utama bagi prospek bisnis pada semester II/2026.

VP of Investor Relation dan Corporate Communication SSIA Erlin Budiman memaparkan bahwa permintaan terhadap lahan industri masih tergolong solid. Walau begitu, berhadapan dengan dinamika ekonomi global, calon pemodal memerlukan durasi yang lebih panjang sebelum memfinalisasi pembelian.

"Kami masih menerima banyak permintaan. Namun, untuk keputusan pembelian memang membutuhkan waktu yang lebih lama," ujarnya kepada Bisnis.com, Jumat (8/7/2026).

Walau demikian, SSIA tetap meyakini kapabilitasnya untuk membukukan lonjakan pendapatan yang signifikan pada tahun ini. Perseroan masih mengantongi sejumlah backlog penjualan lahan yang bakal diakui sebagai pendapatan pada semester II/2026.

Sampai penutupan tahun, SSIA membidik perolehan pendapatan menyentuh angka Rp7,5 triliun, terkerek sekitar 69,7% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan pencapaian 2025 yang berada di angka Rp4,42 triliun.

Sikap optimistis itu disokong oleh prospek bisnis kawasan industri Subang Smartpolitan yang terus memikat perhatian pemodal dari berbagai penjuru negara. Erlin membeberkan, arus permintaan mengalir dari korporasi asal China, Indonesia, Jepang, Malaysia, hingga Singapura.

Sementara itu, lini industri yang memperlihatkan ketertarikan untuk menanamkan modal juga kian beragam, memperlihatkan betapa luasnya basis permintaan di kawasan tersebut. 

Sektor-sektor itu mencakup otomotif, komponen otomotif, baterai, bahan bangunan, barang konsumsi (consumer goods), pusat data (data center), elektronik, makanan dan minuman, garmen, alat berat, kemasan, farmasi, baja dan logam, tekstil, sampai pergudangan.

Diversifikasi asal investor maupun latar belakang sektor industri tersebut dinilai menjadi katalis positif bagi penjualan lahan SSIA, sekaligus meredam risiko ketergantungan pada satu bidang industri saja.

Di samping lini kawasan industri, SSIA turut merancang strategi untuk menggenjot pertumbuhan pada segmen perhotelan di paruh kedua tahun ini.

"Perseroan juga mengandalkan kontribusi dari Paradisus by Meliá Bali yang telah kembali beroperasi atau reopening sejak Mei 2026 setelah menjalani proses renovasi," imbuhnya.

Menurut Erlin, kembali beroperasinya resor mewah tersebut bakal menjadi salah satu pendorong utama (driver) pertumbuhan bisnis hospitality SSIA sepanjang 2026.

Dalam laporan keterbukaan informasi publik, SSIA mengabarkan bahwa aktivitas penjualan lahan industri baru mengalami perlambatan. 

Sepanjang semester I/2026, PT Suryacipta Swadaya (SCS) selaku anak usaha SSIA yang memegang kendali kawasan industri mencatatkan marketing sales lahan industri seluas 9,4 hektare dengan nilai Rp195,9 miliar.

Perseroan menerangkan perlambatan tersebut dipicu oleh meningkatnya suhu geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong sejumlah perusahaan global menangguhkan keputusan investasi langsung (foreign direct investment/FDI).

Meski begitu, pencatatan penjualan secara akuntansi tetap berada di level tinggi karena bersumber dari transaksi yang telah dibukukan sebelumnya. 

Sepanjang semester I/2026, SSIA membukukan pengakuan penjualan lahan industri seluas 64,7 hektare senilai Rp1,08 triliun dari proyek Subang Smartpolitan serta Suryacipta City of Industry Karawang.

Hingga akhir Juni 2026, backlog penjualan lahan SCS tercatat berada di angka Rp84,3 miliar, yang mencerminkan penjualan lahan seluas 4,1 hektare.

Merujuk laporan keuangan perseroan, SSIA mengumpulkan pendapatan konsolidasian sebesar Rp3,35 triliun pada semester I/2026, melonjak 58,4% secara tahunan (YoY) dibandingkan perolehan Rp2,12 triliun pada kurun yang sama tahun sebelumnya.

Erlin Budiman menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh segmen properti yang membukukan lonjakan pendapatan paling tinggi. Pendapatan sektor ini menyentuh Rp1,27 triliun, melesat 274,1% YoY berkat dorongan pengakuan penjualan akuntansi lahan industri.

Kinerja operasional yang kian solid mengantarkan SSIA mencetak laba bersih mencapai Rp262,6 miliar pada semester I/2026. Lini properti kembali tampil sebagai penopang utama dengan raihan laba bersih Rp459,3 miliar, melonjak drastis dibandingkan perolehan Rp44,9 miliar pada semester I/2025.

EBITDA konsolidasian tercatat menyentuh Rp692,5 miliar dengan margin EBITDA 20,7%, jauh menanjak bila disandingkan dengan EBITDA Rp106 miliar dengan margin 5% pada semester I/2025. Kenaikan margin paling menonjol bersumber dari segmen properti yang mencatatkan margin EBITDA 42,9%, naik dari posisi 14,5% pada periode yang sama tahun lalu.

Tags

Terkini