Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Perlambatan Dibayangkan di Semester II

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 16:44:01 WIB
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 [FOTO: NET].

JAKARTA - Perekonomian Indonesia membukukan pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026. Capaian pertumbuhan ini melampaui proyeksi Danamon yang sebesar 5,2 persen maupun konsensus pasar di kisaran 5,1 persen. 

Walau demikian, laju pertumbuhan ini mengalami penyesuaian melambat bila dibandingkan dengan kuartal I-2026 yang menyentuh angka 5,6 persen.

Secara kuartalan (quarter to quarter/QoQ), laju ekonomi nasional tumbuh sebesar 3,7 persen.

Ekonom Danamon Faiz Irman menyampaikan bahwa performa ekonomi pada triwulan II-2026 mengindikasikan tingkat permintaan dalam negeri yang masih tergolong solid di tengah sokongan fiskal. Walau begitu, dorongan ekspansi yang amat tinggi pada awal tahun mulai mengalami normalisasi.

"Ekonomi Indonesia tumbuh 5,3 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih tinggi dari perkiraan kami sebesar 5,2 persen dan konsensus pasar sekitar 5,1 persen, tetapi melambat dari 5,6 persen pada kuartal I-2026," ujar Faiz dalam analisisnya pada Sabtu (8/8/2026).

Berdasarkan pemaparan Faiz, penyesuaian melambat pada triwulan II-2026 utamanya dipicu oleh normalisasi pada konsumsi rumah tangga beserta belanja pemerintah. Porsi kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap laju ekonomi menyusut jadi 2,67 poin persentase (ppt) dari sebelumnya 2,95 ppt di kuartal I-2026. 

Penurunan ini sejalan dengan usainya momen pendorong Ramadhan dan Idul Fitri yang sempat menopang tingkat mobilitas warga, sektor transportasi, rumah makan, serta perhotelan di kuartal I-2026. Sementara itu, porsi kontribusi belanja pemerintah terkoreksi menjadi 1,07 ppt dari 1,26 ppt.

Faiz mengutarakan bahwa normalisasi konsumsi pemerintah memang sudah diprediksi seusai terjadinya penyerapan tinggi pada belanja pegawai, penyaluran tunjangan hari raya (THR), hingga alokasi anggaran untuk serangkaian program prioritas nasional di kuartal I-2026, termasuk tahap mula penggelaran program makan bergizi gratis.

Berdasarkan sajian data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi pemerintah sempat melonjak 21,8 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Kendati begitu, ritme pertumbuhannya melambat ke level 15,8 persen secara tahunan pada triwulan II-2026.

Di tengah penurunan konsumsi, sektor investasi tampil sebagai instrumen utama yang menahan laju perlambatan ekonomi nasional. Faiz mencatat porsi kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menanjak ke angka 2,06 ppt pada triwulan II-2026, dari sebelumnya 1,79 ppt pada triwulan I-2026.

 Penguatan ini bersumber dari paduan investasi pemerintah yang berkaitan dengan program prioritas nasional dan infrastruktur, beserta penanaman modal swasta di ranah manufaktur, hilirisasi, permesinan, infrastruktur digital, kecerdasan buatan (AI), serta pusat data. 

Dinamika ini turut tecermin dari menguatnya impor barang modal dan realisasi investasi pada kuartal II-2026 yang menembus sekitar Rp 512 triliun.

Menurut penjelasannya, iklim investasi tetap membukukan kinerja positif meski kondisi investasi domestik secara umum mulai mengendur. 

Di sisi lain, sektor eksternal masih menjadi pemberat pertumbuhan, walaupun tekanan dari ranah tersebut mulai mereda. Porsi kontribusi ekspor neto terdata minus 0,78 ppt pada triwulan II-2026, membaik ketimbang posisi minus 1,01 ppt pada triwulan sebelumnya.

Dengan demikian, menurut penilaian Faiz, ekspor neto tidak menjadi faktor pemicu perlambatan ekonomi secara kuartalan.

Malah sebaliknya, berkurangnya tekanan dari sektor eksternal ikut meredam dampak penurunan konsumsi serta dukungan fiskal. 

Kendati demikian, ranah eksternal tetap menghadirkan tantangan lantaran tingginya volume impor, utamanya sektor energi dan barang modal, yang menggerus porsi kontribusi perdagangan pada pertumbuhan ekonomi.

Faiz memproyeksikan kecenderungan melambat pada pertumbuhan ekonomi bakal kian kentara pada semester II-2026. 

Menurut pandangannya, dinamika belanja pemerintah diperkirakan kembali melambat seiring implementasi kebijakan fiskal yang mulai bergeser dari fase awal peluncuran serta transformasi program prioritas nasional menuju pola pelaksanaan yang lebih reguler.

Di sisi lain, iklim moneter beserta ketatnya likuiditas, melonjaknya beban pinjaman, serta sektor eksternal yang belum sepenuhnya kondusif diperkirakan akan menekan tingkat permintaan swasta.

"Kami memperkirakan moderasi pertumbuhan akan semakin terlihat pada semester II-2026," ujar Faiz.

Walau demikian, Faiz menilai penyesuaian melambat pada triwulan II-2026 masih relatif terukur lantaran ditopang oleh kinerja investasi yang kian solid, konsumsi rumah tangga yang tetap berdaya tahan, geliat aktivitas konstruksi, serta menyusutnya tekanan dari ekspor neto. 

Lewat komposisi tersebut, laju ekonomi Indonesia dinilai kian bergeser menjadi berbasis investasi, dengan belanja modal pemerintah dan swasta mampu mengompensasi melandainya belanja pemerintah.

Danamon memilih mempertahankan proyeksi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 di kisaran 5,2 persen secara tahunan.

Tags

Terkini