JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwasanya tiga inisiatif transformasi sektor industri nasional menyita perhatian dalam agenda kemitraan negara-negara BRICS pada ajang 4th BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) Advisory Group Meeting di New Delhi, India.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan, BRICS PartNIR menjadi sarana vital bagi Indonesia guna menyelaraskan taktik transformasi industri nasional dengan arah pembangunan industri negara-negara anggota BRICS.
"Indonesia memandang PartNIR sebagai platform penting untuk menyelaraskan strategi industri nasional dengan kapabilitas kolektif negara-negara BRICS. Dengan menyatukan kekuatan dan saling berbagi strategi terbaik, kami dapat menjawab tantangan bersama serta memastikan kemajuan teknologi yang memberikan manfaat yang setara bagi seluruh negara peserta," ujar Menperin dalam keterangannya dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Jajaran negara yang tergabung di dalam BRICS di antaranya Brasil, Rusia, India, China (Tiongkok), Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Indonesia.
Forum yang diselenggarakan pada 3 Agustus tersebut membicarakan perumusan Joint Declaration (deklarasi bersama) yang bakal dijadikan landasan kolaborasi BRICS di ranah inovasi industri, manufaktur ramah lingkungan, pengembangan kapabilitas, hingga penguatan rantai pasok industri.
Dalam pertemuan itu, pihak Indonesia mempresentasikan beragam inisiatif transformasi industri nasional yang sejalan dengan fokus utama BRICS PartNIR.
Tiga pilar transformasi industri yang mendulang perhatian utama mencakup peningkatan daya saing sektor industri kecil dan menengah lewat program Industri Kecil Menengah (IKM) 4.0, percepatan transisi menuju industri hijau, serta penguatan sistem rantai pasok industri berbasis data.
Penguatan IKM 4.0 ditujukan demi mendongkrak keunggulan kompetitif industri kecil dan menengah sekaligus memacu akselerasi startup supaya semakin adaptif terhadap pergeseran teknologi digital serta sanggup bersaing di arena pasar internasional.
Di samping itu, pergeseran ke arah industri hijau direalisasikan lewat penerapan dekarbonisasi industri, ekonomi sirkular, pemanfaatan sumber energi terbarukan, hingga pengadopsian teknologi digital di dalam alur proses industri.
Sementara itu, konsolidasi rantai pasok industri berbasis data ditempuh lewat Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), yang menyokong kelancaran arus perdagangan lintas negara sekaligus memperkokoh daya tahan industri nasional menghadapi pelbagai tantangan global.
Selain memaparkan deretan inisiatif nasional, komitmen tersebut turut diwujudkan lewat pemanfaatan bermacam wahana kerja sama yang telah dibentuk oleh BRICS.
Pada BRICS Centre for Industrial Competencies (BCIC), Indonesia menangkap peluang untuk menguatkan pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui agenda pelatihan bersama dan pertukaran keahlian.
Tak hanya itu, lewat BRICS PartNIR Innovation Center (BPIC), Indonesia berkeinginan agar kolaborasi yang selama ini terbangun dapat tereskalasi menjadi proyek-proyek inovasi konkret beserta kemitraan teknologi yang menghadirkan faedah nyata untuk seluruh negara anggota.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy mengungkapkan, keikutsertaan aktif Indonesia pada BRICS PartNIR merupakan pijakan strategis demi memperluas jejaring kemitraan industri sekaligus mengakselerasi transformasi sektor manufaktur dalam negeri.
“Ke depan, Indonesia ingin meningkatkan keterlibatan yang selama ini telah terjalin menjadi kolaborasi yang lebih konkret, baik melalui pelatihan bersama, pertukaran keahlian, maupun kemitraan teknologi yang memberikan manfaat bagi seluruh negara anggota BRICS," ujarnya.
Menurut paparan Tri, melalui partisipasi aktif di dalam BRICS PartNIR, Indonesia mempertegas komitmennya untuk terus memperluas kemitraan internasional yang tidak sekadar berhenti pada ruang pertukaran ide, melainkan direalisasikan ke dalam kerja sama nyata di bidang pengembangan kompetensi, inovasi teknologi, serta transformasi industri demi menopang daya saing manufaktur nasional di panggung dunia.