Batu Bara

Harga Batu Bara Acuan Februari 2026 Resmi Ditetapkan, Kategori Tertinggi Mengalami Kenaikan Signifikan

Harga Batu Bara Acuan Februari 2026 Resmi Ditetapkan, Kategori Tertinggi Mengalami Kenaikan Signifikan
Harga Batu Bara Acuan Februari 2026 Resmi Ditetapkan, Kategori Tertinggi Mengalami Kenaikan Signifikan

JAKARTA - Pelaku industri energi dan pertambangan kembali mencermati pergerakan harga batu bara nasional pada awal Februari 2026. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan angka terbaru yang menjadi acuan transaksi penjualan batu bara di pasar domestik maupun internasional.

Penetapan ini menjadi rujukan penting bagi perusahaan tambang, eksportir, hingga pengguna batu bara dalam perencanaan bisnis mereka. Kebijakan tersebut juga mencerminkan kondisi pasar mineral dan batu bara yang masih dinamis di tengah transisi energi global.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral resmi menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk penjualan batu bara periode pertama Februari 2026. Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 47 Tahun 2026 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Periode Pertama Bulan Februari Tahun 2026.

Dalam aturan tersebut, pemerintah setidaknya memisahkan HBA berdasarkan empat kategori. Jika dibandingkan dengan HBA pada periode kedua Januari 2026, kategori batu bara dengan kalori tertinggi, yakni Kategori I dan Kategori III, mengalami kenaikan harga, sedangkan Kategori II justru mengalami penurunan.

Kebijakan ini sekaligus menunjukkan bahwa pasar batu bara nasional masih bergerak dinamis. Perubahan harga di setiap kategori dipengaruhi oleh permintaan global, kondisi pasokan, serta arah kebijakan energi nasional.

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM juga menyoroti optimisme pasar pada awal Februari 2026. Hal tersebut tercermin dari pernyataan resmi yang disampaikan melalui media sosial kementerian.

"Awal Februari 2026 ini, pasar minerba masih menunjukkan sinyal optimisme. Permintaan terhadap mineral strategis tetap solid seiring penguatan industri dan agenda hilirisasi nasional, di tengah dinamika transisi energi global," tulis Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM dalam unggahan Instagram @ditjenminerba, dikutip Senin, 2 Februari 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa meskipun dunia tengah bergerak menuju energi bersih, batu bara masih memegang peran penting. Khususnya bagi sektor industri dan pembangkit listrik yang masih mengandalkan pasokan energi fosil dalam jangka menengah.

Penetapan HBA juga berfungsi sebagai instrumen stabilisasi harga di pasar. Dengan adanya acuan resmi, pelaku usaha memiliki kepastian dalam merencanakan produksi, distribusi, dan penjualan batu bara.

Dasar Penetapan Harga Batu Bara Acuan

Harga Batu Bara Acuan ditetapkan secara berkala oleh pemerintah sebagai pedoman transaksi penjualan. Mekanisme ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.

HBA disusun berdasarkan kualitas batu bara yang dibedakan menurut nilai kalor, kandungan air, sulfur, dan abu. Setiap kategori mencerminkan karakteristik teknis batu bara yang berbeda dan menentukan kegunaan akhirnya di sektor industri maupun pembangkit listrik.

Dalam periode pertama Februari 2026, pemerintah kembali menyesuaikan harga berdasarkan perkembangan pasar global. Perubahan ini sekaligus mencerminkan kondisi permintaan internasional dan pasokan domestik yang masih relatif stabil.

Penyesuaian harga juga mempertimbangkan dinamika ekspor batu bara Indonesia. Sebagai salah satu eksportir terbesar di dunia, pergerakan harga global memiliki dampak langsung terhadap penerimaan negara dan kinerja sektor pertambangan nasional.

HBA tidak hanya menjadi acuan bagi transaksi ekspor, tetapi juga untuk pasar domestik. Hal ini terutama berlaku bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional melalui kebijakan Domestic Market Obligation.

Dengan penetapan HBA yang transparan, pemerintah berharap tercipta iklim usaha yang sehat. Di sisi lain, konsumen industri juga memperoleh kepastian harga dalam jangka pendek.

Penyesuaian harga pada Februari 2026 menunjukkan adanya tren perbaikan di beberapa kategori. Meski demikian, penurunan pada salah satu kategori juga menjadi sinyal bahwa pasar tetap bergerak fluktuatif.

Kondisi ini mengharuskan pelaku industri untuk terus memantau perkembangan kebijakan dan harga acuan. Langkah antisipatif menjadi penting agar perencanaan bisnis tetap berjalan optimal.

Rincian HBA Periode Pertama Februari 2026

Berikut daftar HBA periode pertama bulan Februari 2026. Data ini mencakup empat kategori batu bara berdasarkan nilai kalor dan spesifikasi teknis lainnya.

Pertama, HBA dalam kesetaraan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR, Total Moisture 12,26 persen, Total Sulphur 0,66 persen, dan Ash 7,94 persen ditetapkan sebesar US$106,11 per ton. Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan dengan HBA pada periode kedua Januari 2026 sebesar US$104,03 per ton.

Kenaikan pada kategori ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap batu bara dengan kalori tinggi. Jenis batu bara ini umumnya digunakan untuk pembangkit listrik dan industri yang membutuhkan efisiensi energi tinggi.

Kategori pertama ini menjadi salah satu indikator utama pergerakan pasar batu bara global. Kenaikannya mencerminkan masih kuatnya kebutuhan energi berbasis fosil di sejumlah negara.

Kedua, untuk HBA I dengan kesetaraan nilai kalori 5.300 kcal/kg GAR, Total Moisture 21,32 persen, Sulphur 0,75 persen, dan Ash 6,04 persen periode pertama Februari 2026 ditetapkan sebesar US$73,96 per ton. Angka ini mengalami kenaikan apabila dibandingkan dengan harga periode kedua Januari 2026 sebesar US$71,61 per ton.

Kenaikan pada kategori ini juga mencerminkan stabilnya permintaan batu bara kualitas menengah. Batu bara jenis ini banyak digunakan untuk pembangkit listrik dan industri pengolahan dengan kebutuhan energi moderat.

Perubahan harga pada kategori ini memberi dampak langsung terhadap pelaku usaha tambang berskala menengah. Selain itu, harga ini juga mempengaruhi daya saing batu bara Indonesia di pasar internasional.

Ketiga, untuk HBA II dengan kesetaraan nilai kalori 4.100 kcal/kg GAR, Total Moisture 35,73 persen, Sulphur 0,23 persen, dan Ash 3,9 persen periode pertama Februari 2026 yakni US$48,21 per ton. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan HBA periode kedua Januari 2026 yang berada di level US$48,39 per ton.

Penurunan pada kategori ini menunjukkan adanya tekanan permintaan untuk batu bara dengan kalori rendah. Jenis ini umumnya digunakan untuk kebutuhan tertentu yang tidak memerlukan efisiensi energi tinggi.

Meski penurunannya relatif kecil, pergerakan ini tetap menjadi sinyal penting bagi pelaku usaha. Fluktuasi pada kategori ini bisa memengaruhi volume penjualan dan strategi pemasaran tambang.

Keempat, untuk HBA III dengan kesetaraan nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR, Total Moisture 44,30 persen, Sulphur 0,24 persen, dan Ash 3,88 persen periode pertama Februari 2026 ditetapkan sebesar US$35,83 per ton. Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan periode kedua Januari 2026 yang berada di level US$35,38 per ton.

Kenaikan pada kategori ini menunjukkan bahwa batu bara kalori rendah tetap memiliki pasar tersendiri. Kebutuhan energi murah untuk sektor tertentu masih menjadi faktor pendorong permintaan.

Meskipun nilainya lebih rendah dibanding kategori lainnya, kategori ini tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap volume produksi nasional. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen utama batu bara dengan berbagai spesifikasi kualitas.

Dampak Penyesuaian Harga terhadap Industri

Penetapan HBA periode pertama Februari 2026 memberikan sinyal positif bagi pelaku industri tambang. Kenaikan pada dua kategori utama memperkuat prospek pendapatan perusahaan batu bara dalam jangka pendek.

Bagi pemerintah, penyesuaian ini juga berdampak terhadap penerimaan negara dari sektor pertambangan. Royalti dan pajak yang dihitung berdasarkan nilai jual batu bara berpotensi meningkat seiring kenaikan harga acuan.

Di sisi lain, penurunan pada kategori tertentu menjadi pengingat bahwa pasar tetap memiliki risiko fluktuasi. Perusahaan tambang perlu menyiapkan strategi mitigasi untuk menghadapi perubahan harga yang tidak terduga.

Kondisi pasar global juga terus memengaruhi pergerakan harga batu bara nasional. Ketegangan geopolitik, kebijakan energi negara besar, serta tren transisi energi berperan dalam menentukan permintaan jangka menengah dan panjang.

Meski demikian, pernyataan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara menunjukkan optimisme terhadap pasar minerba nasional. Permintaan mineral strategis dinilai tetap solid seiring dengan penguatan industri dan agenda hilirisasi.

Agenda hilirisasi nasional menjadi faktor penting dalam menjaga permintaan domestik. Pengembangan industri berbasis mineral dan energi di dalam negeri diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Transisi energi global juga turut memengaruhi strategi jangka panjang sektor batu bara. Meskipun energi terbarukan terus berkembang, batu bara masih memiliki peran dalam bauran energi nasional dalam beberapa dekade ke depan.

Oleh karena itu, penetapan HBA bukan hanya sekadar angka administratif. Kebijakan ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan ekonomi, ketahanan energi, dan komitmen terhadap pengurangan emisi karbon.

Bagi pelaku usaha, informasi HBA terbaru menjadi dasar dalam merancang kontrak penjualan. Selain itu, harga acuan ini juga menjadi referensi dalam perencanaan produksi dan investasi.

Bagi konsumen industri, kepastian harga membantu dalam penghitungan biaya operasional. Dengan demikian, penyesuaian HBA dapat memberikan dampak berantai terhadap berbagai sektor ekonomi.

Secara keseluruhan, penetapan Harga Batu Bara Acuan periode pertama Februari 2026 menunjukkan bahwa pasar batu bara nasional masih bergerak dinamis namun relatif stabil. Kenaikan pada kategori utama menjadi indikasi bahwa permintaan tetap terjaga di tengah dinamika global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index