Lonjakan Produksi

Lonjakan Produksi Bawang Merah dan Cabai Rawit Picu Deflasi Januari 2026

Lonjakan Produksi Bawang Merah dan Cabai Rawit Picu Deflasi Januari 2026
Lonjakan Produksi Bawang Merah dan Cabai Rawit Picu Deflasi Januari 2026

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan pasokan sejumlah komoditas hortikultura, termasuk bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit, pada awal 2026. Lonjakan pasokan ini berperan signifikan dalam terjadinya deflasi bulanan pada Januari 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa masa panen raya menjadi faktor utama peningkatan pasokan hortikultura. Produksi bawang merah, khususnya, menunjukkan lonjakan besar di awal tahun ini.

“Khusus untuk bawang merah, produksi Januari 2026 meningkat seiring panen raya di hampir seluruh sentra, termasuk Brebes, Brebes Raya, dan kawasan dataran tinggi,” ujar Ateng dalam Rilis Berita Resmi BPS, Senin, 2 Februari 2026.

Kontribusi Komoditas Hortikultura pada Deflasi

BPS mencatat kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar, yakni 1,03% mtm. Andil deflasi dari kelompok ini tercatat sebesar 0,30%, dipicu oleh kenaikan pasokan beberapa komoditas utama.

Cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar di kelompok ini dengan andil 0,16%. Disusul cabai rawit 0,08% dan bawang merah 0,07%, menunjukkan peran sentra hortikultura dalam stabilisasi harga pangan.

Selain itu, daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,05%. Sementara telur ayam ras menyumbang 0,03%, mencerminkan dampak panen dan distribusi yang lancar terhadap harga produk hewani.

Kenaikan pasokan bawang merah terlihat jelas di sejumlah daerah sentra produksi. Hal ini membantu menekan harga bawang merah di pasar, sehingga memberi efek deflasi.

Inflasi Tahunan Tetap Tinggi karena Efek Basis Rendah

Meski terjadi deflasi bulanan, inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 mencapai 3,55% yoy. Angka ini meningkat karena efek basis rendah dari periode yang sama tahun lalu.

Ateng menjelaskan bahwa pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik. Kebijakan tersebut menekan indeks harga konsumen (IHK) sehingga harga berada di bawah tren normal.

“Efek perbandingan terhadap Januari 2025 membuat inflasi tahunan tampak tinggi pada Januari 2026,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi bulanan dan tahunan bisa bergerak berbeda akibat faktor dasar perhitungan.

Deflasi bulanan terjadi meski secara tahunan harga masih naik. Fenomena ini biasa terjadi pada periode panen raya di awal tahun.

Dinamika Harga Komoditas dan Stabilitas Pangan

Peningkatan pasokan bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit menunjukkan keberhasilan distribusi hortikultura. Pasokan yang lancar membantu menjaga stabilitas harga dan mencegah lonjakan inflasi.

Momentum panen raya menjadi kunci stabilisasi harga, terutama untuk komoditas pangan yang rentan fluktuasi. BPS mencatat bahwa distribusi yang merata memastikan deflasi terjadi tanpa mengganggu ketersediaan pasokan.

Selain bawang merah, cabai merah mengalami peningkatan produksi di sejumlah sentra. Hal ini menekan harga cabai yang biasanya mengalami volatilitas tinggi pada awal tahun.

Cabai rawit juga tercatat mengalami pasokan melimpah di awal 2026. Lonjakan ini mendukung deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Dampak Deflasi terhadap Konsumen dan Petani

Deflasi memberikan tekanan pada harga jual di pasar konsumen. Konsumen bisa membeli komoditas dengan harga lebih terjangkau selama masa panen raya.

Namun, petani perlu memanfaatkan panen dengan strategi pemasaran yang baik. Stabilisasi harga juga harus diimbangi dengan program penyerapan hasil panen agar keuntungan petani tetap terjaga.

Ateng menekankan pentingnya pengelolaan pasokan dan distribusi. Dengan sistem distribusi yang efisien, deflasi tidak merugikan petani dan tetap memberikan manfaat bagi konsumen.

Selain itu, deflasi hortikultura biasanya bersifat sementara. Setelah masa panen berakhir, harga cenderung kembali normal, sehingga inflasi dapat menyesuaikan.

Proyeksi Harga Hortikultura ke Depan

BPS memperkirakan harga bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit akan stabil dalam beberapa bulan ke depan. Produksi yang meningkat di awal tahun membantu menjaga harga tetap wajar.

Namun, faktor cuaca dan permintaan pasar masih menjadi variabel penting. Petani dan pemerintah perlu tetap memantau kondisi produksi untuk mengantisipasi gejolak harga.

Selain itu, distribusi yang merata ke berbagai wilayah sangat penting. Pasokan yang cukup di daerah-daerah konsumen utama mencegah terjadinya lonjakan harga mendadak.

Kendati terjadi deflasi bulanan, inflasi tahunan tetap harus menjadi perhatian. Efek basis rendah dari tahun sebelumnya bisa membuat inflasi yoy tampak tinggi meski harga beberapa komoditas turun.

Kesimpulan dan Implikasi Ekonomi

Deflasi Januari 2026 terutama didorong oleh peningkatan pasokan bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Kondisi ini menunjukkan peran penting panen raya dalam menjaga stabilitas harga pangan.

Sementara itu, inflasi tahunan tetap tinggi karena perbandingan dengan harga rendah pada Januari 2025. Pemerintah dan pelaku pasar perlu menyesuaikan strategi agar deflasi tidak merugikan petani namun tetap menguntungkan konsumen.

Dengan pemantauan yang tepat, deflasi hortikultura dapat dimanfaatkan untuk menstabilkan daya beli masyarakat. Hal ini juga menjadi peluang bagi industri pangan dan logistik untuk mendukung distribusi hasil panen secara efisien.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index