Sawit

Harga TBS Sawit Jambi Naik Signifikan Akhir Januari Hingga Awal Februari 2026, Petani Tetap Cermati Kondisi Buah

Harga TBS Sawit Jambi Naik Signifikan Akhir Januari Hingga Awal Februari 2026, Petani Tetap Cermati Kondisi Buah
Harga TBS Sawit Jambi Naik Signifikan Akhir Januari Hingga Awal Februari 2026, Petani Tetap Cermati Kondisi Buah

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas sawit di Provinsi Jambi kembali menjadi perhatian para petani dan pelaku usaha perkebunan. Kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) pada akhir Januari hingga awal Februari 2026 memberikan angin segar, meskipun kondisi buah di lapangan belum sepenuhnya ideal.

Situasi ini memperlihatkan adanya dinamika menarik antara kondisi panen dan kebijakan harga yang ditetapkan pemerintah daerah. Bagi petani sawit, perubahan harga tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan strategi perawatan kebun dan penjualan hasil panen.

Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Provinsi Jambi periode 30 Januari sampai 5 Februari 2026 tercatat mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah kondisi buah sawit di beberapa wilayah yang dinilai belum maksimal.

Padahal, menurut petani sawit di kawasan Mestong, buah sawit dalam kondisi trek. Kondisi tersebut biasanya berdampak pada kualitas dan berat buah yang dipanen.

Meski demikian, hasil rapat penetapan harga di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menunjukkan angka yang cukup menggembirakan. Kenaikan harga ini memberikan harapan baru bagi petani untuk meningkatkan pendapatan di tengah tantangan produksi.

Harga TBS sawit yang mengalami peningkatan ini sekaligus mencerminkan pergerakan pasar minyak sawit yang relatif stabil. Kondisi pasar tersebut turut dipengaruhi oleh permintaan domestik maupun global terhadap produk turunan kelapa sawit.

Bagi petani, kenaikan harga menjadi sinyal positif yang patut disyukuri. Namun, mereka tetap perlu mencermati kualitas buah agar hasil panen tetap optimal dan berkelanjutan.

Harga TBS Sawit Jambi Periode 30 Januari–5 Februari 2026

Berdasarkan hasil rapat penetapan harga di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, harga TBS kelapa sawit untuk usia tanam 10–20 tahun ditetapkan sebesar Rp3.592,08 per kilogram. Angka tersebut naik Rp98,66 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya yang hanya senilai Rp3.451,83 per kilogram.

Kenaikan ini tergolong cukup signifikan bagi petani sawit yang mengandalkan hasil panen sebagai sumber utama penghasilan. Selisih harga tersebut dapat memberikan tambahan pendapatan yang berarti, terutama bagi kebun dengan produktivitas tinggi.

Selain harga TBS, harga Crude Palm Oil (CPO) juga ditetapkan dalam rapat tersebut. Harga CPO berada di angka Rp14.566,16 per kilogram.

Penetapan harga CPO ini menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan harga TBS di tingkat petani. Hubungan antara harga CPO dan harga TBS mencerminkan keterkaitan antara pasar hulu dan hilir industri kelapa sawit.

Sementara itu, harga minyak inti sawit atau kernel ditetapkan sebesar Rp11.651,57 per kilogram. Indeks K yang digunakan dalam perhitungan harga ditetapkan sebesar 94,49 persen.

Nilai indeks K ini menunjukkan besaran persentase yang digunakan dalam formula pembagian hasil antara perusahaan dan petani. Semakin tinggi indeks K, semakin besar pula porsi harga yang diterima petani.

Kenaikan harga pada periode ini memperlihatkan adanya perbaikan kondisi pasar sawit secara umum. Hal ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan sawit di Provinsi Jambi.

Bagi pemerintah daerah, penetapan harga yang lebih tinggi juga diharapkan mampu menjaga semangat petani dalam merawat kebun. Dengan demikian, produktivitas sawit dapat tetap terjaga dalam jangka panjang.

Daftar Lengkap Harga TBS Berdasarkan Usia Tanam

Untuk usia tanaman 3 tahun, harga TBS sawit ditetapkan sebesar Rp2.802,88 per kilogram. Harga ini mencerminkan produktivitas awal tanaman sawit yang masih dalam fase pertumbuhan.

Pada usia tanaman 4 tahun, harga TBS berada di angka Rp2.994,46 per kilogram. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya produksi tandan buah seiring bertambahnya usia tanaman.

Sementara itu, untuk usia tanaman 5 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.132,10 per kilogram. Angka tersebut menunjukkan peningkatan nilai seiring dengan semakin stabilnya hasil panen.

Untuk usia tanaman 6 tahun, harga TBS mencapai Rp3.262,86 per kilogram. Pada usia ini, tanaman sawit umumnya mulai memasuki masa produktif yang optimal.

Selanjutnya, untuk usia tanaman 7 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.345,16 per kilogram. Kenaikan ini mencerminkan kualitas dan kuantitas buah yang semakin baik.

Pada usia tanaman 8 tahun, harga TBS berada di angka Rp3.416,46 per kilogram. Tanaman sawit di usia ini biasanya menghasilkan tandan buah dengan berat dan rendemen yang cukup tinggi.

Untuk usia tanaman 9 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.483,63 per kilogram. Angka ini menunjukkan tren peningkatan yang konsisten seiring bertambahnya usia tanaman.

Harga tertinggi pada periode ini tercatat pada usia tanaman 10–20 tahun dengan nilai Rp3.592,08 per kilogram. Rentang usia ini dianggap sebagai fase paling produktif dalam siklus hidup tanaman sawit.

Sementara itu, untuk usia tanaman 21–24 tahun, harga TBS berada di angka Rp3.484,73 per kilogram. Harga ini sedikit lebih rendah dibandingkan tanaman usia produktif puncak, namun masih tergolong kompetitif.

Untuk usia tanaman 25 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.326,16 per kilogram. Penurunan ini sejalan dengan menurunnya produktivitas tanaman yang telah memasuki usia tua.

Dampak Kenaikan Harga terhadap Petani Sawit

Kenaikan harga TBS sawit periode ini memberikan dampak positif bagi pendapatan petani di Provinsi Jambi. Tambahan pendapatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk biaya perawatan kebun dan kebutuhan rumah tangga.

Bagi petani kecil, perubahan harga ini menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha perkebunan mereka. Harga yang lebih baik memberikan ruang bagi petani untuk melakukan pemupukan dan peremajaan tanaman secara bertahap.

Namun, kondisi buah sawit di lapangan yang disebut dalam kondisi trek tetap menjadi perhatian. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi berat dan kualitas tandan buah segar yang dipanen.

Meskipun demikian, kenaikan harga dapat membantu menutupi potensi penurunan volume produksi. Dengan harga jual yang lebih tinggi, petani tetap dapat menjaga stabilitas pendapatan.

Pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan juga diharapkan terus memantau kondisi kebun dan kualitas panen. Pendampingan kepada petani menjadi penting agar produktivitas sawit tetap terjaga meski menghadapi tantangan alam dan cuaca.

Penetapan harga yang transparan juga menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan petani terhadap sistem tata niaga sawit. Dengan adanya kepastian harga, petani dapat merencanakan penjualan dan pengelolaan kebun dengan lebih baik.

Di sisi lain, kenaikan harga CPO dan kernel turut memengaruhi stabilitas harga TBS. Hubungan antara harga produk hilir dan hulu ini mencerminkan pentingnya sinergi dalam rantai pasok industri sawit.

Bagi industri pengolahan, stabilitas harga bahan baku menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi produksi. Keseimbangan antara kepentingan petani dan pabrik pengolahan menjadi kunci keberlanjutan sektor sawit.

Kondisi pasar global juga turut memengaruhi harga sawit domestik. Permintaan internasional terhadap minyak sawit sebagai bahan baku pangan, kosmetik, dan energi terbarukan menjadi salah satu faktor pendorong utama.

Di tengah dinamika tersebut, kenaikan harga TBS di Jambi menjadi sinyal positif bagi sektor perkebunan sawit daerah. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.

Harapan terhadap Stabilitas Harga ke Depan

Kenaikan harga TBS sawit periode 30 Januari sampai 5 Februari 2026 memberikan optimisme bagi petani di Provinsi Jambi. Namun, keberlanjutan tren positif ini tetap bergantung pada kondisi pasar dan produksi di lapangan.

Petani diharapkan tetap menjaga kualitas buah agar harga jual dapat dipertahankan pada level yang menguntungkan. Perawatan kebun yang baik menjadi kunci dalam menghasilkan TBS berkualitas tinggi.

Pemerintah daerah juga diharapkan terus melakukan evaluasi terhadap mekanisme penetapan harga. Transparansi dan keadilan dalam penentuan harga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sektor perkebunan.

Dengan adanya kenaikan harga CPO dan kernel, diharapkan industri pengolahan sawit juga dapat terus berkembang. Pertumbuhan sektor hilir akan berdampak positif terhadap permintaan TBS di tingkat petani.

Kondisi buah sawit yang sempat dilaporkan dalam keadaan trek menjadi catatan penting bagi semua pihak. Upaya perbaikan budidaya dan pengelolaan kebun perlu terus ditingkatkan agar produktivitas tetap optimal.

Kenaikan harga TBS sawit di Jambi pada periode ini menjadi bukti bahwa sektor perkebunan masih memiliki prospek yang menjanjikan. Hal ini memberikan dorongan bagi petani untuk terus mengelola kebun secara berkelanjutan.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kondisi pasar yang kondusif, harga sawit diharapkan dapat tetap stabil. Stabilitas tersebut menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index