Minyak Dunia

Harga Minyak Dunia Terjun Hampir 3 Persen Usai Isyarat Damai AS-Iran dan Sikap OPEC+

Harga Minyak Dunia Terjun Hampir 3 Persen Usai Isyarat Damai AS-Iran dan Sikap OPEC+
Harga Minyak Dunia Terjun Hampir 3 Persen Usai Isyarat Damai AS-Iran dan Sikap OPEC+

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia pada awal pekan ini memberikan kejutan bagi pelaku pasar energi global. Tekanan jual muncul seiring munculnya sinyal meredanya ketegangan geopolitik serta kebijakan produksi yang tetap ketat dari kelompok produsen utama.

Pasar yang sebelumnya bergerak di zona optimistis kini berbalik arah dengan cepat. Sentimen positif terhadap peluang dialog internasional dan stabilitas pasokan langsung tercermin dalam harga komoditas energi utama.

Harga minyak dunia anjlok hampir 3 persen pada perdagangan pagi hari ini, Senin (2 Februari 2026), seusai muncul sinyal meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta keputusan OPEC+ untuk menahan produksi. Kondisi ini membuat pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah reli tajam pada sesi sebelumnya.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 1,90 atau 2,8 persen ke level US$ 67,39 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga melemah US$ 1,90 atau 2,9 persen menjadi US$ 63,32 per barel.

Penurunan harga ini menandai perubahan cepat dalam persepsi risiko pasar energi global. Investor yang sebelumnya memasang posisi beli kini memilih merealisasikan keuntungan karena meredanya ketidakpastian geopolitik.

Kondisi pasar minyak memang sangat sensitif terhadap dinamika politik internasional. Setiap sinyal perubahan arah kebijakan atau hubungan antarnegara langsung tercermin pada fluktuasi harga komoditas ini.

Sinyal Damai AS dan Iran Mengubah Arah Pasar

Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran tengah secara serius melakukan pembicaraan dengan AS. Pernyataan tersebut disampaikan Trump beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, menyebut di platform X bahwa pengaturan untuk negosiasi sedang disiapkan.

Pernyataan ini langsung direspons positif oleh pasar. Investor menilai adanya peluang meredanya konflik yang selama ini menjadi salah satu sumber risiko geopolitik terbesar di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Brent bahkan menyentuh level tertinggi dalam enam bulan, sementara WTI berada di dekat posisi tertinggi sejak akhir September 2025, dipicu meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Lonjakan harga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan. Wilayah Timur Tengah memang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia sehingga setiap konflik berpotensi menekan suplai global.

Namun, suasana pasar berubah setelah muncul pernyataan bernada lebih lunak dari Presiden AS. Trump sebelumnya beberapa kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap Iran apabila negara itu tidak menyepakati perjanjian nuklir atau gagal menghentikan pembunuhan terhadap para demonstran.

Nada keras tersebut sempat mendorong spekulasi eskalasi konflik. Ketegangan itu kemudian menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dalam beberapa sesi terakhir.

Namun, pada akhir pekan lalu, sikap Trump dinilai lebih moderat. Hal tersebut memberi ruang bagi pasar untuk kembali memperhitungkan peluang stabilitas kawasan.

“Anda bisa membuat kesepakatan hasil negosiasi yang memuaskan tanpa senjata nuklir," ujar Trump. Pernyataan ini menjadi salah satu katalis utama meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik terbuka.

Investor menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa jalur diplomasi masih terbuka lebar. Harapan terhadap solusi damai pun langsung menekan premi risiko geopolitik dalam harga minyak.

Kondisi ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh pernyataan politik terhadap pasar energi global. Bahkan satu komentar saja dapat menggeser sentimen pasar secara signifikan dalam waktu singkat.

Reaksi Analis dan Aksi Ambil Untung Investor

Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai penurunan harga minyak dipicu oleh meredanya risiko geopolitik. Pernyataannya menegaskan bahwa sentimen pasar saat ini lebih didorong oleh faktor politik dibandingkan data fundamental permintaan dan pasokan.

“Pasar minyak mentah menafsirkan ini sebagai langkah positif menjauh dari konfrontasi, yang mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbentuk selama reli pekan lalu dan mendorong aksi ambil untung,” kata Sycamore. Kutipan tersebut mencerminkan bagaimana investor merespons perubahan persepsi risiko secara cepat.

Aksi ambil untung menjadi fenomena umum setelah harga komoditas mengalami reli tajam. Investor biasanya memilih mengamankan keuntungan ketika muncul sinyal perubahan sentimen pasar.

Dalam konteks ini, penurunan harga bukan semata-mata mencerminkan melemahnya permintaan. Sebaliknya, koreksi harga lebih disebabkan oleh pergeseran ekspektasi terhadap risiko geopolitik.

Harga Brent yang turun ke level US$ 67,39 per barel dan WTI ke US$ 63,32 per barel mencerminkan koreksi yang cukup signifikan. Penurunan hampir 3 persen dalam satu sesi menunjukkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap kabar geopolitik.

Bagi pelaku industri energi, fluktuasi harga seperti ini menjadi tantangan tersendiri. Mereka harus menyesuaikan strategi produksi dan pemasaran agar tetap kompetitif di tengah volatilitas pasar.

Investor di pasar keuangan juga perlu mencermati pergerakan ini dengan hati-hati. Perubahan harga minyak dapat memengaruhi nilai saham sektor energi, mata uang negara produsen, hingga inflasi global.

Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif. Setiap perkembangan terbaru dari proses negosiasi AS-Iran berpotensi kembali menggerakkan harga minyak.

Hal ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi salah satu pendorong utama volatilitas pasar energi. Selama ketidakpastian politik belum sepenuhnya mereda, harga minyak akan tetap sensitif terhadap berita internasional.

Sikap OPEC+ Menambah Tekanan Harga

Di sisi lain, OPEC+ dalam pertemuan pada Minggu (1 Februari 2026) sepakat untuk mempertahankan tingkat produksi minyak untuk Maret 2026. Keputusan ini memperkuat sentimen bahwa pasokan global akan tetap stabil dalam waktu dekat.

Pada November 2025, kelompok produsen tersebut juga membekukan rencana kenaikan produksi untuk periode Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi minyak yang melemah secara musiman. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga keseimbangan pasar di tengah permintaan yang cenderung melambat.

Keputusan OPEC+ untuk menahan produksi sebenarnya telah diantisipasi pasar. Namun, kombinasi antara kebijakan tersebut dan sinyal meredanya ketegangan geopolitik memperkuat tekanan turun terhadap harga minyak.

Pasar menilai bahwa risiko gangguan pasokan kini lebih rendah dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Dengan pasokan yang relatif stabil dan risiko geopolitik menurun, harga minyak pun terkoreksi.

Kebijakan produksi OPEC+ memiliki pengaruh besar terhadap pasar energi global. Setiap keputusan terkait kuota produksi dapat menggeser keseimbangan antara pasokan dan permintaan secara signifikan.

Dalam konteks ini, keputusan mempertahankan produksi mencerminkan sikap hati-hati produsen. Mereka berusaha menjaga stabilitas pasar di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi negara-negara konsumen minyak, harga yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi pemulihan ekonomi. Biaya energi yang turun berpotensi menekan inflasi dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Namun, bagi negara produsen, koreksi harga dapat berdampak pada penerimaan negara dan kinerja fiskal. Pemerintah di negara-negara tersebut perlu mengantisipasi potensi tekanan terhadap pendapatan ekspor.

Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan produksi OPEC+ menunjukkan bahwa pasar minyak saat ini berada dalam fase transisi. Pelaku pasar terus menimbang risiko dan peluang dalam setiap perkembangan global.

Harga minyak yang turun hampir 3 persen ini menjadi pengingat bahwa pasar energi sangat dinamis. Setiap perubahan kecil dalam sentimen dapat menghasilkan pergerakan harga yang besar dalam waktu singkat.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan lanjutan hubungan AS-Iran dan kebijakan OPEC+. Kedua faktor ini diperkirakan masih akan menjadi penentu utama arah harga minyak dalam beberapa waktu mendatang.

Dengan kondisi pasar yang terus berubah, pelaku industri dan investor diharapkan tetap waspada. Strategi pengelolaan risiko menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas yang masih berpotensi berlanjut.

Penurunan harga minyak dunia pada awal pekan ini sekaligus menunjukkan betapa kuatnya pengaruh faktor non-ekonomi terhadap pasar komoditas. Dinamika politik internasional kini menjadi salah satu variabel terpenting dalam menentukan arah harga energi global.

Situasi ini juga mengingatkan bahwa stabilitas geopolitik memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan ekonomi dunia. Harga energi yang stabil dan terjangkau menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi global yang berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index