Saham

IHSG Diprediksi Lanjut Koreksi Hari Ini, Investor Diminta Cermati Level Kunci dan Saham Pilihan

IHSG Diprediksi Lanjut Koreksi Hari Ini, Investor Diminta Cermati Level Kunci dan Saham Pilihan
IHSG Diprediksi Lanjut Koreksi Hari Ini, Investor Diminta Cermati Level Kunci dan Saham Pilihan

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan pelaku pasar di tengah dinamika perdagangan awal pekan. Pada Senin (26/01/2026), pasar saham Indonesia menunjukkan sinyal teknikal yang perlu dicermati karena berpotensi melanjutkan fase koreksi.

Sejumlah analis menilai bahwa ruang penguatan IHSG saat ini masih terbatas meskipun peluang rebound teknikal tetap terbuka. Investor disarankan untuk memperhatikan area support dan resistance penting agar dapat mengambil keputusan yang lebih terukur.

IHSG pada perdagangan hari ini diramal melanjutkan tren koreksi setelah pergerakan sebelumnya berada di area penguatan dan pelemahan yang telah tercapai. Dalam riset MNC Sekuritas, pergerakan IHSG masih berada dalam fase koreksi setelah area target sebelumnya tersentuh.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih berada pada bagian gelombang koreksi wave [iv] dari wave 5. Kondisi ini membuat potensi pelemahan lanjutan tetap terbuka meskipun masih ada peluang penguatan terbatas.

Meski terdapat peluang rebound, pergerakan IHSG diperkirakan terbatas dengan rentang pengujian di area 8.960 hingga 8.985. Pelaku pasar tetap diminta mencermati potensi koreksi lanjutan yang mengarah ke kisaran 8.708 hingga 8.790.

Dalam kondisi tersebut, level support IHSG berada di 8.852 dan 8.816. Sementara itu, resistance terdekat berada pada level 9.039 dan 9.120.

Seiring kondisi pasar yang dinamis, sejumlah saham unggulan dinilai memiliki peluang untuk tetap menarik perhatian investor. MNC Sekuritas menjagokan saham Aneka Tambang (ANTM), GTS Internasional (GTSI), Hartadinata Abadi (HRTA), dan TBS Energi Utama (TOBA) dalam perdagangan hari ini.

Proyeksi Teknis IHSG dan Area Penting yang Perlu Dicermati

IHSG diperkirakan masih bergerak dalam fase koreksi meskipun beberapa indikator menunjukkan potensi rebound teknikal. Investor disarankan tetap berhati-hati karena ruang penguatan dinilai belum terlalu besar.

Area support 8.852 dan 8.816 menjadi titik penting yang perlu diperhatikan jika tekanan jual berlanjut. Apabila area ini ditembus, potensi pelemahan ke kisaran 8.708 hingga 8.790 dapat semakin terbuka.

Di sisi lain, area resistance terdekat berada di kisaran 9.039 hingga 9.120. Jika IHSG mampu menembus area ini, peluang penguatan lanjutan bisa terbuka lebih lebar.

Meski demikian, kondisi pasar global dan sentimen domestik tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan indeks. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan tidak hanya mengandalkan indikator teknikal, tetapi juga memperhatikan perkembangan makroekonomi.

Pada perdagangan awal pekan, IHSG ditutup menguat 0,27% ke level 8.975,33 pada Senin (26/01/2026). Penguatan tersebut didorong oleh saham-saham seperti ANTM, BRMS, hingga MDKA.

Berdasarkan data RTI Infokom, sebanyak 267 saham menguat, 428 saham melemah, dan 110 saham stagnan. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada kisaran 8.923 hingga 9.058.

Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp16.341 triliun. Angka tersebut mencerminkan aktivitas perdagangan yang tetap tinggi meskipun pasar berada dalam fase konsolidasi.

Saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menjadi salah satu saham yang paling aktif diperdagangkan menurut nilai transaksi. Nilai transaksi saham ANTM tercatat mencapai Rp2,3 triliun.

Saham ANTM juga menjadi salah satu saham dengan penguatan terbesar pada hari tersebut. Saham ini melonjak 10,96% ke level Rp4.760 per saham.

Kinerja IHSG dan Indeks Acuan pada Perdagangan Senin

Pada sesi pertama perdagangan Senin (26/01/2026), IHSG sempat bergerak di zona hijau. Indeks komposit naik 0,38% ke level 8.985,287 seiring dengan penguatan mayoritas indeks acuan di Bursa Efek Indonesia.

Kinerja positif juga tercermin pada indeks saham unggulan. LQ45 menguat 0,73% ke posisi 879,935, sementara IDX30 naik tipis 0,08% ke level 449,321.

Dari kelompok saham syariah, Jakarta Islamic Index (JII) mencatat kenaikan paling menonjol. JII menguat 1,63% ke level 617,097, sedangkan JII70 naik 1,35% menjadi 227,741.

Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) juga berada di zona hijau dengan kenaikan 0,61% ke level 331,174. IDXBUMN20 turut mencatat penguatan sebesar 1,46%.

Secara sektoral, penguatan paling besar terjadi pada sektor bahan dasar atau IDXBASIC yang melonjak 5,48% ke level 2.499,263. Sektor transportasi atau IDXTRANS juga naik 2,17%.

Sektor infrastruktur (IDXINFRA) dan non-siklikal (IDXNONCYC) mencatat kenaikan masing-masing sebesar 0,61% dan 0,52%. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat investor masih cukup kuat pada sektor-sektor defensif.

Sebaliknya, tekanan masih membayangi sejumlah sektor lainnya. IDXENERGY turun 1,21%, IDXPROPERT melemah 1,28%, dan IDXCYCLIC terkoreksi 1,07%.

Sektor keuangan (IDXFINANCE) dan kesehatan (IDXHEALTH) juga ditutup di zona merah. Kondisi ini menunjukkan bahwa rotasi sektor masih terjadi di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.

Pada pembukaan perdagangan Senin (26/01/2026), IHSG dibuka menguat ke level 8.973,48. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks bergerak ke zona hijau hingga sempat menyentuh level di atas 9.000.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound dengan target resistance terdekat di kisaran 9.000 hingga 9.030. Proyeksi ini didasarkan pada indikator teknikal jangka pendek yang mulai menunjukkan sinyal pemulihan.

Dari sisi sektoral, kenaikan harga komoditas global dinilai menjadi katalis utama yang berpotensi mendorong kinerja saham berbasis komoditas. Komoditas seperti emas, batu bara, nikel, dan minyak bumi diperkirakan masih memiliki prospek positif.

Dalam kondisi tersebut, BRIDS menjagokan saham ADRO, ESSA, dan MDKA pada perdagangan hari ini. Saham-saham ini dinilai memiliki potensi untuk memanfaatkan momentum pergerakan harga komoditas global.

Aktivitas Bursa, Suspensi Saham, dan Aksi Korporasi Emiten

Pada Senin (26/01/2026), Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan saham dan waran seri I PT Bersama Mencapai Puncak Tbk. (BAIK). Suspensi dilakukan mulai sesi I perdagangan hari itu.

Di saat yang sama, BEI mencabut suspensi saham PT Graha Prima Mentari Tbk. (GRPM) dan PT Artha Mahiya Investama Tbk. (AIMS). Aksi penghentian maupun pencabutan perdagangan dilakukan setelah investor dinilai memahami dan memperoleh informasi penyebab pergerakan harga yang terjadi.

Langkah ini bertujuan untuk menjaga keteraturan dan keadilan perdagangan di pasar modal. Dengan adanya keterbukaan informasi, diharapkan investor dapat mengambil keputusan secara lebih rasional.

Selain itu, terdapat sejumlah perkembangan aksi korporasi yang patut diperhatikan investor. BRI Danareksa Sekuritas merilis pembaruan terkait rencana aksi korporasi emiten pada awal 2026.

PT Mandom Indonesia Tbk. (TCID) menginformasikan bahwa Kalon Holdings memperpanjang periode penawaran tender atas saham Mandom Corporation di Bursa Tokyo hingga 29 Januari 2026. Seiring dengan itu, jadwal penyelesaian transaksi juga diubah menjadi 5 Februari 2026.

Perpanjangan ini dilakukan untuk memberikan waktu tambahan bagi investor dalam mempertimbangkan partisipasi mereka. Langkah tersebut dinilai sebagai strategi untuk meningkatkan tingkat keberhasilan penawaran tender.

Sementara itu, PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) menunda pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Agenda yang semula dijadwalkan pada 26 Januari 2026 diundur menjadi 12 Februari 2026.

Penundaan tersebut dilakukan karena perseroan masih melengkapi informasi yang dibutuhkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. RUPSLB ini memiliki agenda utama untuk meminta persetujuan pemegang saham atas rencana rights issue serta akuisisi PT Emway Globalindo (EGI).

Di sisi lain, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) merencanakan pelaksanaan rights issue dengan menerbitkan sebanyak 90 miliar saham seri E. Saham tersebut memiliki nilai nominal Rp12 per saham.

Aksi korporasi ini berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan hingga 33,33%. Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB yang dijadwalkan pada 27 Februari 2026.

Tanggal pencatatan atau recording date untuk aksi tersebut ditetapkan pada 2 Februari 2026. Investor diimbau mencermati jadwal ini agar tidak kehilangan hak partisipasi dalam aksi korporasi tersebut.

Strategi Investor di Tengah Proyeksi Koreksi IHSG

Dengan proyeksi koreksi IHSG yang masih terbuka, investor disarankan menerapkan strategi yang lebih selektif. Fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi dinilai lebih aman dalam kondisi pasar yang fluktuatif.

Saham-saham unggulan yang direkomendasikan seperti ANTM, GTSI, HRTA, dan TOBA dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang jangka pendek. Namun, tetap diperlukan manajemen risiko yang disiplin untuk mengantisipasi potensi volatilitas.

Investor juga disarankan untuk memperhatikan level support dan resistance sebagai panduan dalam menentukan titik masuk dan keluar. Dengan pendekatan ini, keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih terukur dan rasional.

Di tengah dinamika pasar, penting bagi investor untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan jangka pendek. Pemahaman terhadap kondisi makroekonomi dan sentimen global tetap menjadi faktor kunci dalam strategi investasi.

Kondisi pasar yang masih berada dalam fase koreksi juga dapat dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap pada saham-saham pilihan. Strategi ini dinilai efektif bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Meskipun terdapat tekanan, peluang penguatan tetap terbuka jika sentimen positif muncul dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, fleksibilitas dalam strategi investasi menjadi hal yang sangat penting.

Dengan tetap disiplin terhadap rencana investasi dan manajemen risiko, investor dapat meminimalkan potensi kerugian. Pada saat yang sama, peluang keuntungan tetap dapat dimaksimalkan ketika pasar kembali memasuki fase penguatan.

IHSG hari ini diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan koreksi terbatas. Namun, peluang rebound teknikal tetap ada jika indeks mampu bertahan di atas level support kunci.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index