JAKARTA - Pelaku pasar modal kembali bersiap menghadapi dinamika pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan pada awal pekan ini. Sentimen pasar yang masih beragam membuat investor perlu lebih selektif dalam menentukan langkah investasi.
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih berpeluang melemah pada perdagangan saham Senin, 2 Februari 2026. Kondisi ini membuat perhatian investor tertuju pada saham-saham yang dinilai masih memiliki peluang pergerakan menarik.
Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, IHSG ditutup naik 1,18% tetapi disertai dengan aksi jual saham oleh investor asing sebesar Rp 1,87 triliun pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026. Saham-saham yang paling banyak dijual asing antara lain TLKM, PTRO, BUMI, IMPC, dan BBNI.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun indeks bergerak naik, tekanan jual dari investor asing masih cukup terasa. Situasi ini membuat pasar dinilai belum sepenuhnya berada dalam tren penguatan yang solid.
“IHSG masih rentan untuk koreksi sepanjang belum break di atas 8.420,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman dalam catatannya. Pernyataan ini menjadi perhatian investor yang mengandalkan analisis teknikal dalam menentukan arah transaksi.
Ia menuturkan, IHSG berada di level support 8.050–8.220 dan level resistance IHSG di 8.400–8.420. Level tersebut menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam memantau potensi pergerakan indeks.
Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, cukup optimistis dengan prospek IHSG hari ini. Ia menilai indeks berpotensi menguat ke arah target 8.600 sebagai posisi pertama sebelum mencoba menutup gap di barisan resistance 8.700 dan 8.800–8.873.
“Saran speculative buy selektif bisa diterapkan dengan money-management yang masih berhati-hati, considering volatility that still lingers,” kata dia. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kehati-hatian di tengah volatilitas pasar yang masih berlangsung.
Proyeksi Pergerakan IHSG dan Sentimen Pasar
Meskipun IHSG mencatatkan penguatan pada perdagangan sebelumnya, tekanan jual dari investor asing menjadi catatan penting. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar masih mengambil posisi defensif.
Pergerakan IHSG yang masih berada di bawah resistance utama membuat potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka. Investor pun disarankan untuk tidak terlalu agresif sebelum indeks mampu menembus level teknikal penting.
Kondisi pasar global dan domestik juga turut memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Fluktuasi nilai tukar, kebijakan bank sentral, serta sentimen eksternal lainnya masih menjadi faktor yang patut diperhatikan.
Meski demikian, adanya potensi technical rebound tetap memberikan peluang bagi investor untuk memanfaatkan momentum jangka pendek. Strategi transaksi yang terukur dan disiplin menjadi kunci dalam menghadapi kondisi pasar saat ini.
Optimisme yang disampaikan sebagian analis menunjukkan bahwa peluang penguatan masih terbuka jika sentimen positif mampu menopang pergerakan indeks. Namun, risiko volatilitas tetap perlu diantisipasi oleh seluruh pelaku pasar.
Dengan kondisi seperti ini, investor diharapkan mampu menyeimbangkan antara peluang dan risiko. Pendekatan selektif dan manajemen risiko yang ketat menjadi langkah bijak dalam menghadapi dinamika pasar saham.
Perbedaan pandangan analis juga mencerminkan kompleksitas kondisi pasar yang sedang berlangsung. Hal ini membuat investor perlu mencermati berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan.
IHSG yang bergerak di antara level support dan resistance menunjukkan bahwa pasar sedang mencari arah yang lebih jelas. Dalam situasi seperti ini, pemilihan saham yang tepat menjadi semakin krusial.
Rekomendasi Saham dan Strategi Perdagangan
Untuk rekomendasi saham hari ini, Fanny memilih saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO). Saham-saham tersebut dinilai memiliki peluang pergerakan menarik dalam jangka pendek.
Trading idea hari ini mencakup saham BUMI, IMPC, MEDC, BREN, ENRG, dan RMKO. Strategi ini dirancang untuk memanfaatkan peluang pergerakan harga dengan tetap memperhatikan manajemen risiko.
Untuk saham BUMI, strategi Buy on Weakness direkomendasikan dengan area beli di 234–250 dan cutloss di bawah 226. Target dekat saham ini berada di kisaran 270–280.
Saham IMPC juga direkomendasikan Buy on Weakness dengan area beli di 2.120–2.260 dan cutloss di bawah 2.100. Target dekatnya berada di kisaran 2.500–2.700.
Untuk saham MEDC, strategi Buy on Weakness diterapkan dengan area beli di 1.430–1.500 dan cutloss di bawah 1.380. Target dekat yang disarankan berada di level 1.570–1.600.
Saham BREN direkomendasikan Spec Buy dengan area beli di 8.350–8.450 dan cutloss di bawah 8.100. Target dekat saham ini berada di kisaran 8.650–9.000.
Untuk saham ENRG, strategi Spec Buy disarankan dengan area beli di 1.255–1.265 dan cutloss di bawah 1.210. Target dekat saham ini berada di kisaran 1.335–1.410.
Saham RMKO direkomendasikan Buy on Weakness dengan area beli di 925–1.010 dan cutloss di bawah 915. Target dekat saham ini berada di kisaran 1.115–1.175.
Rekomendasi tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi teknikal dan potensi pergerakan harga dalam jangka pendek. Investor tetap diimbau untuk menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham.
Pergerakan IHSG pada Penutupan 30 Januari 2026
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan saham Jumat, 30 Januari 2026. Kenaikan IHSG hari itu terjadi di tengah lonjakan sektor saham transportasi dan pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman.
Mengutip data RTI, IHSG melonjak 1,18% ke posisi 8.329,60. Indeks saham LQ45 bertambah 2,52% dan sebagian besar indeks saham acuan menghijau.
Menjelang akhir pekan, IHSG berada di level tertinggi 8.408,30 dan level terendah 8.167,15. Sebanyak 551 saham menguat sehingga mengangkat IHSG, sementara 194 saham melemah dan 65 saham stagnan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menuturkan bahwa penguatan IHSG terjadi karena technical rebound setelah dua hari berturut-turut melemah akibat pengumuman MSCI dan downgrade IHSG. Ia mengatakan bahwa sentimen sebenarnya belum mendukung kenaikan IHSG, tetapi indeks menguat secara teknikal setelah mengalami tekanan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih bergerak berdasarkan faktor teknikal daripada sentimen fundamental yang kuat. Hal ini membuat potensi volatilitas jangka pendek tetap perlu diwaspadai oleh investor.
“Kalau mencari sentimen sebenarnya belum ada yang mendukung, hanya ada pengunduran Dirut BEI dan pemerintah berencana menaikkan limit di dana pensiun dan asuransi,” kata dia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pasar belum memperoleh katalis positif yang signifikan.
Sementara itu, total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.399.422 kali dengan volume perdagangan saham mencapai 57,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham tercatat sebesar Rp 41,7 triliun.
Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 16.765. Nilai tukar ini turut menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi pergerakan pasar saham.
Mayoritas sektor saham menghijau pada perdagangan tersebut. Sektor saham transportasi naik 6,14% dan mencatatkan kenaikan terbesar di antara sektor lainnya.
Sektor saham energi bertambah 0,27% dan sektor saham basic menanjak 0,25%. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor-sektor berbasis komoditas masih memberikan kontribusi positif bagi pasar.
Sektor saham consumer nonsiklikal melesat 1,97% dan sektor saham kesehatan bertambah 0,91%. Penguatan ini mencerminkan minat investor terhadap saham-saham defensif dan sektor yang relatif stabil.
Sektor saham keuangan melesat 3,05% dan sektor saham properti mendaki 1,47%. Penguatan sektor keuangan turut menjadi salah satu pendorong utama kenaikan IHSG.
Sektor saham teknologi juga melesat 1,7% dan menambah optimisme pasar. Kinerja sektor ini menunjukkan bahwa minat terhadap saham berbasis teknologi masih cukup kuat.
Dengan kombinasi penguatan lintas sektor tersebut, IHSG mampu ditutup di zona hijau meskipun masih dibayangi aksi jual asing. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kekuatan domestik masih cukup mampu menopang pergerakan indeks.
Strategi Investor Menghadapi Pasar yang Volatil
Dalam kondisi pasar yang masih rentan koreksi, investor disarankan untuk mengedepankan manajemen risiko. Penggunaan batas kerugian atau cutloss menjadi langkah penting untuk menjaga portofolio tetap sehat.
Strategi speculative buy selektif dengan money-management yang hati-hati juga menjadi pendekatan yang relevan saat volatilitas masih berlangsung. Investor diharapkan tidak terlalu agresif dalam mengambil posisi besar.
Pemantauan level support dan resistance IHSG menjadi kunci dalam menentukan timing transaksi. Dengan memahami area teknikal penting, investor dapat mengoptimalkan peluang dan meminimalkan risiko.
Rekomendasi saham yang diberikan analis dapat menjadi referensi awal, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pasar terkini. Analisis mandiri tetap menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Investor jangka pendek dapat memanfaatkan peluang pergerakan harga dalam rentang waktu singkat. Namun, investor jangka panjang tetap disarankan fokus pada fundamental perusahaan dan prospek bisnis.
Kondisi pasar yang dinamis juga menuntut fleksibilitas dalam strategi investasi. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sentimen menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja portofolio.
Dengan tetap disiplin pada rencana investasi, investor dapat menghadapi fluktuasi pasar dengan lebih tenang. Pendekatan rasional dan berbasis data menjadi kunci dalam mengambil keputusan di tengah volatilitas.
IHSG yang masih bergerak dalam fase konsolidasi membuka peluang sekaligus tantangan bagi pelaku pasar. Dengan informasi yang lengkap dan strategi yang tepat, investor dapat tetap menemukan peluang di tengah ketidakpastian.