Karhutla Kalsel Tewaskan 12 Bekantan, Habitat Tepian Sungai Terancam

Minggu, 20 September 2026 | 08:22:00 WIB
Karhutla Kalsel Tewaskan 12 Bekantan, Habitat Tepian Sungai Terancam

SEBARIS.CO.ID — Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan menerima laporan 12 bekantan mati akibat kebakaran hutan dan lahan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kematian satwa dilindungi itu terjadi di kawasan areal penggunaan lain yang merupakan tanah milik desa, bukan wilayah konservasi.

BKSDA Kalsel mencatat populasi bekantan di provinsi itu pada 2025 diperkirakan sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiganya berada di kawasan konservasi, sementara dua pertiga lainnya hidup di luar kawasan konservasi.

Founder Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus akademisi Biologi Konservasi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, menyoroti dampak karhutla terhadap satwa endemik Kalimantan tersebut. Menurut dia, bekantan sangat bergantung pada vegetasi tepian sungai dan kawasan lahan basah.

Ancaman yang Tak Berhenti Saat Api Padam

Amalia menjelaskan, karhutla dapat mengganggu bekantan melalui beberapa jalur. Kualitas udara yang memburuk berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, sementara kerusakan vegetasi mengurangi tutupan pohon yang menjadi bagian penting habitat satwa itu.

"Asap dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan manusia dan satwa. Kita juga perlu memperhatikan kemungkinan perubahan perilaku, misalnya aktivitas makan, beristirahat, atau pergerakan kelompok ketika kondisi lingkungannya terganggu," kata Amalia, dikutip dari Antara, Sabtu (19/9).

Kerusakan vegetasi turut mengurangi sumber pakan, tempat berlindung, lokasi beristirahat, hingga jalur perpindahan bekantan. Dalam kondisi tertentu, kelompok satwa itu dapat berpindah mencari habitat yang masih menyediakan makanan dan perlindungan.

"Perpindahan atau migrasi ini tentu perlu kita pantau, karena bisa saja mereka memasuki habitat yang kualitasnya kurang baik atau menghadapi gangguan dari aktivitas manusia," ujarnya.

Pemulihan Habitat Butuh Pemantauan Berkelanjutan

Dampak terhadap habitat tidak otomatis selesai ketika api berhasil dipadamkan. Vegetasi yang terbakar membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, sementara bekantan tetap membutuhkan makanan dan tempat berlindung setiap hari.

Amalia menegaskan, tingkat gangguan kesehatan pada bekantan di setiap lokasi tetap harus dibuktikan melalui pemeriksaan dan pemantauan lapangan. Pemulihan pascakarhutla dinilai perlu mencakup pemantauan vegetasi, ketersediaan pakan alami, kualitas habitat, serta keberadaan kelompok bekantan di kawasan terdampak.

Dia mencontohkan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak yang terus dipantau untuk melihat kondisi habitat, ketersediaan pakan alami, dan perubahan lingkungan.

"Dalam konservasi, kita tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari berhasil atau tidaknya memadamkan api. Kita juga harus melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan bekantan setelah kebakaran terjadi," katanya.

BKSDA Kalsel menyatakan akan melanjutkan pendataan kawasan di luar konservasi yang menjadi habitat satwa liar. Langkah itu dinilai penting karena sebagian besar populasi bekantan di Kalimantan Selatan hidup di hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain yang rentan terbakar.

Terkini