7 Kebiasaan dari Psikolog untuk Membangun Kedekatan dengan Cucu

Senin, 14 September 2026 | 20:18:01 WIB
Ilustrasi bermain dengan cucu [FOTO: NET].

JAKARTA - Kehadiran cucu yang masih usia belia jelas memberikan kesan serta kebahagiaan tersendiri bagi kakek dan nenek. Berbagai aktivitas sederhana sejatinya dapat diterapkan demi menjaga ikatan emosional di antara mereka tetap erat.

Keakraban tersebut tidak selalu wajib dipupuk lewat momen-momen istimewa. Kebiasaan harian seperti mengobrol, menyimak kisah mereka, hingga sekadar menghabiskan waktu bersama sanggup menjadi rutinitas bermakna. 

Beriringan dengan pertumbuhan anak, pola interaksi serta cara menikmati kebersamaan bersama kakek dan nenek pun ikut bergeser. Oleh sebab itu, jalinan tersebut perlu disesuaikan dengan tahapan usia maupun kebutuhan sang cucu.

Melansir Parade, jajaran pakar psikologi menguraikan sejumlah kebiasaan yang dapat diterapkan kakek dan nenek dalam memupuk ikatan erat bersama cucu.

Kebiasaan untuk Membangun Kedekatan dengan Cucu

1. Menghormati aturan orang tua 

Kakek dan nenek perlu memahami bahwasanya orang tua mempunyai batasan tersendiri dalam mendidik anak, termasuk perihal konsumsi makanan maupun penggunaan gawai.

Terapis berlisensi sekaligus Kepala Konsultan Psikologis di Recovered.org, Dr. Deborah Vinall, PsyD, LMFT, menyebutkan bahwa patokan tersebut sepatutnya dihargai.

"Pahami bahwa orang tua mereka paling mengenal anak-anak dan umumnya memikirkan kebutuhan dan kepentingan terbaik mereka ketika menetapkan batasan," katanya.

"Anak-anak merasa paling aman dan terhubung ketika tidak ada gesekan antara orang dewasa dalam hidup mereka, jadi jangan abaikan hubungan ini, termasuk hubungan dengan menantu laki-laki atau perempuan Anda," imbuh Vinall.

2. Mengajukan pertanyaan terbuka

 Bertanya dengan cara yang terlalu kaku atau interogatif dapat memicu anak hanya memberi respons singkat.

Psikolog berlisensi di Element Q Healing, Dr. Shannon Franklin, PsyD, merekomendasikan topik obrolan yang lebih santai dan bersifat terbuka, misalnya menanyakan momen lucu yang dialami hari itu atau hobi baru yang sedang disenangi.

"Tujuan di sini adalah untuk menunjukkan minat, bukan untuk menginterogasi. Ketika tidak ada tekanan untuk memberikan respons tertentu, anak-anak akan jauh lebih cenderung untuk mengekspresikan diri," kata Franklin.

3. Mengenal dunia cucu 

Menaruh perhatian pada hal-hal yang digemari cucu, seperti sinema, musik, atau aktivitas kesukaan mereka, sanggup menjadi sarana efektif untuk menunjukkan kasih sayang.

“Ketika kakek-nenek terlibat, mereka dapat menunjukkan bahwa mereka memiliki minat aktif dalam kehidupan anak dengan menunjukkan minat pada hal-hal yang penting bagi cucu mereka,” papar Franklin.

4. Mendengarkan curhatan tanpa buru-buru memberi solusi 

Cucu tidak senantiasa membutuhkan petuah ketika membagikan masalahnya. Ada kalanya, mereka sekadar ingin didengar dan dipahami perasaannya.

"Ketika anak-anak merasa bahwa kakek-nenek mendengarkan terlebih dahulu pikiran dan perasaan mereka tanpa langsung memberikan solusi, kakek-nenek tersebut menciptakan suasana kepercayaan di mana anak-anak mungkin lebih cenderung berbagi hal-hal dengan mereka," jelas Franklin.

"Terkadang, seorang anak mungkin hanya menginginkan kenyamanan, rasa ingin tahu, atau konfirmasi dan tidak selalu membutuhkan solusi," tambahnya.

5. Membuat cucu merasa dihargai 

Psikolog klinis, Dr. Matthew Leahy, PhD, menuturkan bahwa kehadiran kakek dan nenek dalam pelbagai agenda cucu juga dapat memperlihatkan wujud kepedulian. 

Menyempatkan hadir dalam pertandingan olahraga atau acara sekolah, misalnya, memberikan sinyal nyata kepada anak bahwa keberadaannya amat diperhatikan serta dihargai.

“Anak-anak melihat ini dan memperhatikannya,” tutur Leahy.

6. Berbagi cerita tentang keluarga 

Kakek dan nenek memiliki memori historis yang tidak dirasakan oleh generasi di bawahnya. Kisah silsilah keluarga dan perjalanan masa lalu dapat menuntun cucu untuk memahami akar kehidupannya.

Psikolog berlisensi sekaligus pendiri SelfWorks, Dr. Amy Vigliotti, PhD, menguraikan bahwa kakek dan nenek bisa mengisahkan berbagai pengalaman keluarga yang berlangsung sebelum sang cucu lahir.

“Kakek-nenek memiliki peran khusus dalam berbagi kenangan, berbagi kisah tentang masa lalu, dan menunjukkan sisi-sisi orang tua yang hanya mereka yang pernah ketahui. Mereka adalah pemegang sejarah anak yang terjadi sebelum mereka berdua lahir,” ucap Vigliotti.

7. Membiarkan hubungan berkembang 

Dinamika hubungan kakek-nenek dan cucu tentu akan terus bertransformasi seiring perkembangan usia anak. Rutinitas yang dahulu sering dilewati bersama mungkin berangsur berkurang saat cucu kian beranjak dewasa.

"Kakek-nenek menyadari hal ini dan tahu bahwa hubungan mereka dengan cucu-cucu mereka perlu, dan akan, beradaptasi seiring waktu, dan mereka tidak mencoba untuk melawannya," ujar Leahy.

"Misalnya, akhir pekan menginap mungkin akan semakin jarang terjadi hingga akhirnya hilang sama sekali," lanjutnya.

Menurut Leahy, peran teman sebaya bakal menjadi semakin dominan bagi anak sewaktu memasuki fase remaja. Kakek dan nenek tetap bisa merawat rasa dekat tersebut dengan cara menghormati fase perubahan tersebut.

Tags

Terkini