JAKARTA - Audisi Umum PB Djarum 2026 Kudus bukan hanya menjadi ajang penjarangan bakat calon pebulu tangkis Indonesia. Di samping proses penyaringan, pembinaan karakter serta integritas juga memperoleh porsi perhatian sejak usia dini sebagai langkah mencegah ancaman pengaturan skor atau match fixing.
Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Leonard Holvy de Pauw, berpandangan bahwa Indonesia menyimpan banyak atlet potensial. Namun, menurutnya, kemampuan teknis semata belum memadai jika karakter sang pemain tidak dipupuk sejak awal.
Ia menggarisbawahi bahwa pembinaan di tingkat klub wajib menyakup kedisiplinan, pemahaman regulasi laga, hingga pembentukan mental supaya atlet siap meladeni tantangan saat menanjak ke jenjang yang lebih tinggi.
- Baca Juga Ramalan Zodiak Cancer, 20 September 2026
Karakter Dinilai Jadi Benteng Utama
Menurutnya, kegagalan maupun keterlibatan dalam kasus pengaturan skor kerap berakar dari rapuhnya pembentukan karakter, bukan akibat rendahnya kualitas permainan.
"Saya lebih menekankan ke situ (kedisiplinan) karena saya lihat potensi atlet badminton di Indonesia ini banyak sekali, bagus-bagus," kata Leonard Holvy de Pauw, pada hari ketiga penyelenggaraa Audisi Umum PB Djarum 2026 di GOR Djarum, Kudus, Jumat (11/9/2026).
Ia menerangkan bahwa pemain muda terkadang terlalu cepat memperoleh sanjungan usai meraih prestasi awal. Situasi itu, menurut pandangannya, mampu memicu sikap kurang siap saat menghadapi tekanan di tingkat berikutnya.
"Kebanyakan dimanja, bagus dikit, ada prestasi dikit dimanja, dikasih karpet merah terus."
Oleh sebab itu, coach Holvy mengaku lebih intens menanamkan nilai-nilai nonteknis kepada para peserta audisi. Selain memberikan dorongan motivasi, ia turut mengingatkan krusialnya menjaga sikap selama melewati masa pembinaan.
Godaan Muncul Saat Masuk Level Lebih Tinggi
Holvy menilai tantangan terbesar umumnya datang ketika atlet mulai menginjakkan kaki di lingkungan Pelatnas. Pada tahapan tersebut, godaan memperoleh uang secara instan dapat menyeruak dan memengaruhi para pemain muda.
"Karena di sini mereka oke-oke aja, nanti di Pelatnas banyak godaan, dapetin duit gampang," kata Holvy.
Pengalamannya mengikuti pelbagai kegiatan bersama Badminton World Federation (BWF) terkait penanganan match fixing membuatnya paham akan pola kasus semacam itu. Dari bermacam pembahasan tersebut, ia melihat perlunya tindakan pencegahan dieksekusi sebelum atlet menginjak level elite.
Ia pun mengingatkan potensi dampak buruk dari lingkungan sekitar, termasuk kemungkinan hadirnya senior atau pihak lain yang bisa memberikan teladan kurang baik bagi pemain muda.
Integritas Ditanamkan Sejak Masa Pembinaan
Bagi Holvy, upaya preventif mesti diawali sejak atlet masih bernaung di klub. Pemahaman mengenai aturan pertandingan, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab perlu dijadikan bagian dari rutinitas pembinaan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut secara konsisten diingatkan kepada para peserta sebagai bekal saat mengarungi persaingan di skala nasional maupun internasional. Melalui fondasi karakter yang lebih kokoh, atlet diharapkan sanggup mempertahankan integritas di sepanjang alur kariernya.