Kemenkes Siagakan Ratusan Faskes Hadapi Erupsi Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 20:31:32 WIB
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mensyiagakan ratusan fasilitas rumah sakit (RS) serta puskesmas demi mengantisipasi dampak erupsi gunung anak krakatau.

"Kemenkes telah menyiagakan 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota terdampak, termasuk menyiapkan pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan, dan ambulans," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman dalam keterangannya, dikutip Rabu (9/9/2026).

Berdasarkan pengamatan Kemenkes, daerah yang terkena dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau meliputi sekitar 23,36 juta jiwa di area Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.

Kemenkes terus memantau status kesehatan masyarakat, tingkat kualitas udara, serta kesiapsiagaan sarana pelayanan kesehatan di daerah terdampak.

"Kami memastikan sistem pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi dampak erupsi, terutama gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Pemantauan dilakukan secara berkala," jelas Aji.

Selain jajaran rumah sakit dan puskesmas, Kemenkes turut menginstruksikan kesiapan Public Safety Center (PSC) 119 beserta Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) di tingkat kabupaten/kota sebagai bagian dari langkah tanggap darurat kesehatan.

Penyaluran logistik kesehatan pun telah disalurkan, di antaranya melampaui 100.000 masker N95 dan masker medis, ribuan kacamata goggle, obat-obatan serta peralatan medis secara cuma-cuma ke wilayah terdampak di Lampung, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

Abu vulkanik berbahaya bagi kesehatan

Aji mengutarakan, paparan abu vulkanik dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, khususnya pada organ pernapasan. Partikel halus layaknya PM2,5 sanggup masuk jauh ke dalam paru-paru serta memicu peradangan dan gangguan kardiopulmonal.

Kelompok masyarakat yang memerlukan perhatian ekstra meliputi anak-anak, kalangan lansia, ibu hamil, penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta pekerja yang didominasi kegiatan di luar ruangan.

Kemenkes mencatat terdapat tren kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Kendati demikian, untuk kasus pneumonia belum dijumpai tren kenaikan yang merata di seluruh daerah terdampak.

"Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi paparan, terutama kelompok rentan," kata Aji.

Jika mendapati gejala batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan fisik setelah terpapar abu, Aji mengimbau warga agar bergegas meminta penanganan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Tags

Terkini