JAKARTA – Sebanyak lima gunung api aktif di tanah air dilaporkan mengalami erupsi dalam jangka waktu satu pekan. Situasi ini memicu Ketua DPR RI Puan Maharani untuk mendesak pihak pemerintah agar meningkatkan upaya mitigasi bencana demi meminimalkan potensi korban jiwa.
Kelima gunung berapi yang dimaksud adalah Gunung Anak Krakatau di wilayah Selat Sunda, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Ibu, serta Gunung Sinabung. Wilayah Indonesia sendiri berada di lintasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), sebuah kawasan berbentuk tapal kuda di sekeliling Samudra Pasifik yang rawan aktivitas gempa bumi dan gunung api yang tinggi.
Kondisi geologis tersebut menjadikan berbagai daerah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tergolong tinggi.
“Indonesia masuk dalam Ring of Fire. Karenanya, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun, pemerintah sudah melakukan mitigasi dan antisipasi untuk melakukan semua hal terkait dengan hal tersebut, antisipasinya itu secara terpadu,” kata Puan, Selasa (8/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Puan seusai memimpin Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa.
Menurut sosok perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR RI tersebut, sifat bencana alam yang sukar diprediksi menuntut kesiapan pemerintah maupun masyarakat agar terus ditingkatkan.
“Karena ini memang alam, kita tidak bisa melakukan antisipasi dan mitigasi itu di mana, kapan terjadinya, dan kapan selesainya,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Puan mengimbau pemerintah untuk menjamin sistem penanggulangan bencana dapat bergerak secara terintegrasi dari level pusat hingga ke tingkat daerah.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama sehingga semua kebijakan dan tindakan yang diambil perlu diarahkan ke sana,” tegasnya.
Puan turut mendorong hadirnya satu komando tunggal dalam penanganan bencana yang mampu menyelaraskan gerak kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah.
“Ini sebagai langkah dalam membangun kesiapan nasional dalam menghadapi kebencanaan, termasuk wilayah yang membutuhkan penguatan dan langkah yang lebih antisipatif,” katanya.
Selain faktor koordinasi lintas instansi, Puan menilai perlindungan bagi warga yang bermukim di daerah rawan bencana juga wajib ditingkatkan.
Pemerintah diharapkan mampu menjamin peringatan dini bencana dapat diterima masyarakat secara tepat waktu serta memastikan ketersediaan akses menuju lokasi evakuasi.
“Bagaimana peringatan bencana diterima tepat waktu, warga dapat segera mencapai tempat aman, kebutuhan dasar tersedia, layanan kesehatan dan pendidikan tetap berjalan, serta keluarga yang kehilangan penghasilan memperoleh penyangga kehidupan,” jelas Puan.
Lebih lanjut, Puan menginstruksikan pemerintah untuk memperkuat transparansi informasi publik.
“Edukasi kepada masyarakat juga harus digalakkan sekaligus sebagai langkah untuk mencegah informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan kepanikan,” tuturnya.
Di antara jajaran gunung tersebut, Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda menjadi salah satu yang menyita perhatian usai meletus dan menyebarkan abu vulkanik ke beberapa kawasan.
Dampak sebaran abu vulkanik GAK terdeteksi mencemari kualitas udara di daerah Lampung, Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat, sekaligus mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan.
Selain GAK, lonjakan aktivitas vulkanik pada gunung api lainnya juga berlangsung dalam rentang waktu yang berdekatan di bermacam daerah.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT