Mahasiswa Tawarkan Solusi Polusi Udara Lewat Kompetisi Kebijakan

Sabtu, 05 September 2026 | 18:33:01 WIB
Tim dari Politeknik Keuangan Negara STAN [FOTO: NET].

JAKARTA - Sejumlah mahasiswa dari beragam perguruan tinggi mengajukan sederet rekomendasi kebijakan guna menanggulangi polusi udara sekaligus menyokong langkah pemerintah mengatasi pencemaran udara perkotaan lewat kompetisi Biru Voices: Clean Air Policy Competition 2026.

Berdasarkan keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, Akademisi Universitas Indonesia sekaligus mantan Juru Bicara Presiden SBY 2009–2014, Julian Aldrin Pasha, menilai proses pembelajaran di dalam ajang tersebut memegang peranan penting untuk membentuk generasi muda sebagai Clean Air Advocates.

"Yang kami saksikan hari ini di sini adalah satu penampilan yang luar biasa, saya kira, dari gabungan bagaimana ide itu bisa dipresentasikan di dalam satu presentasi yang utuh yang melibatkan semua. Seperti yang kami ketahui, kompetisi hari ini kan itu melibatkan beberapa komponen dan itu memang sangat baik untuk memperlihatkan bagaimana public concerns coba diangkat dan coba untuk dijelaskan dan dicarikan solusinya dalam bentuk policy brief,” ujar Julian.

Hal tersebut diutarakannya seusai menyaksikan pemaparan dari 10 tim asal berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang menyajikan rekomendasi kebijakan guna menjawab tantangan pencemaran udara kota, yang mana dapat menjadi masukan bagi pemerintah serta pemangku kepentingan dalam memperkuat langkah pengendalian pencemaran udara di Gedung Grha Ali Sadikin, Kompleks Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Para finalis mempresentasikan ide di hadapan dewan juri dari beraneka latar belakang, yaitu Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Marulina Dewi, Deputy Head of Standing Committee for Tech and Digital KADIN Dara Nasution, Akademisi Universitas Indonesia sekaligus mantan Juru Bicara Presiden SBY 2009–2014 Julian Aldrin Pasha, Research Fellow Georgetown SFS Asia Pacific yang juga Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute Wendy Haryanto, serta Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari.

Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari selaku salah satu juri turut memberikan apresiasi terhadap pendekatan kompetisi yang mendorong para mahasiswa melahirkan solusi beserta inovasi berbasis proses analisis yang konkret.

"Pendekatan analitis para mahasiswa dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang konkret membuktikan bahwa generasi muda kami bukan sekadar pengamat, melainkan inovator yang siap memberikan kontribusi nyata bagi masa depan udara bersih di Indonesia." ujar Dian.

Di dalam kompetisi tersebut, Tim Duarr asal Politeknik Keuangan Negara STAN sukses menyabet Juara 1 lewat gagasannya “Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek”.

Tim ini menyoroti tantangan pengendalian polusi udara yang selama ini masih bergantung pada aspek regulasi tanpa diimbangi dukungan insentif dan mekanisme pembiayaan yang memadai, dengan mendorong perpaduan insentif serta disinsentif fiskal untuk memperkokoh pengendalian emisi di area Jabodetabek.

Sementara itu, Tim APPA asal Institut Teknologi Bandung menyabet Juara 2 via rekomendasi “Pengendalian Emisi Industri Berbasis Data dan Penataan Ruang di Cekungan Bandung”, yang mengangkat isu perihal akumulasi penumpukan polutan di Cekungan Bandung, salah satunya akibat emisi sektor industri yang terjebak oleh faktor kondisi topografi cekungan.

Tags

Terkini