5 Bandara Paling Menantang untuk Pilot, Pendaratan Bikin Tegang

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:22:02 WIB
Bandara Tenzing-Hilarry di Himalaya [FOTO: NET].

JAKARTA - Pendaratan merupakan salah satu tahap paling krusial dalam sebuah penerbangan. Kendati para pilot telah dibekali pelatihan untuk operasi rutin harian, beberapa bandara di belahan bumi memiliki tingkat kesukaran yang sangat ekstrem sehingga menuntut pelatihan lanjutan, lisensi khusus, serta pengalaman terbang selama bertahun-tahun.

 Hambatan seperti gugusan pegunungan, landasan pacu yang amat pendek, cuaca yang sukar diprediksi, hingga posisi di area dataran tinggi menjadi pemicunya.

Pada fase ini, penerbang mengoperasikan pesawat di ketinggian rendah dengan ruang toleransi kesalahan yang amat sempit, yang oleh badan pengawas seperti European Union Aviation Safety Agency (EASA) dikelompokkan sebagai critical phases of flight.

5 Bandara dengan pendaratan menantang di dunia

Di bawah ini terdapat 5 bandara yang dinilai oleh para pilot sebagai yang paling rumit secara teknis untuk dipendarati di dunia, dihimpun dari Simple Flying, Rabu (26/8/2026):

1. Bandara Aspen-Pitkin County (ASE), Colorado, AS 

Bandara Aspen secara konsisten dinobatkan sebagai bandara komersial paling menantang di wilayah Amerika Utara. Fasilitas ini berada di ketinggian 7.820 kaki di atas permukaan laut pada kawasan lembah pegunungan dengan medan di sekitarnya mencapai 14.000 kaki.

 Kendala utamanya terletak pada prosedur lalu lintas udara yang tak biasa. Pesawat wajib mendarat di Landasan 15 dan mengudara dari Landasan 33 atau arah sebaliknya pada landasan yang sama akibat keberadaan pegunungan di sisi selatan.

Federal Aviation Administration (FAA) mengharuskan adanya pelatihan khusus, dan hingga 2025 hanya jajaran kru SkyWest Airlines yang mengantongi sertifikasi untuk terbang menuju Aspen. 

FAA bahkan mempublikasikan Letter to Airmen yang menegaskan bahwa pada jam-jam sibuk, Aspen menjalankan alur operasi berlawanan arah yang berlanjut dalam jarak dekat, sehingga menguras koordinasi instruksi kontrol dan pembacaan ulang oleh pilot.

2. Bandara London City (LCY), Inggris

 London City Airport tampil sebagai bandara komersial yang paling menantang di ruang udara padat Eropa Barat. Rintangannya bersumber dari kombinasi landasan yang pendek, sudut pendekatan pendaratan yang hampir dua kali lipat dari standar normal, serta lingkungan perkotaan yang rumit.

Berbeda dari mayoritas bandara yang menggunakan sudut meluncur standar berkisar 3 derajat, London City mensyaratkan sudut pendekatan 5,5 derajat lantaran lokasinya yang amat dekat dengan deretan gedung tinggi di Canary Wharf. 

Bentang landasannya cuma 1.508 meter, jauh lebih pendek dibandingkan bandara internasional pada umumnya.

Sudut pendekatan sebesar 4,5 derajat atau lebih dikategorikan sebagai landai curam dan memerlukan izin regulasi khusus. Tipe armada, perusahaan operator, serta pilot wajib mengantongi sertifikasi secara terpisah untuk beroperasi di LCY. 

Pada kunjungan perdana, pilot diwajibkan melakukan pendekatan ILS, go-around, lalu mendarat dengan visibilitas minimal 3.000 meter. Hanya beberapa varian pesawat seperti Embraer E190 dan E195-E2 yang mendapat persetujuan untuk sudut pendekatan 5,5 derajat ini.

3. Bandara Internasional Cristiano Ronaldo, Madeira, Portugal 

Bandara Madeira (FNC) tersohor lantaran memiliki pendekatan instrumen paling menantang di kawasan Eropa. 

Diapit samudra di satu sisi dan pegunungan tinggi di sisi lainnya, bandara ini amat rentan diterjang angin silang (crosswind) yang kencang. Apabila Landasan 23 menyajikan pendekatan ILS standar tanpa kendala berarti, kontur medan di sekitar Landasan 05 justru membuat pendekatan ILS lurus mustahil dilakukan secara fisik. 

Pilot diwajibkan melakukan pendekatan visual yang menuntut manuver belokan 180 derajat sebelum meluruskan posisi pesawat untuk tahap final yang amat pendek.

Otoritas penerbangan sipil Portugal mengelompokkan Bandara Madeira ke dalam fasilitas Kategori C. Pilot diwajibkan melakoni pelatihan simulator khusus dan menempati jump seat saat proses lepas landas maupun mendarat sebelum diizinkan mengemudikan pesawat menuju Funchal.

 Sekitar 80 persen pengalihan rute penerbangan terjadi manakala hembusan angin cuma 3 knot di atas ambang batas aman.

4. Bandara Tenzing-Hillary (Lukla), Nepal 

Lukla menjadi pintu gerbang menuju Everest Base Camp sekaligus secara objektif merupakan landasan komersial yang paling tidak memberi ruang ampun di dunia. 

Bandara ini bahkan kerap dijuluki sebagai bandara paling berbahaya di bumi. Armada yang datang dan pergi harus memanfaatkan satu jalur landasan tunggal — landasan 06 untuk mendarat, serta landasan 24 untuk mengudara.

Peluang untuk melakukan manuver go-around yang sukses pada tahap final pendek terbilang minim karena diadang medan tinggi tepat di ujung utara dan jurang curam di ujung selatan.

 Panjang landasannya hanya 527 meter, kurang dari sepertiga ukuran landasan bandara komersial umumnya, lengkap dengan kemiringan menanjak 11,7 persen guna membantu pesawat melakukan pengereman.

Bandara ini berdiri di ketinggian 9.334 kaki, lokasi di mana mesin hanya menghasilkan daya dorong yang jauh lebih kecil. Tanpa sokongan sistem navigasi modern seperti ILS atau radar, pilot wajib sepenuhnya bersandar pada Visual Flight Rules.

Otoritas Penerbangan Sipil Nepal menetapkan syarat agar seluruh pilot di Lukla telah menuntaskan paling sedikit 100 penerbangan lepas landas dan mendarat pendek (STOL) serta memegang pengalaman STOL di Nepal lebih dari satu tahun.

5. Bandara Internasional Paro (PBH), Bhutan 

Paro menjadi bandara yang paling konsisten disebut oleh para pilot sebagai bandara komersial paling kompleks secara teknis di dunia. Bandara Internasional Paro bertempat di lembah Himalaya yang dalam pada ketinggian 7.332 kaki, dipagari oleh puncak pegunungan yang menjulang hingga 18.000 kaki.

Bandara ini cuma memiliki satu landasan pacu sepanjang 7.431 kaki yang baru terlihat jelas pada rentang satu hingga dua mil laut terakhir saat pendekatan, amat kontras dibanding standar sepuluh mil laut atau lebih pada bandara umum.

Tidak tersedia fasilitas sistem radar untuk mengarahkan pesawat. Pilot menerbangkan armada sepenuhnya secara manual, menavigasi lembah yang berbelok-belok dengan memanfaatkan serangkaian landmark visual sebagai titik pemantau. 

Bandara hanya mengandalkan satu VOR sebagai panduan, dan pilot diwajibkan mengeksekusi belokan tajam di momen-momen terakhir pendaratan. Aktivitas pendaratan sama sekali tidak diizinkan pada malam hari maupun saat jarak pandang rendah.

Untuk mengantongi sertifikasi Paro, pilot wajib mengumpulkan minimal 1.500 jam total terbang, lisensi Airline Transport Pilot, serta paling sedikit 500 jam pengalaman terbang di kawasan pegunungan. 

Selanjutnya, mereka kudu menyelesaikan minimal 30 kali lepas landas dan mendarat di bawah pengawasan langsung di Paro. Saat ini, hanya berkisar 50 pilot di seluruh dunia yang mengantongi kualifikasi tersebut dan hanya dua maskapai, Drukair serta Bhutan Airlines, yang mengantongi izin beroperasi di sana.

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Tags

Terkini