Kemlu Paparkan Peran Strategis IORA Indonesia 2026 di Unand Padang

Kamis, 13 Agustus 2026 | 18:10:01 WIB
peran strategis Indian Ocean Rim Association (IORA) Indonesia 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto menjelaskan peran strategis Indian Ocean Rim Association (IORA) Indonesia 2026 di hadapan 4.000 mahasiswa Universitas Andalas.

Penjelasan tersebut disampaikan Santo tatkala mengisi kuliah umum berjuluk "Diplomasi yang Bekerja: Memperjuangkan Kepentingan Nasional Indonesia di Samudra Hindia melalui IORA" di Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat pada Selasa (11/8/2026).

Dalam siaran pers Kemlu di Jakarta, Kamis, Santo menuturkan bagaimana mekanisme diplomasi berproses dalam mengusung kepentingan nasional lewat wadah IORA guna memberikan hasil nyata serta dampak bermanfaat bagi keseharian masyarakat.

Ia berpandangan bahwa posisi geografis Indonesia yang membentang di antara Samudera Hindia dan Pasifik tergolong amat strategis sekaligus menyimpan potensi raksasa, sehingga dibutuhkan kepiawaian diplomasi guna mengonversinya menjadi peluang riil.

Melalui wahana IORA, terangnya, diplomasi Indonesia difokuskan untuk memperjuangkan kepentingan nasional yang berkelindan dengan kawasan Samudera Hindia, seperti memelihara ketahanan energi, stabilitas regional, serta mengamankan perlintasan niaga.

Dari tataran nasional, Santo lantas mengaitkan urgensi IORA dengan wilayah Sumatera Barat. Ia menggarisbawahi bahwa isu Samudera Hindia sangat karib bagi Sumatera Barat lantaran provinsi tersebut berperan sebagai gerbang utama Indonesia menuju Samudera Hindia.

"IORA bukan sesuatu yang jauh dari Sumatera Barat. IORA sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sumatera Barat," kata Santo yang didampingi Direktur Kerja Sama Intra dan Antar Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Febrian Irawati Mamesah.

Menurut penilaiannya, diplomasi yang sukses adalah diplomasi yang sanggup mempertemukan potensi daerah dengan berbagai peluang global.

Ia menerangkan lebih lanjut bahwa fokus utama IORA—seperti ekonomi biru, tata kelola perikanan, wisata kebaharian, hingga penanggulangan bencana—memiliki kaitan erat dengan potensi alam serta keunggulan riset milik Universitas Andalas.

Di samping itu, ia menilai keandalan diplomasi tercermin sewaktu gejolak instabilitas berhasil dicegah, kelancaran rantai pasok terjaga, pintu investasi terbuka lebar, dan dampaknya dinikmati langsung oleh warga. "Itulah yang dinamakan diplomasi yang bekerja", katanya.

Ia turut memaparkan bahwa perumusan kebijakan politik luar negeri Indonesia senantiasa merangkul seluruh elemen pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun daerah, termasuk meluncurkan Satuan Tugas IORA pada 10 Agustus.

Dalam momentum tersebut, Santo juga mengulas rekam jejak sejumlah negarawan dan diplomat kenamaan keturunan Minangkabau, seperti Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, serta pakar hukum laut internasional Prof. Dr. Hasjim Djalal guna menyuntikkan motivasi bagi para mahasiswa.

Mengakhiri orasinya, ia menaruh harapan agar Universitas Andalas ke depan mampu mencetak menteri, duta besar, hingga tokoh berkelas internasional yang siap membawa aspirasi Indonesia di panggung dunia.

Tags

Terkini