Temuan Situs Bongal Berpotensi Ubah Peta Sejarah Islam Nusantara

Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:45:32 WIB
Temuan Situs Bongal [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa deretan temuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berpotensi kuat mengubah peta sejarah serta narasi awal kedatangan peradaban Islam di Nusantara.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Irfan Mahmud dalam kegiatan Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri #38 di Jakarta, Rabu menekankan bahwa ekskavasi yang dijalankan tim peneliti berhasil memperoleh temuan signifikan yang menggeser linimasa sejarah yang selama ini dipahami masyarakat luas.

"Tim menemukan satu temuan penting tentang momen kedatangan Islam yang lebih awal dari yang diduga sebelumnya, abad 7 dan 8, artinya awal ketika kenabian. (Temuan ini) membuka ruang yang lebih lebar tentang pembuktian beberapa hipotesis-hipotesis berkaitan dengan arkeologi Islam akar rumput," katanya.

Irfan menjelaskan temuan arkeologis pada rentang abad ke-7 hingga ke-8 Masehi itu memberikan jarak waktu sekitar tujuh abad apabila dibandingkan dengan narasi sejarah yang lazim menyebutkan bahwa Islam baru mengakar kuat sebagai sebuah entitas politik atau kerajaan pada kisaran abad ke-13 dan ke-15 Masehi.

Rentang waktu yang membentang sangat luas itu, menurutnya, menjadi ruang kosong sejarah yang sangat krusial untuk segera diteliti oleh para arkeolog guna memahami pola hidup masyarakat penyebar Islam terdahulu.

"Nah, ini tujuh abad bukan rentang yang pendek dan banyak lokasi-lokasi. Saya kira dengan penemuan kawan-kawan tersebut akan membuka kesempatan dan upaya-upaya untuk menemukan hal-hal yang baru," ujar dia.

Irfan menilai penemuan ini akan membuka ruang yang lebih lebar mengenai arkeologi Islam akar rumput. 

Hal tersebut mendorong para sejarawan dan peneliti untuk mulai melihat sejarah dari kacamata masyarakat bawah pada masa lampau, tidak hanya berfokus pada kehidupan kaum elit di pusat-pusat kerajaan.

Senada, Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra (Arbastra) BRIN Herry Yogaswara menyebutkan bahwa fakta dari Situs Bongal memang memicu dialektika baru di kalangan ilmuwan dan akademisi.

Herry tidak menampik bahwa penafsiran ulang atas peta sejarah ini menimbulkan perdebatan akademis, namun hal tersebut dinilainya sebagai sebuah dinamika sains yang sangat konstruktif dan menyehatkan.

"Saya kira di dalam dunia riset perdebatan itu tidak ada masalah sepanjang berdasarkan evident (bukti) ya," ujarnya.

Guna mematangkan pengumpulan data, merawat artefak, serta mengonfirmasi kepingan sejarah peradaban Islam awal yang hilang tersebut, Herry mengungkapkan bahwa BRIN berencana memfasilitasi penelitian berskala besar di kawasan pesisir barat Sumatera.

"Karena kami juga memikirkan untuk membuat suatu stasiun lapangan dengan riset yang cukup panjang ya di wilayah Bongal atau Pantai Barat Sumatera lah. Secara lebih besar intinya ya untuk memperkuat dari ilmu arkeologi itu sendiri khususnya yang berkaitan dengan peradaban Islam," ucap Herry Yogaswara.

Tags

Terkini