BMKG Ingatkan Potensi Karhutla di Sulteng pada 9-15 Agustus 2026

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 15:58:31 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan mengenai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah Sulawesi Tengah (Sulteng) yang berada pada tingkat sedang hingga sangat tinggi selama kurun 9-15 Agustus 2026.

“Kami sampaikan bahwa potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sulawesi Tengah saat ini berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi di sejumlah kabupaten/kota,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu Taufiq Hidayah dalam keterangannya di Palu, Sabtu (8/8/2026).

Taufiq memaparkan bahwasanya keadaan tersebut dipicu oleh suhu udara yang melonjak, kelembapan rendah, serta hembusan angin kencang yang dapat mengakselerasi penyeberangan kobaran api bilamana timbul kebakaran.

“Oleh karena itu, kami mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melakukan langkah-langkah mitigasi,” ujarnya.

Pemerintah daerah, ujar Taufiq, patut mengoperasikan posko siaga karhutla di tingkatan provinsi, kabupaten, hingga kecamatan sekaligus menyiagakan petugas guna melangsungkan pemantauan secara bergiliran.

Koordinasi antarinstansi turut perlu dipererat dengan menggaet BPBD, TNI/Polri, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, hingga relawan, utamanya demi memetakan wilayah yang diprioritaskan dalam pengawasan.

Taufiq pun meminta pemerintah mengintensifkan patroli di titik rawan karhutla, khususnya pada rentang siang sampai sore hari. Pemanfaatan drone atau kamera pemantau dapat membimbing petugas dalam menemukan titik panas lebih dini.

Jajaran pemerintah daerah juga mesti menjamin kesiapan sarana pemadaman, meliputi mesin pompa air, tangki air, alat pemadam api ringan (APAR), beserta perlengkapan personel. Pos pasokan air serta sekat penahan api pun bisa disiapkan di kawasan yang rawan.

Di samping itu, BMKG mendorong pemerintah menyediakan saluran nomor pengaduan yang siaga 24 jam supaya petugas dapat bertindak cepat menindaklanjuti aduan terkait kepulan asap atau kobaran api.

Kepada kalangan masyarakat, Taufiq mengimbau agar menghindari aktivitas pembakaran lahan, semak belukar, maupun tumpukan sampah tatkala cuaca tengah kering dan berangin kencang.

Warga turut diminta secepatnya melapor bilamana mendapati kepulan asap atau pemicu api di sekitar area permukiman maupun kawasan hutan kepada aparat desa, petugas keamanan, atau BPBD setempat.

Selain itu, warga dapat meminimalisasi risiko kebakaran lewat pembersihan ilalang beserta semak, serta memindahkan tumpukan kayu, jerami, dan sampah kering jauh dari bangunan rumah.

Masyarakat juga disarankan menampung cadangan air guna mengantisipasi kebakaran skala kecil serta mematuhi petunjuk petugas dan pemerintah bilamana memerlukan tindakan pencegahan atau evakuasi.

Merujuk pada hasil analisis Fire Danger Rating System (FDRS), BMKG mencatat indikator kemudahan bahan bakar ringan di permukaan tanah atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) berada di atas angka 82 pada seluruh 13 kabupaten/kota sepanjang 9-15 Agustus.

Kadar tersebut menunjukkan bahan bakar ringan layaknya alang-alang dan guguran daun berada dalam kondisi amat kering dan sangat cepat tersulut api. 

Buol mencatatkan angka FFMC tertinggi, yakni 92 pada 15 Agustus, disusul Parigi Moutong, Poso, serta Banggai Laut yang masing-masing menyentuh angka 91.

Sementara itu, parameter Fire Weather Index (FWI) yang mengindikasikan potensi intensitas api apabila terjadi kebakaran mencapai skor tertinggi di Banggai Laut sebesar 30 dan Banggai Kepulauan 29.

Banggai mencatatkan nilai FWI 24, Buol dan Poso masing-masing 22, serta Tojo Una-Una 21. Morowali mencatat skor 19, Tolitoli 17, sedangkan Morowali Utara, Palu, Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi masing-masing berada di angka 15.

Tags

Terkini