JAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengimbau perguruan tinggi supaya konsisten memelihara daya kritis para mahasiswa dalam pola pikir mereka guna menghadapi era kecerdasan artifisial generatif atau Generative AI (Gen AI).
Langkah menjaga daya kritis mahasiswa ini dipandang penting oleh Nezar di tengah meluasnya penggunaan Gen AI, sehingga mahasiswa tidak menggantungkan diri secara total pada teknologi tersebut dan sebaliknya menempatkannya sebagai alat bantu dalam mengolah gagasan serta merumuskan solusi.
"Perlu reorientasi pedagogi yang menjadikan Generative AI sebagai mitra dialektis dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir kritis mahasiswa,” kata Nezar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta dan dikonfirmasi, Sabtu (8/8/2026).
Amanat ini turut diutarakan Nezar kepada jajaran tenaga pengajar perguruan tinggi saat mengisi agenda Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) belum lama ini.
Nezar mendorong para dosen untuk membimbing para mahasiswa agar memegang pandangan bahwa AI mesti difungsikan sebagai mitra belajar dengan tetap memprioritaskan kecakapan berpikir kritis, etika, maupun integritas akademis.
Pesatnya laju teknologi AI kian mendorong perhatian dunia akademis atas mendesaknya kebijakan tata kelola AI yang relevan serta berlandaskan nilai, khususnya di lingkup pendidikan tinggi.
Lantaran hal tersebut, Nezar mengajak para dosen pengampu MKWK UPNVJ untuk mengimplementasikan tiga jurus strategis demi merespons kemajuan AI generatif, yakni mencakup reorientasi pedagogi, penguatan literasi AI berbasis nilai, hingga penggalangan kolaborasi lintas sektor.
Mengenai penguatan literasi AI berbasis nilai secara khusus, menurutnya krusial dieksekusi demi menjamin para mahasiswa memahami seluk-beluk teknologi tersebut sekaligus peka terhadap imbasnya bagi kedaulatan digital negara.
“Kami harus pastikan bahwa mahasiswa memahami cara kerja AI, bias dan keterbatasan AI, sekaligus menautkannya dengan wawasan kebangsaan dan kesadaran akan kedaulatan digital bangsa,” imbuhnya.
Guna mewujudkan langkah kolaborasi lintas sektor, Nezar menganggap sinergi tidak cukup hanya terjalin antar-perguruan tinggi, melainkan juga melibatkan jajaran pemerintah agar mahasiswa tak sekadar menjadi sasaran arus transformasi digital, melainkan turut aktif berkontribusi dalam merancang arah kebijakan serta etika AI di Indonesia.