JAKARTA - Aktivitas panen ikan bandeng di pesisir utara Jawa Timur menjadi sorotan publik pada akhir Januari 2026. Momentum ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan budidaya masyarakat, tetapi juga menandai komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor pangan berbasis perikanan.
Kabupaten Gresik, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi bandeng nasional, kembali menunjukkan potensinya. Kehadiran pejabat pemerintah di kawasan tambak menjadi simbol dukungan terhadap petambak tradisional agar semakin berdaya saing.
Pada Selasa, 27 Januari 2026, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan melakukan kunjungan kerja ke Kampung Bandeng di Desa Nelayan Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sektor budidaya perikanan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.
Dalam agenda tersebut, Zulhas turut memanen ikan bandeng bersama para petambak setempat. Ia juga berdialog langsung dengan sekitar 200 pembudidaya yang hadir di lokasi.
Selain itu, Zulhas meninjau bazar UMKM yang menampilkan berbagai produk olahan hasil perikanan dan usaha rumahan warga. Produk yang dipamerkan antara lain bandeng beku serta aneka olahan ikan bandeng lainnya.
Pada kesempatan yang sama, ia juga ikut menangkap ikan bandeng hasil budidaya masyarakat. Aktivitas ini menjadi simbol kedekatan pemerintah dengan pelaku usaha perikanan di tingkat akar rumput.
Zulhas mengapresiasi pengembangan Kampung Bandeng Pangkahwetan sebagai bagian dari strategi nasional dalam menjaga pasokan pangan. Ia menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja di wilayah pesisir.
"Panen bandeng hari ini menunjukkan bahwa sektor perikanan budidaya memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Sinergi pusat dan daerah harus terus diperkuat agar kawasan seperti ini semakin berkembang," ujar Zulhas.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa sektor perikanan bukan hanya menjadi pelengkap dalam ketahanan pangan, tetapi juga pilar utama dalam ekonomi daerah. Pemerintah pusat menilai keberhasilan daerah seperti Gresik dapat menjadi contoh bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Gresik sebagai Sentra Produksi Bandeng Nasional
Zulhas menyebut Kabupaten Gresik merupakan salah satu sentra utama produksi ikan bandeng nasional. Pada tahun 2024, volume produksi bandeng di Gresik tercatat mencapai 90.416 ton.
Angka tersebut setara dengan 55 persen dari total produksi Jawa Timur. Selain itu, jumlah tersebut juga menyumbang sekitar 11 persen dari total produksi bandeng nasional.
Kontribusi besar tersebut menunjukkan bahwa peran Gresik dalam industri perikanan budidaya tidak bisa dipandang sebelah mata. Potensi ini menjadi modal utama dalam mendukung program ketahanan pangan berbasis perikanan.
Produksi bandeng yang tinggi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat pesisir. Ribuan keluarga menggantungkan hidup dari aktivitas tambak yang tersebar di kawasan pesisir Gresik.
Keberhasilan produksi ini tidak lepas dari peran masyarakat yang secara turun-temurun mengelola tambak bandeng. Budidaya ikan bandeng telah menjadi bagian dari identitas Kabupaten Gresik selama ratusan tahun.
Dengan dukungan pemerintah, diharapkan produksi tersebut dapat terus meningkat secara berkelanjutan. Selain kuantitas, kualitas produk juga menjadi fokus agar mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Zulhas menilai potensi tersebut perlu didukung dengan penguatan infrastruktur, teknologi, serta akses pasar. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha menjadi kunci keberhasilan sektor perikanan budidaya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan yang ramah lingkungan agar produktivitas tambak tetap terjaga dalam jangka panjang. Pendekatan berkelanjutan menjadi landasan utama dalam pengembangan sektor perikanan nasional.
Kampung Bandeng sebagai Model Pengembangan Pesisir
Desa Pangkahwetan diketahui telah ditetapkan sebagai Kampung Bandeng oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Peraturan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Nomor 27 Tahun 2022. Penetapan tersebut menjadi pengakuan atas potensi dan peran strategis desa dalam sektor perikanan budidaya.
Desa ini memiliki luas tambak sekitar 378 hektare yang tersebar di berbagai titik wilayah pesisir. Aktivitas budidaya di kawasan ini melibatkan ratusan pembudidaya dan ribuan tenaga kerja.
Jumlah pembudidaya di Desa Pangkahwetan tercatat sebanyak 613 orang. Selain itu, sektor ini juga melibatkan tenaga lepas harian mencapai 2.456 orang.
Sebagian besar usaha budidaya perikanan di wilayah ini masih dilakukan secara tradisional. Pola budidaya tersebut umumnya bersifat polikultur dengan berbagai komoditas utama.
Komoditas yang dibudidayakan meliputi ikan bandeng, udang vaname, udang windu, ikan nila, dan ikan tawes. Diversifikasi komoditas ini memberikan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pesisir.
Meski masih bersifat tradisional, hasil produksi tambak di kawasan ini dinilai cukup kompetitif. Pemerintah melihat peluang besar untuk meningkatkan produktivitas melalui modernisasi teknologi dan penguatan kapasitas petani tambak.
Kampung Bandeng Pangkahwetan kini menjadi model pengembangan kawasan pesisir berbasis perikanan budidaya. Konsep ini diharapkan dapat direplikasi di daerah lain dengan karakteristik serupa.
Pengembangan kawasan terpadu tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Dengan demikian, nilai tambah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat dalam Ketahanan Pangan
Zulhas menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat sektor perikanan. Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan agar kawasan pesisir dapat berkembang secara optimal dan berkelanjutan.
Pemerintah pusat berkomitmen untuk memberikan dukungan kebijakan dan program yang mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya. Dukungan tersebut meliputi penguatan akses permodalan, teknologi, serta pasar.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan mampu memfasilitasi kebutuhan petani tambak di tingkat lapangan. Pendampingan teknis dan penguatan kelembagaan menjadi faktor penting dalam mendorong kemandirian pembudidaya.
Zulhas menilai bahwa sektor perikanan budidaya memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional. Produksi ikan yang stabil dapat membantu memenuhi kebutuhan protein masyarakat secara berkelanjutan.
Selain itu, sektor ini juga menjadi sumber lapangan kerja bagi masyarakat pesisir. Ribuan keluarga bergantung pada keberlangsungan usaha tambak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dengan penguatan sektor budidaya, diharapkan kesejahteraan masyarakat pesisir dapat meningkat secara signifikan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yang menempatkan ekonomi kerakyatan sebagai prioritas utama.
Dalam kunjungannya, Zulhas juga menyempatkan diri untuk berdialog langsung dengan para pembudidaya. Dialog tersebut menjadi sarana bagi pemerintah untuk mendengar aspirasi dan tantangan yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.
Para petambak menyampaikan berbagai masukan terkait kebutuhan sarana produksi, stabilitas harga, dan akses pasar. Pemerintah berkomitmen untuk menindaklanjuti masukan tersebut melalui program dan kebijakan yang tepat sasaran.
Zulhas menilai bahwa pendekatan partisipatif sangat penting dalam pengembangan sektor perikanan. Keterlibatan langsung masyarakat menjadi kunci keberhasilan program pembangunan di wilayah pesisir.
Dampak Ekonomi dan Harapan ke Depan
Kegiatan panen bandeng di Kampung Bandeng Pangkahwetan tidak hanya menjadi simbol keberhasilan produksi. Momentum ini juga membawa harapan besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di Kabupaten Gresik.
Dengan produksi yang terus meningkat, perputaran ekonomi di kawasan pesisir diharapkan semakin kuat. Aktivitas budidaya, pengolahan, hingga pemasaran hasil perikanan dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal.
Bazar UMKM yang ditinjau Zulhas menjadi bukti bahwa sektor perikanan mampu mendorong tumbuhnya usaha kecil dan menengah. Produk olahan bandeng yang dipasarkan menunjukkan potensi besar dalam pengembangan industri hilir berbasis perikanan.
Penguatan sektor hilir dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk perikanan. Dengan pengolahan yang tepat, hasil tambak tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Pemerintah berharap masyarakat pesisir dapat semakin mandiri dan berdaya saing. Dukungan terhadap UMKM perikanan menjadi bagian dari strategi nasional dalam membangun ekonomi berbasis potensi lokal.
Zulhas juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan sektor perikanan. Pengelolaan tambak yang ramah lingkungan akan memastikan keberlangsungan produksi dalam jangka panjang.
Ia berharap Kampung Bandeng Pangkahwetan dapat menjadi contoh sukses pengembangan kawasan pesisir berbasis perikanan budidaya. Keberhasilan desa ini diharapkan dapat menginspirasi wilayah pesisir lainnya di Indonesia.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor perikanan budidaya diyakini mampu menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Potensi laut dan pesisir Indonesia yang besar menjadi modal utama dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Kunjungan Zulhas ke Gresik menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mendukung petani tambak dan masyarakat pesisir. Momentum ini diharapkan mampu mempercepat transformasi sektor perikanan menuju arah yang lebih maju dan berkelanjutan.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun sektor perikanan yang tangguh. Dengan kolaborasi yang kuat, potensi besar pesisir Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan bersama.