Rupiah Menguat di Awal Perdagangan Rabu di Tengah Tekanan Global dan Sentimen The Fed

Rabu, 28 Januari 2026 | 10:08:50 WIB
Rupiah Menguat di Awal Perdagangan Rabu di Tengah Tekanan Global dan Sentimen The Fed

JAKARTA - Pembukaan perdagangan hari ini menghadirkan sinyal positif bagi pasar keuangan domestik ketika rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut memberi optimisme awal di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Pergerakan ini langsung menarik perhatian pelaku pasar karena terjadi setelah beberapa hari volatilitas yang cukup tinggi.

Mengutip data Bloomberg, Rabu 28 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.41 WIB berada di level Rp16.736 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 32 poin atau setara 0,19 persen dari Rp16.768 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.796 per USD. Perbedaan data ini lazim terjadi karena metode perhitungan dan sumber yang digunakan masing-masing platform.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif. Meski demikian, rupiah diprediksi akan kembali melemah seiring perkembangan sentimen global.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.760 per USD hingga Rp16.790 per USD," jelas Ibrahim. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan di awal perdagangan belum tentu bertahan hingga penutupan pasar.

Pelaku pasar menilai bahwa pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar valuta asing.

Pasar Menanti Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed

Menurut Ibrahim, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang kini tengah berfokus terhadap pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve. Pertemuan tersebut dijadwalkan berakhir pada Rabu dengan pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya.

Kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang memengaruhi arus modal global. Setiap perubahan arah kebijakan moneter AS berpotensi memicu pergeseran investasi dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Fed Jerome Powell juga menjadi sorotan pelaku pasar. Konflik tersebut telah menimbulkan kekhawatiran tentang independensi Fed dari campur tangan politik.

Ketegangan antara pemerintah AS dan otoritas moneter dinilai dapat memengaruhi persepsi stabilitas kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Kondisi ini membuat investor cenderung bersikap lebih waspada terhadap aset berisiko.

Sebelumnya, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS kembali muncul setelah anggota Senat dari Partai Demokrat berjanji untuk memblokir RUU pendanaan besar. Langkah tersebut diambil menyusul penembakan yang terjadi di Minneapolis baru-baru ini.

Para anggota parlemen AS menghadapi tenggat waktu pada 30 Januari 2026 untuk menghindari shutdown pemerintahan. Situasi ini berpotensi menciptakan gejolak baru di pasar keuangan global.

Pasar prediksi Polymarket menunjukkan peluang penutupan melonjak tajam dari sekitar 8 persen pada Jumat menjadi hampir 78 persen pada Senin. Lonjakan probabilitas tersebut mempertegas meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal AS.

Selain itu, penarikan kembali ancaman tarif perdagangan terhadap banyak negara di Eropa oleh Presiden AS pekan lalu turut menjadi perhatian pasar. Langkah tersebut terjadi setelah AS menguasai Greenland dan memperoleh pengaruh strategis di kawasan Arktik.

Meski demikian, Trump tetap mengancam akan memberlakukan tarif perdagangan terhadap beberapa sekutu AS. Salah satu ancaman tersebut adalah embargo perdagangan efektif terhadap Kanada.

Presiden AS juga menolak potensi perdagangan antara Kanada dan Tiongkok. Ia bahkan mengancam akan memberlakukan tarif 100 persen terhadap Ottawa.

Pada Senin malam, Trump mengatakan akan menaikkan tarif perdagangan terhadap barang-barang Korea Selatan menjadi 25 persen. Alasan yang dikemukakan adalah Seoul menunda pemberlakuan kesepakatan perdagangan baru-baru ini.

"Pasar tetap waspada terhadap langkah-langkah lebih lanjut dari Trump," papar Ibrahim. Ia menambahkan bahwa ketegangan geopolitik yang meningkat di Iran dan Timur Tengah, seiring kedatangan kapal-kapal AS di wilayah tersebut, juga membuat pasar tetap waspada.

Kondisi geopolitik yang memanas ini memicu peningkatan permintaan terhadap aset safe haven. Namun, pada saat yang sama, volatilitas di pasar global membuat pergerakan mata uang negara berkembang menjadi tidak stabil.

Rupiah sebagai salah satu mata uang di kawasan Asia turut merasakan dampak sentimen tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa meski menguat di awal perdagangan, rupiah diperkirakan tetap bergerak fluktuatif hingga akhir sesi.

Tantangan Pembiayaan Utang Pemerintah di Tahun 2026

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia diprediksi akan menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan utang pada 2026. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi stabilitas fiskal dan persepsi investor terhadap ekonomi nasional.

Meski target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026 tercatat sebesar Rp832,21 triliun, kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar. Total kebutuhan tersebut bahkan mencapai Rp1.650 triliun.

"Angka tersebut meliputi kebutuhan untuk menutup defisit anggaran dan, yang lebih signifikan, untuk melunasi pokok utang lama yang jatuh tempo pada tahun berjalan," papar Ibrahim. Pernyataan ini menegaskan bahwa tekanan pembiayaan tidak hanya berasal dari defisit, tetapi juga dari kewajiban utang sebelumnya.

Risiko utama yang mengemuka adalah risiko pembiayaan kembali atau refinancing risk. Risiko ini menguat seiring dengan memendeknya tren rata-rata jatuh tempo utang atau Average Time to Maturity (ATM).

ATM utang pemerintah tercatat turun dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi prakiraan 7,7 tahun pada 2026. Penurunan ini berarti pemerintah harus lebih sering melakukan penerbitan utang baru untuk menutup kewajiban lama.

"Artinya, risiko tidak dapat melakukan pembiayaan kembali atas utang yang jatuh tempo atau adanya potensi biaya utang yang tinggi pada saat refinancing," jelas dia. Kondisi ini berpotensi menekan ruang fiskal pemerintah di masa mendatang.

Sementara itu, pemerintah juga menghadapi risiko kekurangan atau shortage risk akibat ketidakpastian kondisi ekonomi makro. Ketidakpastian tersebut membuat investor, khususnya asing, bersikap sangat hati-hati dalam menempatkan dananya.

Ketergantungan pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen utama pun menghadapi tantangan kompleks. Investor asing dilaporkan masih berada dalam posisi wait and see terhadap perkembangan kebijakan fiskal Indonesia.

Sikap wait and see tersebut salah satunya dipengaruhi oleh persepsi bahwa kebijakan fiskal Indonesia dinilai kurang hati-hati. Hal ini membuat minat investor terhadap instrumen utang domestik cenderung belum pulih sepenuhnya.

Tekanan pembiayaan ini pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah. Ketika kebutuhan pembiayaan meningkat sementara minat investor melemah, potensi tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar.

Implikasi bagi Pasar dan Strategi Investor

Kondisi rupiah yang menguat di awal perdagangan memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar domestik. Namun, proyeksi fluktuatif hingga potensi pelemahan membuat investor tetap perlu waspada dalam mengambil keputusan.

Pelaku pasar valuta asing biasanya mencermati perkembangan kebijakan moneter AS sebagai faktor utama. Selain itu, isu geopolitik dan dinamika fiskal domestik turut menjadi pertimbangan penting.

Penguatan rupiah pada pagi hari juga mencerminkan respons sementara pasar terhadap sentimen global yang berkembang. Namun, sentimen tersebut dapat berubah dengan cepat seiring munculnya berita atau kebijakan baru.

Dalam situasi seperti ini, investor disarankan untuk menerapkan strategi manajemen risiko yang lebih ketat. Diversifikasi portofolio dan pemantauan pasar secara berkala menjadi langkah penting untuk mengantisipasi volatilitas.

Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing, pergerakan rupiah ini menjadi sinyal untuk mengevaluasi strategi lindung nilai. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi dampak fluktuasi kurs terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Sementara bagi masyarakat umum, penguatan rupiah dapat memberikan dampak positif terhadap harga barang impor. Namun, volatilitas yang tinggi tetap membuat perencanaan keuangan jangka panjang perlu dilakukan dengan hati-hati.

Pemerintah diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi makro melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi. Upaya tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor serta mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Dengan berbagai tantangan global dan domestik yang masih membayangi, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan tetap dinamis. Pasar akan terus mencermati perkembangan kebijakan The Fed, geopolitik internasional, serta kondisi fiskal dalam negeri.

Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif sebagaimana diproyeksikan analis. Namun, stabilitas jangka menengah tetap bergantung pada keberhasilan pemerintah menjaga fundamental ekonomi nasional.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan rupiah di awal perdagangan hari ini bukanlah akhir dari dinamika pasar. Sebaliknya, pergerakan tersebut menjadi bagian dari proses penyesuaian yang terus berlangsung di tengah ketidakpastian global.

Dengan memahami berbagai faktor yang memengaruhi nilai tukar, pelaku pasar dan masyarakat dapat lebih bijak dalam merespons perubahan. Rupiah yang bergerak dinamis menjadi cerminan keterkaitan erat antara ekonomi domestik dan global.

Terkini