Bank Indonesia Perkuat Produksi Pangan di Bali Nusra untuk Inflasi

Bank Indonesia Perkuat Produksi Pangan di Bali Nusra untuk Inflasi
BI dan Pemerintah Genjot Produksi Pangan Bali Nusra Demi Inflasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Bank Indonesia bersinergi bersama jajaran Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, serta berbagai unsur pemangku kepentingan terkait secara proaktif memperkuat sektor produksi pertanian di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Langkah strategis ini ditempuh guna meredam laju inflasi yang hingga kini masih kerap didorong oleh tekanan dari komoditas sektor pangan.

Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Regional Bank Indonesia, Rudy B. Hutabarat, menguraikan bahwasanya lewat pelaksanaan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk Wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra), pihaknya berupaya menjawab tantangan perwujudan ketahanan pangan yang kian rumit, sehingga kerangka upaya pengendalian inflasi pangan wajib diperkokoh secara semakin terpadu serta berkesinambungan.

Melalui payung program GPIPS tersebut, rancangan agenda pengendalian inflasi pangan disusun selaras serasi bersama deretan program prioritas nasional demi mencapai kemandirian ketahanan pangan, energi, serta finansial. 

Sebagai komponen perwujudan dari implementasi skala GPIPS Nasional, perhelatan GPIPS Balinusra mempertajam unsur sinergi pengendalian inflasi beserta ketahanan pangan lewat beragam program spesifik yang dirancang adaptif mengikuti karakteristik unik wilayah Balinusra.

Berdasarkan pemaparannya, terdapat lima poin esensial menyangkut arah implementasi GPIPS Balinusra 2026. Pertama, gerakan GPIPS dieksekusi melalui jalinan kolaborasi strategis antara Bank Indonesia, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, serta para pemangku kepentingan lewat penerapan kerangka strategi 4K, yang meliputi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, serta Komunikasi Efektif, guna menjamin stabilitas inflasi sekaligus menopang pilar ketahanan pangan nasional.

"Kedua, pengendalian inflasi di wilayah Balinusra menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring karakteristik wilayah kepulauan, meningkatnya risiko perubahan iklim dan cuaca ekstrem, serta dinamika global yang memengaruhi produksi dan distribusi pangan," jelas Rudy dikutip dari siaran pers, Rabu (29/7/2026).

Ketiga, demi menjawab berbagai tantangan pelik tersebut, fokus arah implementasi GPIPS Balinusra diarahkan pada eskalasi produktivitas sektor pangan, modernisasi praktik pertanian, perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta peningkatan derajat efisiensi pada rantai pasok komoditas pangan.

Bank Indonesia secara aktif mendorong adopsi replikasi sistem Subak di wilayah Bali sebagai model tata kelola irigasi serta manajemen produksi mumpuni yang sanggup menyelaraskan kebutuhan pasokan air dengan pola musim tanam, sekaligus memfasilitasi sinkronisasi antara daerah yang mengalami surplus dengan wilayah yang defisit pangan.

Keempat, pihak Bank Indonesia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh kawasan Balinusra atas dedikasi komitmen, terobosan inovasi, serta kolaborasi solid yang telah terjalin dalam mengelola laju inflasi.

Berbagai kisah keberhasilan (success story) seperti pengembangan model pertanian modern yang terintegrasi, penyelenggaraan pasar murah berkonsep 3T lewat kerja sama bersama pihak Perumda, gerakan masif penanaman cabai, hingga ragam inovasi stabilisasi harga di tingkat lokal menjelma menjadi teladan keberhasilan yang sangat layak untuk direplikasi, sekaligus sukses mengantar kawasan Balinusra meraih aneka pencapaian gemilang dalam bidang pengendalian inflasi.

"Ke depan, implementasi GPIPS akan terus diperkuat melalui sinergi dan kolaborasi yang semakin erat untuk membangun ekosistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan daerah, menjaga stabilitas harga, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif," kata Rudy.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index