Minuman Mengganggu Kesehatan Usus

Bukan Cuma Makanan, Ini Daftar Minuman yang Diam-diam Mengganggu Kesehatan Usus

Bukan Cuma Makanan, Ini Daftar Minuman yang Diam-diam Mengganggu Kesehatan Usus
Bukan Cuma Makanan, Ini Daftar Minuman yang Diam-diam Mengganggu Kesehatan Usus

JAKARTA - Banyak orang fokus memilih makanan sehat demi menjaga pencernaan, tetapi lupa bahwa apa yang diminum setiap hari juga punya dampak besar. Padahal, kebiasaan minum tertentu bisa menentukan apakah usus tetap seimbang atau justru mudah bermasalah.

Selama ini makanan ramah usus seperti roti sourdough, kimchi, atau kombucha kerap dipuja karena manfaatnya bagi pencernaan, imunitas, hingga kesehatan secara keseluruhan. Namun para ahli mengingatkan ada satu faktor penting yang sering luput dari perhatian terkait apa yang kita minum setiap hari.

Menurut sejumlah pakar nutrisi, pilihan minuman bisa menjadi penentu apakah kesehatan usus terjaga atau justru terganggu. Beberapa minuman memang membantu menjaga keseimbangan mikrobioma usus, tetapi tak sedikit pula yang diam-diam memicu kembung, rasa tidak nyaman, kelelahan, hingga masalah kesehatan jangka panjang.

Ahli gizi dan penulis The Fibre Formula, Rhiannon Lambert, menegaskan bahwa dampak minuman terhadap usus sering kali diremehkan. Ia mengatakan banyak orang mengira masalah pencernaan hanya berasal dari makanan, padahal minuman punya kontribusi yang sama besar.

“Mikrobioma usus dipengaruhi banyak faktor, termasuk minuman. Ada bukti ilmiah bahwa konsumsi minuman tertentu secara berlebihan atau terlalu sering dapat berdampak negatif bagi kesehatan usus,” ujarnya melansir Daily Mail. Pernyataan ini mempertegas bahwa minuman bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor utama dalam kesehatan pencernaan.

Usus manusia adalah rumah bagi triliunan mikroorganisme bakteri, virus, hingga jamur yang dikenal sebagai mikrobioma usus. Mikroba ini berperan penting dalam memecah makanan, menjaga lapisan usus, serta menghasilkan senyawa yang memengaruhi pencernaan, metabolisme, peradangan, dan sistem imun.

Ketika keseimbangan mikrobioma terjaga, bakteri baik akan menekan pertumbuhan mikroba merugikan. Namun saat keseimbangan ini terganggu kondisi yang disebut disbiosis berbagai keluhan bisa muncul, mulai dari kembung dan gangguan buang air besar hingga peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Para ahli nutrisi menyoroti sejumlah minuman populer yang kerap dianggap aman, padahal bisa berdampak kurang baik bagi pencernaan jika dikonsumsi rutin. Bahkan minuman yang diklaim menyehatkan pun bisa menjadi masalah jika tidak sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.

Kesadaran akan peran minuman ini menjadi penting karena banyak orang tidak menyadari sumber gangguan pencernaan berasal dari kebiasaan minum sehari-hari. Dengan memahami jenis minuman yang perlu diwaspadai, masyarakat dapat mengambil langkah sederhana untuk menjaga kesehatan usus jangka panjang.

Minuman Kekinian yang Ternyata Tidak Ramah Usus

Juice shot kekinian

Sering dipasarkan sebagai “gut shot”, minuman ini justru dinilai kurang ramah bagi sebagian orang. Kandungan gula yang sangat terkonsentrasi, minim serat, dan sifatnya yang asam dapat memicu iritasi lambung, refluks, hingga mual terutama jika diminum saat perut kosong.

Minuman ini memang tampak praktis dan menjanjikan manfaat instan. Namun tanpa serat yang cukup, lonjakan gula darah dapat terjadi dan memperburuk kondisi pencernaan sensitif.

Susu oat kemasan

Susu oat bukan musuh utama kesehatan, tetapi versi komersial terutama varian “barista” kerap mengandung minyak tambahan, pengental, dan emulsifier. Bahan-bahan ini berpotensi mengiritasi sistem pencernaan sensitif dan bahkan sedang diteliti karena diduga dapat mengganggu lapisan pelindung usus.

Banyak orang beralih ke susu nabati karena dianggap lebih ringan bagi tubuh. Namun, kandungan tambahan dalam produk kemasan justru bisa memicu keluhan pencernaan tertentu.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya membaca label dan memahami komposisi produk. Tidak semua minuman nabati otomatis lebih sehat bagi sistem pencernaan.

Kopi tanpa saring

Kopi jenis French press atau kopi Turki mengandung senyawa yang dapat meningkatkan asam lambung dan mempercepat kerja usus. Bagi sebagian orang ini membantu, tetapi bagi penderita maag, refluks, atau IBS, efeknya justru bisa memperparah gejala.

Kopi memang menjadi minuman favorit banyak orang di pagi hari. Namun, jenis kopi tertentu bisa memicu iritasi lambung jika dikonsumsi berlebihan atau tanpa pendamping makanan.

Selain itu, keasaman kopi juga dapat memperburuk kondisi pencernaan sensitif. Karena itu, memilih metode seduh dan takaran yang tepat menjadi penting.

Minuman bersoda “diet” atau nol gula

Meski bebas gula, pemanis buatan seperti aspartam, sucralose, dan sakarin menunjukkan hasil penelitian yang beragam. Pada sebagian orang, zat ini dapat mengubah komposisi bakteri usus dan memicu kembung atau gangguan pencernaan jika dikonsumsi rutin.

Minuman diet sering dianggap aman karena rendah kalori. Namun, efek jangka panjang pemanis buatan terhadap mikrobioma masih terus diteliti.

Bagi individu dengan pencernaan sensitif, konsumsi minuman ini bisa memicu ketidaknyamanan. Oleh sebab itu, konsumsi sebaiknya dibatasi dan tidak dijadikan kebiasaan harian.

Alkohol dan Minuman Tinggi Gula Jadi Pemicu Masalah Usus

Bir dan lager

Alkohol sudah lama dikenal sebagai perusak keseimbangan usus. Bir dan lager memperparah kondisi karena menggabungkan alkohol, karbonasi, dan karbohidrat fermentatif, kombinasi yang mudah memicu kembung dan peradangan.

Konsumsi alkohol dapat merusak lapisan pelindung usus. Akibatnya, bakteri berbahaya lebih mudah masuk ke aliran darah dan memicu peradangan.

Meski tidak dilarang sepenuhnya, alkohol sebaiknya dikonsumsi dengan bijak. Pembatasan jumlah dan frekuensi menjadi kunci untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Minuman manis bergula

Minuman ringan bergula dapat menurunkan keragaman bakteri baik dalam usus. Konsumsi rutin dikaitkan dengan peningkatan peradangan dan gangguan metabolik, tanpa memberi manfaat nutrisi berarti.

Minuman jenis ini sering dikonsumsi tanpa disadari dalam jumlah besar. Padahal, kandungan gulanya dapat mempercepat pertumbuhan bakteri merugikan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Oleh sebab itu, mengganti minuman manis dengan air putih atau teh tanpa gula menjadi pilihan lebih sehat.

Minuman energi

Perpaduan kafein tinggi, pemanis, keasaman, dan berbagai aditif membuat minuman energi disebut sebagai “badai sempurna” bagi masalah pencernaan. Efeknya bisa berupa diare, kram, refluks, hingga perut kembung.

Minuman ini sering digunakan untuk meningkatkan stamina secara instan. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap usus dapat merugikan jika dikonsumsi rutin.

Kandungan stimulan yang tinggi juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap gangguan pencernaan.

Protein shake olahan

Tak sedikit protein shake mengandung pemanis buatan, alkohol gula, dan pengental yang sulit dicerna. Pada orang dengan intoleransi laktosa, whey protein juga bisa memicu kembung dan gangguan usus.

Protein shake sering dikonsumsi sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Namun, bahan tambahan dalam produk olahan dapat memicu reaksi negatif pada pencernaan.

Bagi mereka yang sensitif terhadap laktosa atau pemanis buatan, minuman ini sebaiknya dikonsumsi dengan hati-hati. Alternatif protein alami dari makanan utuh bisa menjadi pilihan lebih aman.

Pilihan Minuman yang Lebih Bersahabat bagi Usus

Terapis nutrisi menekankan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada tren. Artinya, kebiasaan minum sehat yang dilakukan setiap hari jauh lebih berdampak dibandingkan mengikuti minuman viral sesekali.

Air putih, teh herbal, teh hijau ringan, serta minuman fermentasi seperti kefir dan kombucha (dengan gula minimal) dinilai sebagai pilihan paling aman. Minuman-minuman ini cenderung rendah aditif dan mudah dicerna oleh tubuh.

“Minuman terbaik untuk usus sering kali justru yang paling sederhana. Rendah aditif, rendah pemanis, dan mudah dicerna adalah kuncinya," kata Hanieh Vidmar. Pernyataan ini menegaskan bahwa kesederhanaan sering kali menjadi solusi terbaik bagi kesehatan pencernaan.

Minuman fermentasi memang mengandung bakteri baik yang mendukung mikrobioma usus. Namun, kadar gula dalam produk tersebut tetap perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan efek sebaliknya.

Teh herbal seperti chamomile atau peppermint juga dikenal membantu meredakan gangguan pencernaan ringan. Kandungan alaminya mendukung relaksasi sistem pencernaan.

Air putih tetap menjadi minuman utama yang paling direkomendasikan. Selain menjaga hidrasi, air membantu proses metabolisme dan pembuangan zat sisa dari tubuh.

Para ahli sepakat, usus akan lebih “bahagia” dengan pola minum yang seimbang cukup cairan, gula tambahan minimal, alkohol terbatas, serta fokus pada makanan dan minuman utuh bukan sekadar mengandalkan minuman fungsional. Pola ini membantu menjaga keseimbangan mikrobioma dalam jangka panjang.

Kesehatan usus yang baik berdampak pada banyak aspek tubuh. Mulai dari sistem imun yang lebih kuat hingga kestabilan suasana hati dan energi harian.

Kesadaran akan pentingnya minuman bagi usus juga membantu mencegah gangguan pencernaan kronis. Langkah kecil seperti mengganti soda dengan air putih bisa membawa perubahan besar.

Sesekali menikmati soda atau segelas alkohol tentu tidak langsung merusak kesehatan. Namun jika ingin usus bekerja optimal, apa yang Anda minum setiap hari ternyata sama pentingnya dengan apa yang Anda makan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index