Film Kuyank

Film Kuyank Angkat Budaya Banjar Lewat Horor Lokal yang Autentik dan Membanggakan

Film Kuyank Angkat Budaya Banjar Lewat Horor Lokal yang Autentik dan Membanggakan
Film Kuyank Angkat Budaya Banjar Lewat Horor Lokal yang Autentik dan Membanggakan

JAKARTA - Kehadiran film Kuyank menjadi angin segar bagi perfilman Indonesia yang terus mencari identitas melalui cerita-cerita lokal yang kuat. Film ini tidak hanya menawarkan hiburan horor, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Selatan kepada penonton nasional.

Lewat pendekatan cerita yang berakar pada kearifan lokal, Kuyank hadir sebagai karya yang berbeda dari film horor kebanyakan. Nuansa mistis dipadukan dengan unsur budaya Banjar yang terasa autentik dan dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Menghadirkan Horor Lokal dengan Sentuhan Budaya Banjar

Perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya yang mengangkat kearifan lokal Kalimantan Selatan melalui film Kuyank. Film ini disutradarai sekaligus diproduseri oleh Johansyah Jumberan di bawah rumah produksi DHF Entertainment, serta menjadi prekuel dari film Saranjana: Kota Gaib yang berlatar Kalimantan.

Naskah film Kuyank ditulis oleh Asaf Antariksa bersama Johansyah Jumberan, dengan jajaran produser Johansyah Jumberan dan Victor G. Pramusinto. Tak hanya menyajikan unsur horor dan mistis, film ini dinilai berhasil menampilkan kekayaan budaya Banjar secara kuat dan autentik.

Cerita dalam film Kuyank berakar dari legenda lokal yang telah lama dikenal masyarakat Kalimantan Selatan. Pengemasan kisah tersebut dilakukan dengan pendekatan visual yang modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang melekat pada masyarakat Banjar.

Keberanian tim produksi mengangkat cerita daerah ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperluas representasi budaya Indonesia di layar lebar. Film ini juga menjadi bukti bahwa kisah lokal mampu bersaing dan menarik perhatian penonton luas jika digarap dengan serius dan penuh riset.

Film Kuyank tidak sekadar menghadirkan ketegangan horor, tetapi juga memperlihatkan lanskap daerah, busana tradisional, serta kebiasaan masyarakat setempat. Unsur-unsur tersebut membuat film ini terasa lebih hidup dan tidak terlepas dari akar budaya tempat kisahnya berasal.

Pendekatan ini memberikan pengalaman menonton yang berbeda, karena penonton tidak hanya disuguhkan cerita seram, tetapi juga diajak mengenal kekayaan budaya Banjar secara visual. Hal ini menjadikan film Kuyank sebagai tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga edukatif.

Tanggapan Penonton tentang Representasi Budaya Lokal

Salah seorang penonton yang merupakan warga asal Banjarmasin, Aqila mengaku bangga dengan kehadiran film Kuyank yang menonjolkan identitas lokal Kalimantan Selatan. Ia merasa film ini mampu menampilkan daerah asalnya secara jujur dan penuh penghargaan.

“Saya sangat bangga dengan film Kuyank ini karena benar-benar mengangkat kebudayaan Kalimantan Selatan. Beberapa daerah diliput, termasuk Banjarmasin. Yang ditampilkan bukan hanya cerita, tetapi juga pakaian tradisional, kebiasaan, dan budaya orang Banjar yang sangat menonjol,” ujarnya saat diwawancarai, Senin, 2 Februari 2026.

Aqila menilai film ini menjadi bukti bahwa industri perfilman Indonesia mulai memberi ruang lebih luas bagi budaya daerah, khususnya Banjar, untuk dikenal masyarakat nasional. Ia melihat hal ini sebagai peluang besar agar budaya lokal tidak hanya dikenal di daerah asal, tetapi juga di seluruh Indonesia.

“Saya sangat senang karena sekarang perfilman Indonesia mulai mengenalkan suku Banjar dan budaya Kalimantan Selatan. Mudah-mudahan ke depan akan semakin banyak film daerah Banjar yang diangkat dengan berbagai tradisi dan cerita lainnya,” tambahnya.

Menurut Aqila, keberanian mengangkat budaya lokal seperti ini patut diapresiasi karena dapat menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap identitas daerahnya. Ia berharap film semacam ini tidak berhenti pada satu judul saja, tetapi menjadi awal dari lahirnya lebih banyak karya serupa.

Respons positif dari penonton seperti Aqila menunjukkan bahwa film dengan muatan budaya lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Hal ini juga menjadi bukti bahwa penonton Indonesia tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga cerita yang memiliki kedekatan emosional dan identitas kuat.

Film Kuyank pun dinilai mampu menjembatani antara hiburan dan pelestarian budaya melalui media populer. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana pengenalan budaya Banjar kepada publik yang lebih luas.

Unsur Hiburan dan Cerita yang Lebih Ringan

Hal senada disampaikan Nafarin, warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ia menilai Kuyank tidak hanya menonjolkan sisi horor, tetapi juga menyuguhkan hiburan yang ringan dan menghibur.

“Saya antusia menonton film Kuyank karena ternyata tidak hanya menampilkan horor atau mistisnya saja. Cerita kuyang memang berasal dari kisah nyata di Kalimantan Selatan, tetapi di film ini juga banyak unsur lucu, kocak, dan seru,” katanya.

Menurut Nafarin, kehadiran unsur komedi ringan dalam film ini membuat ceritanya terasa lebih seimbang dan mudah dinikmati berbagai kalangan. Penonton tidak hanya dibuat tegang, tetapi juga diajak tertawa dan merasa dekat dengan karakter yang ditampilkan.

Pendekatan tersebut dianggap berhasil menciptakan pengalaman menonton yang lebih menyenangkan dan tidak monoton. Film ini pun mampu menjangkau penonton yang mungkin tidak terlalu menyukai horor murni, tetapi tetap tertarik pada cerita yang menghibur.

Nafarin juga menyoroti bagaimana film ini tetap menghormati akar cerita lokal meski dikemas secara modern. Menurutnya, keseimbangan antara unsur tradisional dan gaya penceritaan masa kini menjadi kekuatan utama film Kuyank.

Ia menambahkan bahwa film ini tidak hanya cocok ditonton oleh masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi juga relevan bagi penonton dari daerah lain. Cerita yang diangkat memiliki nilai universal tentang keberanian, kebersamaan, dan menghadapi ketakutan.

Dengan demikian, film Kuyank dinilai berhasil menghadirkan horor lokal yang tidak hanya mengandalkan ketegangan, tetapi juga emosi dan kedekatan budaya. Hal ini menjadikannya sebagai tontonan yang lebih kaya dibanding film horor konvensional.

Antusiasme Tinggi dan Harapan ke Depan

Menurut Nafarin, antusiasme masyarakat terhadap film bertema Banjar sangat tinggi, bahkan tiket kerap habis dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan bahwa cerita lokal memiliki daya tarik besar jika dikemas dengan baik.

“Harapan saya ke depan, kalau ada film baru yang mengangkat daerah Banjar, jangan sampai kehabisan tiket lagi, karena beberapa hari ini selalu penuh,” ucapnya.

Antusiasme tersebut mencerminkan adanya kerinduan masyarakat terhadap cerita yang merepresentasikan identitas mereka sendiri. Film Kuyank pun dianggap sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut dengan menghadirkan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar.

Keberhasilan film ini juga membuka peluang bagi sineas daerah untuk lebih berani mengangkat cerita-cerita lokal lainnya. Hal ini diharapkan dapat memperkaya khazanah perfilman nasional dengan keberagaman budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Film Kuyank pun dinilai menjadi langkah positif dalam pelestarian budaya Banjar melalui media perfilman. Melalui cerita, visual, dan karakter yang ditampilkan, film ini membantu menjaga agar tradisi dan identitas lokal tetap dikenal generasi muda.

Selain itu, film ini juga membuka ruang dialog antara budaya lokal dan penonton nasional. Dengan demikian, masyarakat dari berbagai daerah dapat saling mengenal dan menghargai kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia.

Keberhasilan Kuyank diharapkan dapat mendorong rumah produksi lain untuk lebih berani mengeksplorasi cerita daerah. Langkah ini diyakini mampu memperluas ragam genre dan tema yang hadir di layar lebar Tanah Air.

Melalui pendekatan yang menggabungkan hiburan, horor, dan budaya, film Kuyank menunjukkan bahwa cerita lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di industri perfilman nasional. Film ini juga menjadi contoh bahwa kearifan lokal dapat diolah menjadi karya populer tanpa kehilangan jati diri.

Dengan dukungan penonton yang tinggi dan respons positif dari masyarakat setempat, film ini menjadi bukti bahwa budaya Banjar memiliki daya tarik kuat di layar lebar. Harapannya, ke depan semakin banyak karya yang mengangkat kekayaan daerah lain dengan cara yang kreatif dan bermakna.

Film Kuyank akhirnya tidak hanya menjadi tontonan semata, tetapi juga simbol kebanggaan budaya Kalimantan Selatan di dunia perfilman Indonesia. Kehadirannya menegaskan bahwa cerita lokal mampu bersuara lantang di tengah arus perfilman modern yang semakin beragam.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index